
.
.
.
Aisyah, Nadine, Prita, Keyla, Danita dan Adira geram mendengar wanita itu. Mereka sedang asik ingin makan malah terganggu.
"Sudah jangan hiraukan wanita miring itu, kaya gak ada tempat aja," ucap Aisyah, tapi giginya menggelutup geram. Karena acara makan mereka terganggu.
"Minggir kamu," bentak cewek itu pada Cahaya. Cahaya bangkit dan mempersilahkan cewek itu duduk. Ram juga bangkit ketika melihat Cahaya bangkit. Lalu Ram memanggil pelayan.
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.
"Semua makanan ini wanita itu yang bayar," ucap Ram kepada pelayan. Lalu mereka semua bangkit. Dan hendak pergi dari tempat itu.
"Maaf mbak, total semuanya 10 juta, mau bayar cash atau debit mbak?" tanya pelayan itu sopan.
"Apa? 10 juta? Saya tidak makan ini semua kenapa harus saya yang bayar?" tanya wanita itu. Sedangkan sikembar dan pasangannya sudah pergi dari tempat itu.
"Kalau mbak tidak mau bayar maka saya akan menelepon polisi," ancam pelayan itu. Mau tidak mau wanita itu membayar semuanya makanan yang belum mereka makan sama sekali.
"Aaaaaakkh, S*al, S*al S*al." umpat wanita itu. Lalu pergi meninggalkan restoran itu bersama kedua temannya.
"Kita cari restoran lain saja ya?" tanya Ren pada Aisyah.
"Tapi aku mau restoran seafood, atau restoran Padang juga boleh," jawab Aisyah.
"Kita ke restoran seafood aja," ucap Ren.
"Sayang kenapa kita meninggalkan restoran tadi?" tanya Cahaya pada Ram.
"Aku tidak mau kita terganggu sayang, makanya aku memilih pergi." jawab Ram.
"Lalu makanan tadi?" tanya Cahaya lagi.
"Mereka yang bayar, sekali sekali kasih pelajaran biar kapok." jawab Ram.
"Aku sudah siap menghajarnya tadi," kata Cahaya.
"Biarkan saja, dengan cara begitu sudah cukup memberi mereka pelajaran," ucap Ram.
Mereka kini sedang menuju restoran seafood yang lain. Dan tidak berapa lama mereka pun tiba ditempat yang mereka tuju. Sikembar memarkirkan mobilnya ditempat parkir, kemudian mereka masuk kedalam restoran tersebut. Mereka menyewa ruang VVIP agar lebih nyaman dan tidak merasa terganggu.
"Kalian bisa pesan sepuasnya," ucap Ram.
"Aku pesan lobster aja," ucap Aisyah.
__ADS_1
"Samain aja deh," kata Cahaya.
Akhirnya mereka pun memesan makanan seperti yang mereka pesan tadi, tapi kali ini lobster nya lebih besar ukurannya. Pelayan mencatat pesanan mereka, setelah itu pelayan pun berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Nah kalau disini pasti aman, gak bakal ada yang ganggu lagi." ucap Ram sambil mengelus pipi Cahaya.
"Kenapa tadi kita harus pergi sih? Ikutkan hati pengen aku Jambak tuh nenek lampir," ucap Prita yang juga merasa geram.
"Sudah berani ya sekarang?" tanya Raffa sambil tersenyum.
"Hah, walaupun baru belajar taekwondo tapi untuk menjambak rambut cewek itu gak bakalan takut," ucap Prita menggebu gebu.
Tidak berapa lama pesanan mereka pun tiba, pelayan mendorong troli masuk kedalam ruangan VVIP tersebut dan menata makanan dimeja makan. Setelah selesai pelayan itu pun pergi.
"Mari makan dulu, mau marah marah juga butuh energi," ucap Ram pada Cahaya.
Mereka pun makan dengan nikmat, lobster berukuran jumbo pasti sangat menggiurkan. makanan kesukaan sikembar dulu hingga sekarang.
"Alhamdulillah, kenyang," ucap Aisyah setelah selesai makan. Lalu meminum jus pesanan mereka.
"Kita ke mall lagi yuk..!" ajak Cahaya.
"Mau ngapain sayang? Ada yang pengen dibeli lagi?" tanya Ram. Sedangkan yang lain saling pandang.
