Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Mengambil alih


__ADS_3

.


.


.


Ram berencana akan mengambil alih perusahaan tersebut dengan cara membelinya. setelah perusahaan itu bangkrut maka Ram akan membelinya dan membangun semula dan mengganti nama perusahaan itu menjadi CAHAYA CORP GROUP. Tanpa sepengetahuan istrinya rencananya perusahaan itu akan diberikan kepada istrinya. Dan akan menyuruh orang kepercayaannya mengelola perusahaan tersebut.


Sementara Cahaya masih sibuk memilih milih daster yang cocok untuk mertuanya, dan ia juga ingin membelikan Oma nya.


"Bagaimana dengan yang ini Nona?" tanya pelayan itu yang selalu sabar melayani setiap pelanggan. Meskipun sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari para pelanggan yang sombong.


"Bagus juga, aku mau yang ini 10 helai." jawab Cahaya.


"Baik nona," pelayan itu dengan semangat membungkus pakaian tersebut, baru kali ini ia mendapati pelanggan yang memperlakukannya dengan baik dan berbelanja sangat banyak. Biasanya pelanggan yang lain paling 1 atau 2 helai pakaian itupun sudah bukan main cerewetnya. Bahkan merendahkan pekerjaan sebagai pelayan.


"Sudah dapat sayang?" tanya Ram. Cahaya mengangguk. Kemudian mereka pun membayar semua belanjaan mereka.


"Terimakasih tuan dan nona, jangan kapok datang ke toko kami," ucap pelayan itu dengan ramah. kemudian pelayan itu tersenyum senang.


"Kenapa lo senyum senyum?" tanya temannya yang menjaga kasir.


"Aku senang aja, ada yang berbelanja banyak dan tidak sombong sama sekali meskipun ia pemegang kartu hitam," jawab pelayan itu.


"Iya, biasanya yang datang belanja 1 helai baju saja sombongnya selangit," temannya menimpali.


Kini Ram dan Cahaya berada di toko perhiasan, setelah Ram mengantar belanjaan mereka ke mobil dan menyuruh orang untuk mengangkatnya. Seorang anak lelaki berusia 10 tahun dengan pakaian kusam, merasa iba Ram membelikan pakaian untuk bocah itu. Awalnya bocah itu ragu untuk menerimanya karena takut tidak mendapat upah berupa uang. Sebenarnya Ram bisa saja membawanya sendiri. Tapi bocah itu menawarkan diri dengan embel-embel pekerjaan.


Ram yang mempunyai belas kasih yang besar tentunya tidak akan menolak sekaligus bisa menolong anak itu. Anak itu merasa senang karena Ram memberikan uang banyak kepadanya.


"Pilihlah yang kamu inginkan sayang," ucap Ram saat melihat perhiasan tertata rapi didalam lemari kaca.


"Mbak ada yang sederhana gak? Tapi terlihat bagus," tanya Cahaya kepada pelayan toko perhiasan tersebut. Pelayan itu tersenyum.


"Ada nona, kebetulan baru datang beberapa jam yang lalu, dan hanya ada satu set." jawab pelayan itu dan langsung kedalam untuk mengambil perhiasan tersebut.


Tidak berapa lama kemudian pelayan itu kembali dengan membawa kotak perhiasan satu set limited edition, berupa gelang kalung dan anting anting.


"Nona memang bijak memilih, perhiasan ini memang terlihat sangat sederhana, tapi apabila dipakai ia bisa cocok dengan gaun apa saja yang nona kenakan nanti," ucap pelayan itu menjelaskan.


"Bagaimana sayang?" tanya Ram. Cahaya mengangguk.

__ADS_1


"Aku mau yang ini saja," jawab Cahaya.


Pelayan itu tersenyum senang, barang yang baru datang sudah terjual. Dan juga perhiasan tersebut hanya ada satu satunya.


Berbeda dengan Cahaya, berbeda juga dengan yang lain. Cahaya suka berbelanja padahal sebelumnya tidak, sedangkan yang lain tidak mau berbelanja meskipun dipaksa oleh suami mereka tapi mereka tetap tidak mau.


Seperti Aisyah saat ini, Ren menawarkan untuk membeli pakaian dan semacamnya, tapi Aisyah hanya memilih gamis. Ren menawarkan tas branded dan perhiasan serta barang barang branded lainnya, tapi Aisyah malah menangis karena dipaksa oleh Ren. Tentu saja Ren panik.


"Istrinya hamil ya mas?" tanya seorang wanita paruh baya yang juga melihat lihat barang yang ingin di beli.


"Iya Bu, baru beberapa Minggu," jawab Ren.


