
.
.
.
"Benarkah?" tanya Aruna berbinar.
"Kalau begitu aku mau," ucapnya lagi, Ren dan Aisyah tertawa.
"Makanya jangan kelamaan jomblo, begini kan jadinya?" tanya Aisyah. Padahal ia sebelum ketemu Ren juga jomblo abadi.
"Ye mentang-mentang sudah ada gebetan si babang tampan," ucap Aruna.
"Ya iyalah, paket komplit deh pokoknya," ucap Aisyah memuji Ren, sedangkan yang dipuji pura-pura tidak peduli padahal dalam hatinya seperti bunga setaman yang sedang bermekaran.
"Mau lihat foto nya gak? Mungkin kamu bisa pepet dia, nama Adam," Ren.
"Ah masa sih harus cewek yang pepet, gak kreatif banget jadi cowok," ucap Aruna cemberut. kalau Aisyah yang begitu mungkin sudah Ren lahap bibirnya.
Lalu Ren memperlihatkan foto Adam yang Ren ambil secara diam-diam sewaktu Adam bekerja.
Aruna memperhatikan dengan seksama, diam diam ia mengagumi sosok seorang pria yang ada dalam foto itu, kemudian Ren menyimpan ponselnya kembali.
"Gimana? Tampan kan?" tanya Ren. Ren mau memperkenalkan Adam dengan Aruna karena ia merasa Aruna adalah gadis baik baik.
"Apakah matanya minus?" tanya Aruna, Ren menggeleng.
"Matanya normal, ia memakai kacamata hanya untuk menghindari radiasi saat berlama-lama didepan komputer, dan itu bukan kacamata minus." ucap Ren.
"Kurasa kalian cocok," kata Aisyah menimpali.
Callista berjalan terpincang-pincang, ia ingin mendekati Arbi yang sejak tadi memperhatikan interaksi Aisyah dengan Ren yang terlihat seperti punya hubungan khusus dimatanya.
"Aku harus hampiri mereka, aku tidak terima Aisyah dengan pria lain," gumam Arbi. Kemudian Arbi berjalan kearah Aisyah dan Ren juga Aruna, tanpa mempedulikan Callista yang berjalan pincang.
"Jangan coba coba dekati Aisyah," ancam Arbi pada Ren, ketiganya seketika menoleh kearah suara.
"Siapa kamu memangnya?" tanya Ren dengan tatapan dingin.
"Saya calon suaminya Aisyah," kata Arbi dengan angkuhnya.
"Hahaha, gak salah? Jangan ngaku ngaku bung, nikahi aja cewek yang sudah kamu h*mili," ucap Ren dingin.
__ADS_1
Deg..
"Dari mana dia tau?" batin Arbi.
"Tampang aja yang tampan, tapi akhlak nol besar," ucap Ren lagi.
Ren berbisik didekat telinga Arbi yang membuat Arbi seketika mematung, "kalau kamu ganggu tunangan ku lagi, aku tidak segan segan menghancurkan perusahaan orang tuamu. Keluarga Henderson tidak akan main-main dengan ancamannya,"
Deg...
Bagai disambar petir Arbi diam tidak bergerak, mendengar orang yang ia singgung adalah orang berpengaruh di negara ini. Orang terkaya nomor satu di negara ini. Perusahaan serta kekayaan mereka belum ada apa apanya dibandingkan dengan kekayaan keluarga Henderson. Melawan perusahaan salah satu dari sikembar saja sudah kalah, apalagi kalau digabung.
"Ingat, keluarga Henderson tidak main-main," ucap Ren lagi, kemudian Ren menyerahkan kartu namanya kepada Arbi, Arbi melihat kartu nama itu pun semakin melotot, disana tertulis nama Rendra Henderson dan nama perusahaan milik Ren tentunya.
"Jadi benar dia adalah tuan muda dari keluarga Henderson?" batin Arbi.
Arbi tentu masih sayang dengan perusahaan Papanya, karena dari sanalah sumber kehidupan dan kekayaan keluarganya, dan kelak perusahaan itu pasti akan jatuh ke tangannya, mana mungkin ia akan menghancurkan perusahaan Papanya hanya karena ulahnya. Arbi akan mundur alon alon begitulah tekadnya.
"Yuk pulang, kalian sudah habis kelas kan?" tanya Ren. Dan Aisyah mengangguk.
"Aku duluan ya," ucap Aisyah, Aruna pun tersenyum melihat sahabat sudah menemukan yang cocok untuk dirinya.