"Aku mau menghajar cewek itu, emosiku belum surut gara gara dia," ucap Cahaya, yang lain melongo melihat ke bar baran Cahaya. Tidak biasanya seperti itu.
"Ada apa ini? Kenapa bisa seperti ini?" batin Ram.
"Ya sudah, aku bayar makanan ini dulu," ucap Ram akhirnya mengalah. Setelah selesai membayar mereka pun keluar dari restoran tersebut.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, saat mereka keluar dari restoran mereka bertemu lagi dengan cewek itu.
"Heh kalian...!" teriak cewek itu.
Mereka serentak menoleh karena suaranya cukup keras juga. Cewek itu maju bersama kedua temannya.
"Bayar ganti rugi pada saya, gara gara kalian makanan yang kalian pesan saya yang bayar," kata cewek itu masih dengan nada meninggi.
"Salah sendiri, kapok.. kapok loh," ejek Prita.
"Ayo bayar sekarang," teriak cewek itu.
"Gak akan," ucap Ram dingin.
Kebetulan ada pemulung lewat yang sedang membawa karung. Cahaya menghampiri pemulung tersebut dan meminta untuk membeli karungnya itu. Cahaya memberikan uang merah dua lembar pada pemulung tersebut. Dengan senang hati pemulung itu memberikan karung tersebut. Yang lain heran mengapa Cahaya meminta karung dari pemulung.
"Pegangin cewek itu," perintah Cahaya, seketika mereka mengerti dengan maksud Cahaya. Prita dan Nadine memegangi cewek itu dan dengan cepat Cahaya memasukkan karung tersebut dari kepala cewek itu. Setelah itu cewek itu mereka baringkan ditanah.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?" jerit wanita itu yang terbungkus karung.
"Dari tadi aku menahan emosi karenamu," jawab Cahaya.
"Dan sekarang aku puas," ucapnya lagi.
"Tolong, tolong. Ada apa ini? Kenapa kalian memperlakukan saya seperti ini? Kalian belum tau siapa saya?" tanya wanita itu. Ia terus menjerit jerit didalam karung.
Kedua temannya sudah pucat melihat temannya cewek itu dimasukkan kedalam karung.
"Tangkap juga mereka berdua," perintah Cahaya.
"Jangan, tolong jangan tangkap kami. Kami tidak ikut ikutan dengan dia," ucap salah satu dari keduanya memohon.
"Baik, kalian boleh pergi, tapi sebelum itu...!"
Buugh... buugh..dua bogem mentah mendarat dihidung keduanya, hingga hidung mereka berdarah. kedua cewek itu menangis.
"Ada apa dengan Cahaya? Biasanya tidak seperti itu?" Batin Adira. Tiba-tiba Cahaya mengeluh sakit diperutnya, Ram menjadi panik.
"Sayang ada apa? Kamu pucat kita kerumah sakit ya?" tanya Ram. Cahaya menggeleng.
"Belikan aku pembalut," jawab Cahaya. Yang lain menjatuhkan rahangnya. Akhirnya rasa penasaran mereka terjawab sudah.
"Pantas saja," kata Aisyah.
"Biar aku yang beli," tawar Adira, karena ia takut Ram akan malu kalau harus membeli keperluan wanita.
"Bagaimana dengan cewek ini?" tanya Nadine.
"Buka ikatannya, dan biarkan mereka," jawab Cahaya. ikatan karung pun dibuka, cewek itu sudah terlihat lemah tapi tidak pingsan.
"Makanya kalau mau cari lawan cari tau dulu orangnya," ucap Cahaya. Meskipun ia menahan sakit tapi tetap emosi.
Ram membeli obat untuk pereda nyeri saat datang bulan. Tak lama Adira datang dan menyerahkan yang ia beli kepada Cahaya, dan Ram juga memberikan obat untuk diminum oleh Cahaya.
"Apa lebih baik kita ke dokter saja?" tanya Ram.
"Tidak perlu, sebentar lagi juga baikan, aku mau ke toilet dulu," pamit Cahaya.
Sedangkan cewek itu sudah dibawa pergi oleh kedua temannya, tapi sebelum mereka pergi, Cahaya sempat memberikan bogem mentah pada wanita itu, dan Prita juga turut menjambak rambut cewek itu.
.
.
.
__ADS_1