Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Salah mencari lawan.


__ADS_3

.


.


.


Lina pura pura meringis menahan sakit, sedangkan laki laki yang diinjak kakinya oleh Lina benar benar kesakitan.


"Ada apa!" tanya Bu Tessa lagi saat menghampiri Lina yang masih terduduk di lantai.


"Maaf Bu, saya tidak sengaja keinjak kaki dia," kata Lina.


"Sudah kamu tidak bersalah," kata Bu Tessa.


"Sebenarnya ada apa Johan?" tanya Bu Tessa yang memang sudah tau tingkah laku Johan selama ini, bukan Lina saja yang menjadi korbannya masih banyak anak anak yang lain korban kejahilan Johan tersebut.


"Ka...kaki saya diinjak olehnya Bu," jawab Johan gugup. Bu Tessa membuka sepatu Johan, tapi sebelum itu ia lebih dulu menolong Lina untuk bangkit dan membawanya ke bangku mereka. Bu Tessa melihat kaki Johan bengkak karena tulang kakinya bergeser.


"Aaakh, sakit Bu pelan pelan Bu," teriak Johan saat Bu Tessa membuka sepatu miliknya.


"Sebaiknya dibawa kerumah sakit saja," kata Bu Tessa.


"Haa, apakah parah Bu?" tanya Johan.


"Sepertinya tulang kakimu bergeser dan akan sangat fatal kalau dibiarkan," jawab Bu Tessa.


Akhirnya Johan pun dibawa kerumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Para siswa siswi tidak ada yang kasihan sama sekali, hanya ketiga temannya yang terlihat begitu cemas.


"Hari ini kita tidak ada pelajaran, ibu hanya ingin mengabsen kalian satu persatu, dan setelah ini siapa saja yang ingin menjenguk teman kalian dirumah sakit, silahkan?" tanya Bu Tessa.


Setelah Bu Tessa mengabsen nama nama murid, Bu Tessa pun membubarkan mereka untuk segera pulang. Triple A masih berada didalam kelas, lalu iapun menghampiri Bu Tessa.


"Bu, semua salah saya, saya yang menyebabkan dia jadi begitu," ucap Lina seolah olah begitu polos. Padahal tanpa mereka semua sadari Lina tersenyum devil. hanya kedua saudaranya yang tahu.


"Itu bukan salahmu, dan juga bukan baru kali ini dia seperti itu. dulu sewaktu dikelas 11 ada seorang siswa dibuli oleh mereka hingga trauma." ucap Bu Tessa.


"Kenapa tidak dikeluarkan dari sekolah Bu?" tanya Lica.


"Sudah, tapi orang tuanya membelanya dan kekuasaan diatas segalanya, hingga guru itu dipecat karena telah mengeluarkan dia, dan Pak kepala sekolah juga masih sayang dengan pekerjaannya, karena ada anak istri yang harus dinafkahi," ucap Bu Tessa panjang lebar. Triple A pun mengerti.


"Kalian harus berhati-hati, jangan mencari masalah dengan nya," pesan Bu Tessa pada triple A.


"Iya Bu, mulai sekarang kami akan lebih berhati-hati," jawab Lica.


"Kalian menunggu siapa?" tanya Bu Tessa.


"Tadinya menunggu ibu, untuk menanyakan masalah tadi," jawab Lita.


"Kalian sudah tahu, mulai sekarang jangan cari masalah dengan dia ya," pesan Bu Tessa lagi.

__ADS_1


Triple A keluar dari kelas, tiba dihalaman sekolah mereka dihadang oleh ketiga teman Johan.


"Ada apa?" tanya Lina berubah sok polos.


"Kalian harus tanggung jawab karena telah mengakibatkan teman kami cedera," ucap Rino.


"Aku kan tidak sengaja, kalian pun tau itukan?" tanya Lina.


"Kami tidak mau tau, pokoknya kalian harus bayar ganti ruginya," kata Gibson.


"Kami tidak mau tau, kalian harus bayar," bentak Ansel.


"Kenapa kalian jadi malak kami?" tanya Lina.


Belum sempat mereka menjawab Bu Tessa sudah menghampiri mereka.


"Ada apa Ansel?" tanya Bu Tessa.


"Ti.. tidak ada apa-apa Bu," jawab Ansel gugup.


"Kalian pergi sekarang," kata Bu Tessa pada ketiganya. Ansel, Rino dan Gibson pun pergi dari tempat itu.