"Oh pantesan, jangan dipaksa mas kalau dia tidak mau. Mood ibu hamil susah ditebak loh mas," ucap wanita itu.


"Iya Bu, terimakasih." ucap Ren.


"Yuk sayang kita pergi," ajak Ren. Aisyah pun mengikuti, Ren menggandeng tangan Aisyah.


"Sayang aku lapar," ucap Aisyah. Padahal mereka baru satu jam yang lalu makan, sekarang sudah lapar lagi. Tentu saja hal itu membuat Ren heran. Kemudian ia teringat kata kata wanita tadi bahwa mood ibu hamil susah ditebak alias berubah ubah. Dan Ren pun mengajak Aisyah kesebuah restoran.


"Sayang kenapa disini?" tanya Aisyah.


"Katanya mau makan? Tanya Ren.


"Mood apalagi ini?" batin Ren.


"Terus dimana sayang?" tanya Ren.


"Aku mau ikan bakar, sop iga sapi, dan mmm apalagi ya? Hmmm aku mau cumi saus Padang." jawab Aisyah.


"Oke kita kerumah makan pinggir jalan saja," kata Ren, kemudian ia pun mengirim pesan grup kepada saudara saudaranya agar berkumpul dirumah makan xxxx. Tentu saja hal itu disetujui oleh semuanya.


Ram yang baru keluar dari toko perhiasan langsung memberitahukan kepada Cahaya. Cahaya begitu senang. Akhirnya keduanya keluar dari mall tersebut.


Diparkiran Ram dan Cahaya bertemu Raffa dan Prita, Roy dan Danita. Mereka juga baru habis berbelanja.


"Sayang ada yang lupa," ucap Ram.


"Apa?" tanya Cahaya.


"Susu ibu hamil sayang," jawab Ram.

__ADS_1


"Nanti kita singgah di minimarket atau supermarket saja, biar aku yang pilih varian rasanya," ucap Cahaya, Ram pun mengangguk lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Nanti setelah makan baru kita singgah di supermarket," kata Ram, Cahaya mengikuti saja. kebetulan ia juga sangat lapar.


Setengah jam kemudian, mereka pun tiba dirumah makan tersebut. Ram turun lebih dulu dari mobil dan kemudian membukakan pintu mobil untuk Cahaya. Ram menuntun Cahaya dengan hati hati seolah olah kaca yang tidak boleh terkena benturan keras.


"ternyata kalian sudah kumpul disini," ucap Ram ketika melihat saudara saudaranya sudah duduk anteng dibangku panjang.


"Kami sudah memesan makanan untukmu, kalau ada yang kurang bisa pesan lagi.


Ren yang tadinya kenyang seketika menjadi lapar kembali ketika mencium bau ikan bakar. Dan ia sangat menyukainya.


"Mau pesan apalagi sayang?" tanya Ram pada Cahaya.


"Sop iga kambing," jawab Cahaya. Ram pun segera memesannya.


Tanpa menunggu lama pesanan mereka datang. Wajah Ren tiba tiba berubah saat mencium aroma masakan sop iga sapi, berbeda dengan Aisyah yang nampak berbinar. Ren sebisa mungkin menahan diri untuk tidak muntah. Tapi beberapa menit kemudian Ren segera berlari kebelakang dan memuntahkan isi perutnya didalam toilet, pelayan dan pemilik rumah makan tersebut heran.


"Ada apa nak?" tanya pemilik rumah makan tersebut.


"Aku..!" hueek hueek. Ren sekali lagi memuntahkan isi perutnya. Padahal kali ini yang keluar hanya cairan saja.


"Pemilik rumah makan tersebut merasa ada yang tidak beres segera membuatkan minuman untuk mengurangi mual. Dan kemudian memberikannya kepada Ren.


"Ini nak diminum." ucap ibu pemilik rumah makan tersebut.


"Apa ini Bu?" tanya Ren.


"Ini air jahe merah dan gula aren serta jeruk nipis, minum air ini untuk meredakan mual. Memangnya istrinya hamil ya?" tanya ibu itu. Ren mengangguk.


"Ibu tau terkadang penciuman orang yang mengalami kehamilan simpatik sangat sensitif." ucap ibu itu.


"Sayang tidak apa apa?" tanya Aisyah yang juga khawatir.


"Sudah agak baikan setelah minum ini," jawab Ren memperlihatkan gelas yang sudah kosong kepada Aisyah.


"Kalau begitu kita pulang saja ya, Bu boleh dibungkus gak makanannya? Aku belum sempat makannya," tanya Aisyah.


"Boleh nak, nanti ibu bungkus." jawab ibu itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2