"Iya, kita beda arah kok, jadi gak bisa barengan." ucap Aruna.
"Nanti kita barengan kalau sudah ngedate, nanti aku ajak Adam sekalian." ucap Ren.
Prita sekarang sudah mulai rekaman, setelah beberapa hari mengadakan latihan vocal dan tangga nada dan sebagainya. Tidak sulit baginya untuk menghafal lagu. Suara yang merdu pasti akan sangat disukai berbagai kalangan.
"Bagaimana?" tanya Raffa, saat ini mereka sedang makan siang disebuah rumah makan pinggir jalan.
"Aku senang kak, akhirnya impian ku akan terwujud," ucap Prita.
"Apa kamu mau sekolah lagi? Sayang loh kalau harus putus sekolah," tanya Raffa.
Prita hanya tamatan SMP karena tidak cukup biaya, ia terpaksa bekerja biarlah ia putus sekolah asalkan adik adiknya tidak. Ia bekerja untuk membiayai sekolah adiknya dan juga keluarganya.
"Tapi kak...!" ucapan Prita terpotong.
"Aku akan mencarikan guru private untukmu, dari SMA sampai kuliah, gimana?" tanya Raffa.
"Kalau itu maunya kakak, aku ikut saja. Tapi bagaimana kalau kita menikah nanti? Apa tidak akan menggangu?" tanya Prita.
"Tidak, nanti kamu akan mengambil paket C untuk SMA. Dan untuk kuliah kamu bisa secara online, dan nanti ada guru private yang akan menuntunmu untuk belajar." ucap Raffa.
Prita pun mengangguk, ia memang sangat ingin bersekolah, tapi keadaan tidak memungkinkan. Sekarang sudah ada kesempatan, maka ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
__ADS_1
"Ayo dimakan, nanti kita kembali lagi untuk rekaman." ucap Raffa, kemudian mereka pun melanjutkan makannya. Tanpa diduga ternyata Ren dengan Aisyah juga singgah ditempat itu, Ren dan Aisyah belum menyadari kalau disini juga ada Raffa dan Prita. Saat Aisyah menoleh tak sengaja tatapan matanya melihat Raffa yang sedang menyuapi Prita.
"Sayang kamu lihat apa?" tanya Ren.
"Bukankah itu Raffa dan Prita?" tanya Aisyah balik. Ren pun menoleh kearah tatapan Aisyah. Dan benar saja Raffa dan Prita terlihat begitu mesra.
"Sayang mau kemana!" tanya Ren.
"Mau samperin mereka," jawab Aisyah. Melihat hal itu Ren pun menyusul Aisyah.
Dengan santainya Aisyah duduk didekat Prita dan Ren duduk didekat Raffa.
"Ehh kalian? Kalian kesini juga?" tanya Prita kikuk karena ketahuan suap suapan.
"Ah ganggu aja kamu," ucap Raffa pada Ren, Ren hanya nyengir.
"pacaran disiang bolong," ucap Ren.
"Apa bedanya dengan kalian?" tanya Raffa.
"Ya bedalah, kami kesini cuma buat makan, ya gak sayang," ucap Ren meminta bantuan Aisyah, Aisyah pun mengangguk.
"Kami juga lagi makan siang," ucap Raffa.
"Makan siang tapi suap suapan," ledek Ren.
"Iri bilang bos," balas Raffa.
Tak berapa lama pesanan mereka sampai, karena mereka berpindah tempat duduk jadi Aisyah melambaikan tangannya agar pelayan itu tidak kesulitan mencari.
"Makan sayang," perintah Ren, Aisyah mengangguk.
Ren dan Aisyah pun mulai makan, sedangkan Raffa dan Prita sudah selesai makan. Saat Raffa mau membayar ia lupa membawa uang tunai, jadi terpaksa Ren yang membayar semuanya.
"Kebiasaan kamu sama seperti Daddy, makan ditempat seperti ini mana bisa pakai kartu hitam," ucap Ren.
"Sekali sekali dibayarin gak apa-apa, kamu tidak seperti Ram yang begitu gampang mengeluarkan uang tanpa perhitungan sedikitpun," ucap Raffa.
"Bukan masalah perhitungan, coba kalau aku tidak kemari, kamu mau bayar pakai apa? Tidak mungkin kan kamu mau cuci piring seharian gara gara tidak bawa uang tunai," ucap Ren.
"Iya, iya maaf lain kali tidak lagi," ucap Raffa.
Tiba-tiba....Braak....
.
__ADS_1
.
.