"Terimakasih Bu, kalau tidak ada Bu Tessa mungkin kami sudah tinggal nama," kata Lina penuh drama.


"Sudahlah, lain kali kalau ada apa-apa beritahu ibu ya" ucap Bu Tessa.


"Aktingmu boleh juga," puji Lita setelah Bu Tessa berlalu dari situ.


"Yuk cabut, kita pulang pakai ini saja," kata Lica sambil mengeluarkan skuter dari tas ransel mereka. Kemudian mereka pun pergi dari sekolah.


Namun baru beberapa ratus meter mereka meninggalkan sekolah, mereka dihadang lagi oleh Ansel, Rino dan Gibson.


"Hah, perlu dikasih sedikit pelajaran nih anak," ucap Lina pelan tapi masih dapat didengar oleh Lita dan Lica, karena pendengaran mereka sangat tajam.


"Kalian pikir kalian bisa lolos?" tanya Gibson.


"Sebenarnya apa salah kami?" tanya Lina yang masih bersikap sok polos.


"Kamu yang menyebabkan teman kami masuk rumah sakit," jawab Rino.


"Jadi kalian mau menyusul," kata Lina mulai memperlihatkan taringnya.


Gleek, ketiganya menelan salivanya melihat aura berbeda dari triple A, aura seorang pemimpin darah keturunan keluarga Henderson.


"Mengapa ketiganya terlihat menyeramkan?" tanya Ansel berbisik kepada kedua temannya.


"Iya, aku jadi bergidik melihatnya," jawab Gibson.


"Gimana? Lawan gak? Mereka cuma anak kecil paling sekali sentil langsung nangis," tanya Rino.

__ADS_1


"Kalian buang buang waktu saja," ucap Lina dan berniat untuk pergi dari tempat itu. Tapi baru saja triple A menaiki skuter mereka, Rino mengeluarkan pisau dari saku celananya.


"Satu langkah saja kalian bergerak maka pisau ini yang bicara," ancam Rino.


Triple kembali melipat skuter mereka dan memasukannya kedalam tas ransel milik mereka. Lina, Lita, Lica maju bersamaan. Tanpa ada rasa takut terpancar diwajahnya.


Malah Ansel, Rino dan Gibson yang mundur melihat keberanian triple A.


"Coba saja kalau ingin pisau itu berbalik menusuk kalian," ucap Lina dengan sorot mata yang tajam.


"Kenapa mundur? Mana nyali kalian tadi?" tanya Lita.


"Kalian salah mencari lawan," kata Lica.


"Jangan maju kalau tidak ingin kami tusuk," ucap Rino. Kini ketiganya sudah mengeluarkan pisau masing-masing. Tapi triple A tidak takut sedikitpun.


"Aku bilang jangan mendekat," teriak Rino.


"Kalian pikir kami takut? Ayo lawan kami," tantang Lita.


"Ach kelamaan," ucap Lina. Lina bersalto menendang perut Rino. Hingga Rino terpental dan pisau yang dipegangnya terlepas.


"Aakh," jerit Rino saat ia tersungkur kepembatas jalan. Ansel dan Gibson saling pandang. keduanya gemetar ketakutan.


"Aam.. ampunkan kami," ucap Ansel berlutut diaspal. Sedangkan Rino sudah tidak bergerak lagi.


"Sudah terlambat, kalian sudah membangkitkan jiwa ibl*s kami," ucap Lina.


"Am.. ampun, kami janji tidak akan menggangu kalian lagi," ucap Gibson.


"Mana keberanian kalian tadi? Ayo tunjukkan," tanya Lita.


"Kami tidak berani lagi untuk mengganggu kalian," jawab Ansel.


"Rugi dong, aku belum kebagian menendang telur mereka," ucap Lica. Spontan keduanya menutup bagian bawah mereka dengan telapak tangannya.


"Sebelum kalian pergi, kalian harus merasakan dulu bogem mentah dari kami," ucap Lita.


Kemudian dengan tangan belas kasih Lita dan Lica meninju wajah Ansel dan Gibson hingga hidung mereka berdarah, bukan cuma itu, Lita dan Lica menendang perut mereka hingga keduanya terpental beberapa meter kebelakang dan setelah itu mereka pun pingsan.


Sadis memang anak anak Darmendra.


Kemudian mereka meninggalkan tempat itu dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Dan meninggalkan tiga orang yang tergeletak dipinggir jalan.


"Salah sendiri cari penyakit," gumam Lina.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2