
Jennie berontak dari tangan Annabelle yang mendorongnya untuk keluar dari kamar pasien tersebut, dia berteriak memanggil nama Damian dan tetap menjerit mengatakan masih mencintai Damian.
Plakk!!
Annabelle menampar wajah Jennie.
Jennie terkejut mendapat tamparan dari Annabelle, dia meringis memegang pipinya yang panas akibat tamparan Annabelle.
"Putraku sudah menikah, kau hanyalah masa lalu dan cinta satu malam putraku! jangan mengganggu rumah tangganya, kau hanya wanita matre yang gila harta, jangan pernah muncul dihadapannya lagi, pergi!!" teriak Annabelle jadi ikut emosi karena jeritan wanita tersebut yang mengatakan masih mencintai Damian.
"Aku benar-benar mencintai putra Tante! aku bukan wanita matre, Damian sangat menyayangiku, dia tidak mungkin mencintai gadis itu! gadis seperti itu bukan tipe Damian, akulah wanita idaman Damian, aku ingat kalau gadis itu adalah seorang pembantu di rumah Damian, dia bukan istri Damian!" jerit Jennie tidak terima dicampakkan oleh Damian.
"Seret dia keluar!!" teriak Annabelle pada petugas keamanan yang datang tergesa-gesa untuk membawa wanita bernama Jennie tersebut.
"Tidak! aku tidak mau!" jerit Jennie berontak, "Damian...Damian tolong aku..Damian!"
Petugas dengan paksa menarik Jennie pergi dari sana.
__ADS_1
Annabelle menutup pintu dengan keras, lalu bergegas menghampiri Damian ditempat tidur pasien.
Annabelle meraih bantal, lalu memukulkan nya ke badan Damian dengan wajah yang marah.
"Kau memang putraku yang tidak berguna! sungguh menjijikkan! kau telah membuat semua wanita-wanita mu itu tidak bisa meninggalkanmu, kau harus bertanggungjawab atas semua perbuatanmu!" teriak Annabelle kalap sambil terus memukul Damian.
Damian menahan pukulan yang diberikan Ibunya tersebut dengan tangan kirinya.
"Aku memang salah Ma, aku akan umumkan pernikahanku agar semua orang tahu, mereka itu hanyalah main-main saja, sedikitpun aku tidak ada menaruh rasa suka pada mereka!" sahut Damian, masih terus menahan pukulan bantal yang dihantam kan Annabelle ke tubuh Damian.
"Memalukan! sungguh bikin malu, aku tidak tahu kau dapat sifat dari siapa! Papa mu tidak punya sifat sepertimu yang suka bermain perempuan!" teriak Annabelle.
Annabelle meletakkan tubuhnya di sofa, dia harus menenangkan diri, dia sangat capek.
Leticia menuangkan air minum kedalam gelas, lalu memberikannya pada Annabelle.
Annabelle menerima gelas yang diberikan Leticia, dan meminumnya perlahan.
__ADS_1
Leticia mengambil kembali gelas yang telah kosong tersebut dari tangan Annabelle.
"Leticia, kau ikut Mama saja pulang, tinggal dengan Mama, biarkan Damian sendiri untuk merenungi masalahnya dan menyelesaikan masalahnya dengan para wanita-wanitanya itu!" kata Annabelle memegang tangan Leticia yang akan beranjak dari depannya membawa gelas kosong.
"Mama!!" teriak Damian.
"Kenapa? kau tidak senang? urus dulu para wanita itu kau harus bicara dengan mereka satu persatu, katakan kalau...."
" Tidak!" teriak Damian memotong perkataan Ibunya, dia dengan langkah panjang mendekati Leticia, dan menarik Leticia kedalam pelukannya.
"Aku tidak akan menemui mereka satu persatu, aku tidak ingin bertemu dengan mereka lagi, itu akan membuat mereka semakin menempel padaku, dalam beberapa hari nanti aku akan adakan resepsi pernikahanku, dan mengumumkan pernikahanku kesemua orang!" ujar Damian dengan penuh keyakinan pada Ibunya.
"Baiklah kalau memang begitu rencanamu, bagus!" kata Annabelle merasa puas.
"Tunggu!" sahut Leticia tiba-tiba.
Damian dan Annabelle spontan memandang Leticia.
__ADS_1
"Apakah aku hanya pajangan disini? apakah Tuan tidak menanyakan pendapatku? aku juga ikut terlibat dalam rumah tangga ini, apakah Tuan tidak perduli dengan perasaanku?" tanya Leticia, suaranya terdengar sangat dingin dan datar.
Bersambung.....