
Letisia terbangun dari tidurnya saat dia merasa lehernya terasa begitu pegal, dan dia perlahan mengangkat kepalanya.
Mengucek matanya yang terasa buram karena baru bangun tidur, lalu melihat sekelilingnya.
Dia sedikit bingung merasa heran dia ada di mana ini, Letisia melihat Damian berbaring dengan perban membalut kepalanya dan juga tangannya.
Barulah Letisia tersadar kalau dia berada dirumah sakit, dan Damian mendapat kecelakaan.
Kembali Letisia merasa gelisah, Damian ternyata belum sadar juga.
Perlahan Letisia bangkit dari duduknya, memeriksa keadaan Damian yang belum sadar.
"Istirahatlah lagi, biar aku yang bantu jaga!" sebuah suara terdengar dibelakang Letisia.
Sontak Letisia membalikkan badannya, dan tampak Ibu Damian berdiri tidak jauh darinya.
Dan membuat Letisia tanpa sadar berlari ke arah Ibu Mertuanya tersebut, dan memeluknya dengan erat.
Dan air matanya kembali tumpah dengan derasnya, dia akhirnya bisa menumpahkan perasaan hatinya yang begitu sakit pada seseorang.
Karena dari tadi tidak ada tempat baginya untuk menumpahkan kesusahan hatinya.
Perasaan Letisia jadi berubah terhadap Damian, dia sangat takut kehilangan Damian.
Damian lah satu-satunya yang perduli padanya sekarang, dan Damian adalah suaminya.
Annabelle membalas pelukan Letisia dengan erat juga, mengusap punggung Letisia dengan lembut.
__ADS_1
"Mama mertuaa..huaaa!!" tangisan Letisia semakin meledak mendapat elusan Annabelle di punggungnya.
Akhirnya Letisia memanggil Ibu Damian dengan 'Mama mertua',
"Oh, Menantu ku!" Annabelle juga sangat senang akhirnya Letisia memanggilnya dengan sebutan 'Mama mertua'.
"Tuan Damian belum sadar, huaaa..aku takut dia tidak bangun lagi..huaaa!!" Letisia semakin menjerit menangis seperti anak kecil.
"Tenang saja, mungkin pengaruh obatnya belum hilang..dan mungkin benturan di kepalanya membuat dia lemah untuk bangun!" kata Annabelle mencoba menghibur sambil terus membelai punggung Letisia.
Akhirnya mereka duduk disofa menunggu Damian untuk sadar.
"Kau belum makan, ini makanlah..tadi aku beli dikantin rumah sakit sebelum datang kemari!" Annabelle memberikan satu bungkus makanan kepada Letisia.
"Terimakasih Mama mertua.." ucap Letisia menerima makanan yang diberikan oleh Annabelle.
"Terimakasih Mama mertua" ucap Letisia lagi.
"Tadi Jenson menelepon kalau Damian mendapat kecelakaan..jadi aku cepat-cepat datang kemari, dia sekarang masih menginterogasi penabrak Damian..katanya lelaki itu tidak mengakui sengaja menabrak Damian!" kata Annabelle.
"Aku sangat jelas melihat kalau motor itu melaju menabrak Tuan Damian, dia menambah kecepatannya saat melihat Tuan Damian!" kata Letisia menerangkan kejadian tadi sebagai saksi mata.
"Jenson pasti punya cara untuk membuat lelaki itu akan mengakui kesalahannya, tenang saja!" kata Annabelle menepuk bahu Letisia dengan lembut.
"Enggg..!" Tiba-tiba terdengar suara dari ranjang pasien.
Sontak Letisia dan Annabelle melihat ke tempat tidur pasien.
__ADS_1
Damian terlihat mulai sadar, dan tampak matanya mulai terbuka.
Damian kemudian memandang sekelilingnya, dia terlihat belum sadar betul.
"Sayang..!" tiba-tiba dia memanggil Letisia dengan suara yang terdengar cemas.
"Iya, aku disini Tuan!" Letisia dengan cepat bergegas dengan langkah setengah berlari menghampiri tempat tidur pasien.
Lalu meraih tangan Damian yang tidak diperban.
"Sayang..Letisia!" Damian menarik Letisia kedalam pelukannya.
"Iya Tuan!" jawab Letisia membalas pelukan Damian, dan kembali dia menangis histeris karena bahagia Damian akhirnya siuman juga.
"Jangan menangis sayang..aku disini tidak akan pergi!" kata Damian mengelus punggung Letisia.
"Putraku!" panggil Annabelle merasa bahagia juga, air matanya juga mulai mengalir terharu.
"Siapa dia sayang?!" tanya Damian tiba-tiba dengan suara yang terheran-heran melihat Ibunya Annabelle.
Letisia dan Annabelle membeku ditempatnya masing-masing, itu reaksi Damian yang membuat mereka berdua sangat terkejut.
Damian tidak mengenali Ibunya sendiri, ada apa ini?!
Letisia dan Annabelle memandang Damian tidak berkedip.
Bersambung.....
__ADS_1