
Damian merasakan kepalanya sakit saat dia mencoba mengingat Annabelle, dan kemudian Damian meringis kesakitan memegang kepalanya.
Melihat Damian yang memegang kepalanya menahan sakit, Letisia dengan cepat menekan bel didekat tempat tidur pasien.
Dan tidak berapa lama Dokter yang menangani Damian tadi masuk kedalam ruangan Damian bersama dua orang perawat.
"Dokter, ada apa dengan suami saya..kepalanya terasa sakit, dan dia tidak mengenali Mamanya sendiri!" sahut Letisia begitu Dokter masuk kedalam ruangan Damian.
"Jangan khawatir Nyonya, Tuan Damian hanya mengalami amnesia ringan karena benturan dibagian kepala..dia hanya mengingat apa yang terakhir kali diingatnya sebelum kecelakaan!" kata Dokter menjelaskan apa yang terjadi pada Damian.
Dokter kemudian memeriksa Damian, mengecek tekanan darah dan mata Damian.
"Pelan-pelan untuk mengingatkannya tentang orang-orang yang dekat dengannya, dia akan merasakan kepalanya sakit kalau dipaksakan..apakah Tuan Damian mengingat istri anda?" tanya Dokter pada Damian.
"Tentu saja, istri saya..pasti saya ingat!" kata Damian sembari meremas jemari Letisia yang berada dalam genggamannya.
"Disaat kejadian, apakah anda bersama suami anda Nyonya?" tanya Dokter.
"Iya Dok, dia sedang menghampiri saya ketika tiba-tiba sebuah motor menabrakny!"
"Ya, dia ingat hanya sampai sebatas itu saja..sepertinya memori otak Tuan Damian sangat kuat mengingat sosok istrinya karena suatu hal!" kata Dokter menjelaskan.
"Putraku..Mama tidak akan marah padamu, karena hanya mengingat istrimu saja..tapi Mama harap cepatlah mengingat Mama, ya!"
__ADS_1
Wajah Damian terlihat datar saja memandang ibunya, tatapan matanya terasa asing melihat Annabelle.
"Sayang..!" Damian menarik Letisia merapat padanya, dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Annabelle karena tidak mengenalinya.
Letisia semakin naik ketempat tidur pasien, dan membiarkan Damian merangkul pinggangnya.
"Semuanya tidak masalah, tinggal pemulihan luka jahitan di kepala dan lengannya saja..jangan dipaksakan untuk mengingat sesuatu yang dilupakan Tuan Damian, pelan-pelan saja..!" kata Dokter setelah infus Damian diganti dengan yang baru.
Setelah itu, Dokter beserta dua perawatnya pergi keluar dari ruang kamar rawat Damian.
"Tuan, apakah anda lapar? aku akan menyuruh Jenson memesan makanan pada anda kalau sudah merasa lapar!" kata Letisia sembari mengelus lembut lengan Damian yang memeluk pinggangnya.
"Iya, boleh sayang..aku sudah terasa lapar sekali!" kata Damian tersenyum memandang Letisia, hatinya terasa begitu bahagia karena tangan Letisia mengelus lembut lengannya.
"Tidak, siapa dia?!" tanya Damian dengan tatapan tajam memandang Letisia, sekarang dia malah jadi curiga pada Letisia.
"Dia asisten mu Tuan!" kata Letisia dengan lembut, cemburu Damian datang lagi.
"Oh!" ucap Damian tidak berminat, dia terlihat tidak ada keinginan untuk mengingat Jenson.
"Bagaimana kalau aku yang akan pergi untuk membelinya, sebentar aku pergi ke kantin..kau mau pesan apa menantuku?" tanya Annabelle kepada Letisia.
"Kopi latte pake cream!" sahut Letisia.
__ADS_1
"Aku juga!" kata Damian dengan cepat.
"Kau belum boleh minum kopi, baru sadar dari siuman, sudah macam-macam permintaan..tidak boleh!" kata Annabelle tegas.
"Iya, benar Tuan..tidak boleh, minum teh hangat saja dengan sedikit gula!" kata Letisia.
"Iya, benar..aku pergi dulu!" kata Annabelle meraih tasnya lalu pergi keluar dari kamar rawat Damian.
"Siapa dia sayang..kenapa dia begitu tidak sopan mengatur apa yang kuinginkan!" kata Damian tidak senang.
"Dia Mamanya Tuan, Mama Annabelle..yang melahirkan Tuan!" kata Letisia menjelaskan siapa sebenarnya Annabelle.
"Aku merasa tidak ada rasa keterikatan padanya" gumam Damian sambil melamun memandang kearah pintu, dimana Annabelle tidak terlihat lagi setelah pintu tertutup.
"Kepala Tuan terbentur, seperti apa yang dikatakan Dokter tadi..jangan dipaksakan untuk mengingat siapa Mama mertua, nanti kepala Tuan jadi sakit!" kata Letisia dengan lembut, lalu mengelus kepala Damian yang diperban dengan lembut dan hati-hati.
Sekarang perasaan Letisia sangat membuncah, dia begitu bahagia Damian hanya bisa mengingatnya saja.
Dia merasa ini suatu keberuntungan pada dirinya, tanpa sadar Letisia memeluk Damian dengan hati-hati dan dengan penuh perasaan.
Damian terlihat tersenyum melihat Letisia memeluknya dengan sayang.
Dia pun membalas pelukan Letisia dengan perasaan senang.
__ADS_1
Bersambung......