
Janet terpaksa menuruti apa yang dikatakan Donald, mengambil makanan yang tadi dimakannya, menyendok dan menaruhnya kepiring yang dipegang Donald.
"Sudah, lepaskan aku!" bisik Janet melotot pada Donald, wajahnya terlihat memerah dilihat semua orang.
Melihat adegan kedua orang yang tengah berdiri di dekat meja prasmanan itu, mata Damian melongo tidak percaya.
Akhirnya Damian yakin kalau adiknya itu benar-benar punya perasaan pada Janet, di mana Donald tanpa rasa sungkan menarik Janet dari hadapan bawahannya tadi.
Dan, sikap Donald itu siapapun akan dapat melihat dengan jelas, kalau Donald cemburu melihat Janet berbicara dengan pria lain.
Ternyata tebakan istrinya sangat tepat melihat gelagat Donald yang menyukai Janet.
"Kedua saudara laki-lakiku sungguh bodoh dalam memilih pasangan, sama-sama menyukai pembantu..menjijikkan!" kata Amira dengan sinis melihat Donald yang tanpa rasa sungkan menggenggam tangan Janet di depan semua orang.
"Tutup mulutmu!" bentak Annabelle mendengar perkataan Amira yang penuh rasa benci.
"Mama orang tua yang aneh..putranya yang terpandang dan terhormat direlakan saja menyukai pembantu, kita keluarga terpandang dan berdarah biru, masak membiarkan keturunan tidak jelas masuk kedalam keluarga miliarder kita..mereka hanya orang miskin yang tidak pernah duduk di bangku Universitas, orang-orang seperti mereka hanya menginginkan harta kita saja!" sahut Amira dengan penuh rasa benci dan jijik melihat kearah Janet.
Plakk!
__ADS_1
Annabelle memukul lengan Amira dengan sendok makannya, dan sontak membuat Amira meringis kesakitan.
"Tutup mulutmu..kau jangan terlalu berpikiran negatif, jangan menilai orang dari luarnya saja, mereka mempunyai etika yang baik dan sopan...putra-putraku memiliki mata yang bagus dalam memilih pasangannya, mereka berdua sudah tahu wanita yang bagaimana yang pantas untuk menjadi istri masa depan mereka!" kata Annabelle melotot menatap Amira yang begitu penuh dengan kebencian terhadap Letisia dan Janet.
"Mama!" teriak Amira dengan nada yang kesal, "Kau sudah terkena guna-guna Letisia Ma..apa yang hebat dari dia, dan apa yang menarik dari gadis itu sampai kak Damian begitu tergila-gila padanya..dia hanya unggul di umur saja, masih muda hanya itu saja!"
"Kau salah..bodoh!" Annabelle mendorong kening Amira dengan telunjuknya, "Letisia gadis yang istimewa..dia gadis yang belum pernah disentuh oleh pria lain, dia masih perawan..karena itulah kakakmu Damian menyukainya, apa kau tidak tahu begitu sulitnya kakakmu itu mendapatkan cinta Letisia..kau memang putriku yang tidak mengerti apa pun!"
Mendengar penjelasan Annabelle itu, sontak membuat Amira terdiam ditempatnya.
Masih perawan?
Ternyata di jaman sekarang masih ada pria, hanya menginginkan seorang wanita yang masih perawan untuk jadi pasangan hidupnya.
Tanpa sadar Amira kembali menelan ludahnya lagi, dia tahu wanita-wanita terhormat dan cantik sangat banyak mengantri ingin menjadi pasangan kedua kakaknya tersebut.
Tapi masalahnya, apakah mereka masih perawan dan belum pernah disentuh oleh pria lain?
Sementara dia sendiri sudah beberapa kali berpacaran semenjak duduk dari bangku SMP, semua laki-laki itu tidak ada yang tulus mencintainya.
__ADS_1
Apakah mereka putus dariku, karena aku wanita yang tidak cocok menjadi pasangan salah satu dari mereka? bisik hati Amira terdiam ditempatnya.
Tapi, itu tidak mungkin! kalau seorang pria sudah mencintai seorang wanita, mereka tidak mempermasalahkan masa lalu wanita itu! pikir Amira lagi mencoba menghibur diri.
Kini Amira baru sadar, ternyata kedua saudara lelakinya memiliki selera yang tinggi dalam memilih pasangan hidup mereka.
Mereka tidak menginginkan barang bekas, walau berkilau bagaikan berlian mahal.
Amira melihat bagaimana kakak pertamanya begitu sangat memanjakan istrinya yang menurut Amira bagaikan barang rongsokan, dan setelah Ibunya menjelaskan, barulah dia tahu ternyata istri kakak pertamanya itu adalah barang branded edisi terbatas.
Amira menoleh memandang kearah kakak keduanya yang terlihat menempel terus pada Janet, yang menurut Amira tadi adalah barang rongsokan juga.
Tapi, sekarang cara pandangnya jadi berubah, dia melihat Janet seperti barang branded edisi terbatas setelah dijelaskan oleh Ibunya tadi.
Amira menghela nafas setelah diberikan Ibunya penjelasan, pantasan saja Ibunya menyukai Letisia, ternyata Ibunya menyukai barang branded edisi terbatas juga.
Janet merasa kesal dipepet terus sama Donald, dengan sekali sentak tangannya dia tarik dari genggaman tangan Donald.
Kemudian Janet kembali bergabung bersama Dona, bersembunyi dibalik tubuh Dona menghindari tatapan mata Donald yang tajam memandang kearahnya tidak senang karena meloloskan diri.
__ADS_1
Bersambung....