
Janet menatap langit-langit kamar barunya, sekarang saat ini, dia berada dirumah Nyonya Besarnya.
Tidak tahu entah kenapa dia akhirnya mau juga pergi bersama Donald, dan tinggal untuk sementara bersama dengan Donald untuk saling mengenal satu sama lain.
Melihat wajah Donald yang begitu sedih, ada rasa tidak tega dihati Janet, dan dia pun setuju untuk ikut.
Janet masih ingat bagaimana senangnya Donald, saat ia mengatakan 'iya', aktor tersebut langsung memeluknya dengan gembira.
Janet tanpa sadar menyentuh bibirnya, ciuman pertamanya diambil paksa oleh Donald karena emosi.
Baru kali itu ia merasakan disentuh oleh seorang lelaki, rasanya Janet telah ditandai Donald sebagai miliknya.
Janet membalikkan badan, ia begitu sulit memejamkan matanya, merasa tidak percaya memikirkan bagaimana Donald berteriak didepan semua orang tadi, menyatakan perasaannya menyukai Janet.
Janet menarik selimut menutup tubuhnya sampai leher, lalu kembali memejamkan matanya.
Tok! tok! tok!
Janet samar-samar mendengar suara ketukan dipintu kamarnya, ia masih merasa begitu mengantuk.
Tubuh Janet terasa berat untuk bergerak, selimut ditariknya semakin menutup tubuhnya.
Perlahan pintu kamar terbuka, sepasang kaki melangkah masuk kedalam kamarnya. Dan berjalan menuju tempat tidur Janet.
__ADS_1
Donald tersenyum melihat Janet yang masih meringkuk dibawah selimut, perlahan tangannya menurunkan selimut yang hampir seluruhnya menutupi tubuh Janet sampai ke atas kepalanya.
Tampak wajah Janet tertidur pulas dengan sedikit bibir yang terbuka. Jemari telunjuk Donald menyentuh pipi Janet, mengelusnya dengan lembut.
Donald masih ingat dengan jelas pertama kali ia melihat Janet dirumah kakaknya Damian, dua tahun lalu.
Saat itu Donald datang ke Mansion Damian untuk menginap beberapa hari karena rumah mereka direnovasi.
Janet begitu ramah dengan senyumannya yang selalu tersungging dibibirnya.
Awalnya Donald tidak terlalu perduli dengan sikap Janet, yang menurutnya biasa-biasa saja.
Tapi seraya beberapa hari Donald tinggal dirumah Damian, ia merasa ada sesuatu yang lain padanya melihat Janet selalu bicara ramah dengan senyumannya yang manis.
Setelah Mansion mereka selesai direnovasi, dan kembali kerumah mereka, Donald selalu terbayang pada senyuman dan suara Janet yang merdu.
Donald selalu mencoba menghilangkan Janet dari otaknya, dan berupaya mengabaikan perasaannya yang menurutnya terlalu konyol, memikirkan seorang Pembantu.
Dan, Donald pikir dengan tidak pernah bertemu Janet, perasaannya yang tidak masuk akal akan hilang dengan sendirinya, tapi..ternyata dia salah besar.
Donald tidak bisa melupakan wajah, suara dan senyuman Janet yang manis. Semakin dia mencoba dekat dengan beberapa wanita, senyuman Janet semakin tidak bisa hilang dari memori otaknya.
Dan, sampai terakhir kali bertemu kembali lagi dengan Janet, saat menjemput Ibunya disalon.
__ADS_1
Jantung Donald mau copot melihat Janet ada disana, dan terlihat semakin cantik, dan senyumannya yang masih tetap sama seperti terakhir kali dia melihat senyum itu.
Saat tabrakan yang tidak sengaja terjadi diantara mereka, membuat Donald meledak tidak tahan lagi karena begitu merindukan senyuman Janet.
Amarahnya pun tidak bisa dia kendalikan karena kesal pada Janet yang sudah memporak-porandakan perasaannya, bayangan Janet tidak bisa hilang dari otaknya.
Dia seorang aktor tampan yang sudah mulai terkenal dan mempunyai fans yang banyak, bisa takluk dengan seorang Pembantu yang biasa-biasa saja.
Dan, satu lagi yang membuat Donald selalu marah pada Janet, gadis itu selalu cuek dan tidak tertarik dengan ketampanannya.
Jemari Donald mengelus rambut panjang Janet yang tergerai di bantal, helaian rambut Janet terasa lembut di tangannya.
Donald meletakkan bokongnya di tepi tempat tidur, lalu berbaring miring menghadap Janet yang terlihat begitu terlelap.
Satu tangannya menopang kepalanya agar bisa melihat wajah tidur Janet dengan leluasa, satu tangannya kembali mengelus pipi Janet dengan pelan dan lembut.
Ternyata belaian jemari Donald membuat Janet perlahan membuka matanya, dan tepat menatap mata Donald yang tengah menatapnya juga.
Mereka saling menatap tanpa berkedip. Sementara Janet belum terlalu fokus melihat objek didepan matanya.
"Sudah bangun?" tanya Donald dengan suara lembut menatap Janet yang masih belum sadar sepenuhnya.
Jemari Donald perlahan membelai kepala Janet dengan lembut.
__ADS_1
Bersambung.....