Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya

Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya
Part 111.


__ADS_3

Damian dengan lembut meletakkan Letisia berdiri didepan cermin wastafel.


Mereka kemudian sikat gigi bersama.


Sebelumnya Letisia sudah menaruh sepasang sikat gigi dimeja wastafel, dan juga beberapa handuk berpasangan dilemari handuk.


Mulai hari ini mereka akan memulai kehidupan mereka sebagai suami-istri yang sesungguhnya, setelah badai berlalu karena dilema kesalah pahaman yang menjadi duri dalam kehidupan rumah tangga mereka.


Cinta yang akhirnya datang belakangan, pasti akan membuat mereka lebih kuat lagi menghadapi biduk rumah tangga mereka.


Mereka saling tersenyum memandang satu sama lain didalam cermin sambil menyikat gigi.


Dan, kemudian berkumur bersamaan.


Meletakkan sikat gigi di satu wadah yang sama dimeja wastafel.


"Apakah Nyonya Jhonson sekarang sudah bersedia membantuku untuk bercukur?" tanya Damian mengerling Letisia melalui cermin.


Letisia terkikik geli melihat kerlingan Damian, dia merasa Damian sangat imut dengan tingkahnya itu.


"Iya!" kata Letisia mengangguk.


"Baiklah..mari kita mulai bercukur!" Damian meletakkan handuk diatas meja wastafel.


Lalu mengangkat tubuh istrinya untuk didudukkan diatas handuk yang dia taruh dimeja wastafel.


Damian memberikan alat cukur dan busa cukur kepada Letisia.


Dan, Letisia kemudian mulai mencukur brewok Damian.


Letisia mengeluarkan busa cukur dari tempatnya, lalu dengan lembut meratakan busa itu kewajah Damian yang ditumbuhi brewok.


Letisia mengambil alat cukur, dan dengan lembut mulai mencukur brewok Damian.


Mata Damian tidak pernah berpaling menatap mata indah Letisia yang begitu fokus mencukur rambut halus diwajahnya.


Tangan kecil Letisia begitu hati-hati meraba dan mencukur brewoknya, sungguh menggemaskan melihatnya yang begitu hati-hati agar kulitnya tidak tergores.


Tangan Damian perlahan mengelus pipi Letisia, dia sungguh tidak percaya melihat sosok Letisia yang duduk didepannya mencukur brewoknya.

__ADS_1


Gadis muda yang memiliki usia jauh berbeda dengannya adalah istrinya, tiga belas tahun perbedaan yang sangat jauh.


Saat dia berumur tiga belas tahun, istrinya baru lahir.


Damian tersenyum menatap Letisia, tangannya kembali membelai pipi Letisia dengan lembut.


Setelah setengah tahun pernikahan mereka, Damian baru sadar kalau jodoh dan cinta sejatinya adalah Letisia.


Tangan Letisia mengelus wajah Damian yang telah bersih dari brewok, setiap sudut rahang Damian dielusnya untuk memastikan tidak ada lagi rambut yang tertinggal.


Setelah memastikan tidak ada lagi, Letisia meletakkan pisau cukur ke wastafel untuk dibersihkan.


"Terimakasih sayang" ucap Damian lembut, lalu menarik tubuh istrinya itu semakin mendekat padanya.


Satu kecupan dibibir Letisia diberikan oleh Damian untuk ucapan terimakasih nya.


Letisia mengalungkan tangannya ke leher Damian, wajah mereka jadi sama tinggi karena Letisia duduk diatas meja wastafel.


"Iya sayangku" gumam Letisia sembari tersenyum manis.


"Apakah kau ingin pergi berbulan madu sayang?" tanya Damian.


"Tidak, bulan madu dirumah saja sudah cukup..aku belum terbiasa bepergian jauh" kata Letisia, lalu tangannya mengelus bahu suaminya yang lebar.


Setelah Letisia mengetahui isi hatinya telah jatuh cinta pada suaminya itu, rasa mengagumi pada tubuh suaminya tanpa sadar mulai ada didalam hati Letisia.


Dia mengagumi bentuk tubuh Damian yang kekar, dengan otot yang terlihat menonjol diperut rata suaminya itu.


Perasaan memiliki didasar hati Letisia begitu kuat ingin menyentuh tubuh Damian.


Perlahan tangan kecilnya mengelus dada kekar Damian, meraba otot yang menonjol disana.


Seperti inikah tubuh seorang pria yang rajin olahraga? pikir Letisia mulai mengamati keindahan tubuh suaminya yang maskulin.


Damian menatap mata istrinya yang mengagumi tubuhnya, senyuman senang tersungging disudut bibirnya.


Dia membiarkan istri kecilnya itu memuaskan rasa penasarannya akan bentuk tubuhnya.


Mereka sebenarnya sama-sama saling mengagumi.

__ADS_1


Mengagumi tubuh orang yang mereka cintai dengan sepenuh hati.


Damian memejamkan matanya menikmati jemari istri kecilnya yang menyentuh dadanya perlahan, merasakan tubuhnya yang liat.


Dan, jemari itu turun kebawah mengelus rusuknya dengan begitu tekanan yang begitu nyaman.


Lalu tangan kecil itu menyentuh perutnya yang berotot, merasakan jemari itu begitu lembut mengelus perutnya.


"Sayangku..berapa lama kau menghabiskan waktu berolahraga untuk membuat ini menjadi berotot seperti ini?" tanya Letisia dengan polosnya.


Senyuman Damian semakin merekah mendengar pertayaan istrinya itu, wajah Letisia yang bertanya terlihat sangat imut karena penasaran dengan bentuk tubuhnya.


"Aku melakukannya sesering mungkin" kata Damian lembut, lalu mengecup pipi istrinya itu.


"Kapan sayangku melakukan sesering mungkin, setiap hari aku lihat sayangku selalu sibuk mengikutiku terus!" kata Letisia menatap mata Damian.


"Di ruang bawah kan ada ruang Gym..apakah sayang lupa, kalau aku sering masuk kesana?" tanya Damian kembali pada Letisia.


Kening Letisia tampak berkerut mengingat ruang Gym yang dimaksud Damian.


Dia ingat memang pernah melihat Damian masuk ke sebuah ruangan di lantai bawah, tapi dia tidak pernah penasaran ruangan apa itu.


Karena dia tidak ada minat mengetahui apa yang dilakukan oleh Damian, karena selama ini dia tidak menyukai Damian.


Sekarang Letisia jadi menaruh minat apa yang dilakukan Damian, dia ingin juga masuk kedalam ruangan itu.


Melihat bagaimana caranya berolah raga.


"Apakah sayangku mau mengajakku untuk masuk ke sana sesekali?" tanya Letisia hati-hati.


"Tentu saja sayang..bukan sesekali..sering-sering juga tidak apa-apa, tapi kau tidak boleh melakukan olahraga yang berat-berat ya?" kata Damian mengusap rambut Letisia.


"Iya" angguk Letisia senang.


"Ayo kita mandi, hari sudah semakin siang..kita belum sarapan, aku tidak mau tubuhmu jadi sakit sayang!" kata Damian mengangkat tubuh istrinya untuk turun dari meja wastafel.


Damian membawa istrinya kebawah shower untuk mandi bersama.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2