
Damian begitu semangat sepanjang perjalanan menuju Mansion, berbicara terus seraya mendekap Letisia duduk di pangkuannya.
Don dan Janet yang duduk didepan, senyum-senyum terus mendengar Tuan mereka yang tidak berhenti bicara seperti Ibu-ibu cerewet.
Letisia pening juga mendengar suaminya yang begitu berisik, tidak bisa diam bicara terus.
Letisia menutup mulut Damian dengan telapak tangannya, barulah Damian diam.
"Sayangku..aku pening, terlalu berisik, bicara terus..apa tidak capek!" kata Letisia.
Damian menarik tangan Letisia yang menutup mulutnya.
"Aku terlalu berisik ya?"
"Iya!" jawab Letisia dengan cepat.
"Baiklah, aku tidak bicara lagi..aku terlalu bersemangat, kau begitu menggemaskan sayang!" kata Damian mendekap tubuh Letisia dengan erat.
Letisia membalas dekapan suaminya, memeluk tubuh Damian dengan erat juga.
Mereka tampak begitu bahagia.
Mereka merasa kalau hubungan mereka dari hari ke hari terasa semakin harmonis saja.
Mobil perlahan berhenti didepan lobby pintu utama Mansion.
Letisia yang masih dipangkuan Damian, tidak di lepas Damian.
Damian perlahan turun dari mobil, setelah Don membuka pintu mobil untuk mereka berdua.
__ADS_1
Damian membopong Letisia masuk kedalam Mansion, dan Letisia tidak berkata apapun untuk menolak Damian.
Letisia mengalungkan tangannya ke leher Damian dengan erat, menikmati dirinya dimanjakan oleh suaminya.
Dengan langkah tenang, Damian membawa istrinya menuju lantai atas.
"Kita makan siang dulu sayangku..aku sudah mulai lapar", gumam Letisia diceruk leher Damian
"Oh..iya, ayo makan siang dulu, nanti tidak ada tenaga untuk memijat!" kata Damian tersenyum senang.
Damian memutar kembali tubuhnya, menuruni tangga menuju ruang makan.
Meletakkan Letisia dengan lembut duduk keatas kursi.
Bibi Lina melihat Tuannya yang begitu lembut pada istrinya, tersenyum senang.
Dia ikut merasa bahagia, melihat kedua majikannya itu terlihat begitu harmonis dan mesra.
"Makan yang banyak sayang, tubuhmu terlalu kurus!" Damian meletakkan lauk kedalam piring Letisia.
Makan siang terasa menyenangkan, karena mereka saling memberikan makanan.
Damian tersenyum diberikan Letisia sayur, dan Letisia tersenyum diberikan Damian lauk kedalam piringnya.
"Ayo!" Damian mengulurkan tangannya pada Letisia, setelah mereka selesai makan siang, waktunya untuk beristirahat sebentar.
Letisia memberikan tangannya untuk dipegang Damian, membantunya berdiri dari duduknya.
"Kita istirahat sebentar sayang..baru nanti kau pijat aku ya!" kata Damian merangkul pinggang istrinya meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
"Iya!" angguk Letisia menyetujui usul Damian, dia senang mau membantu suaminya untuk meringankan tubuhnya yang penat.
Damian tersenyum senang.
Mereka duduk dibalkon kamar, rebahan dikursi malas sambil menikmati angin yang berhembus.
"Sayang, besok kita ke pengadilan untuk menindak lanjuti masalah Papa angkatmu..dia tidak mengakui kesalahannya dikantor polisi mengenai lelaki yang menabrak ku waktu itu!" kata Damian saat mereka tengah rebahan dikursi malas.
"Ya..aku akan memberikan kesaksian juga!" kata Letisia.
"Dan, rencananya juga aku akan menuntut dia mengenai hutang dan menelantarkan anak, aku sudah memiliki bukti-buktinya..dia harus menerima hukuman, kebebasanmu selama tinggal dengan mereka telah mereka kendalikan dengan menindasmu!" kata Damian dengan nada yang kesal.
Tangannya membelai kepala Letisia perlahan, tatapan matanya terlihat lembut menatap wajah Letisia.
"Rasa sakit yang kau alami selama tinggal dengan mereka, akan mereka bayar satu persatu!" Damian kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Dan, aku akan memanjakanmu untuk membayar apa yang telah kuperbuat saat kau masuk kerumahku..sikap kasarku dan kata-kataku yang menyakitimu..akan kubayar dengan apapun yang kau inginkan sayang!" ucap Damian dengan pelan, dia merasa bersalah dan malu telah melukai perasaan istrinya itu.
Letisia meraih tangan Damian, dan meletakkannya ke pipinya.
"Masalah tentang kita, jangan lagi diungkit..aku tidak ingat lagi kalau kau pernah menyakitiku sayangku!" kata Letisia sambil tersenyum menatap Damian.
Damian bangkit dari rebahannya, lalu mengangkat tubuh Letisia ke pangkuannya.
Mendekap Letisia dengan erat, dan membenamkan wajahnya di balik leher Letisia.
"Sayang..kau memang istriku yang sangat spesial, aku mencintaimu sayang..maafkan aku yang terlambat menyatakan cintaku!" gumam Damian dengan suara bergetar, dia terharu mendengar kata-kata Letisia tadi.
"Iya sayangku..maafkan juga aku karena begitu lama baru bisa menerima cintamu!" gumam Letisia juga memeluk lengan Damian yang mendekap tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
Mereka saling berdekapan dengan erat, meluapkan penyesalan mereka yang datang terlambat.
Bersambung.......