Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Menolong Azura.


__ADS_3

.


.


.


Nadine kembali ke mejanya dan duduk disamping Ray. Ray meneliti wajah Nadine yang terlihat sedikit berubah.


"Ada apa?" tanya Ray to the point.


"Hmmm, apa?" tanya Nadine balik.


"Wajahmu terlihat berubah sayang," ucap Ray.


Nadine mengusap usap wajahnya dengan tisu, Ray mengambil tisu tersebut dan membuangnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Ray lagi.


"Tidak... tidak ada apa-apa?" Nadine masih menyembunyikannya.


"Jangan bohong, aku tau ada sesuatu yang kamu sembunyikan," ucap Ray.


"Mmm, tadi aku pas dari toilet bertemu teman lama sewaktu SMA, dan dia bekerja disini. Dulu dia bercita-cita ingin menjadi dokter tapi karena kehidupan mereka susah semua impiannya musnah," jawab Nadine.


"Bagaimana kalau kita bantu dia?" tanya Ren.


"Caranya?" tanya Nadine.


"Kita daftarkan dia ke kampus yang sama dengan Aya, tapi jangan beritahu dia bahwa kita yang membantunya," ucap Ray.


"Setuju," sahut Ram.


"Kita biayai kuliahnya sampai tamat dengan memberikan dia beasiswa agar dia tidak curiga," usul Ray.


"Nanti aku akan bangun rumah untuk orang tuanya dengan alasan bedah rumah, Gimana?" tanya Ren.


"Ide bagus, dengan begitu keluarganya dikampung akan terjamin," ucap Nadine.


"Nanti aku akan bicara dengan manajer disini untuk memberikan pekerjaan part time untuknya. dengan begitu dia tidak akan curiga," ucap Ram.


Makanan yang mereka pesan akhirnya sampai, pelayan sangat sibuk terutama Azura yang memang rajin bekerja. Hingga manajer restoran ini senang dengannya. Kegigihannya dalam bekerja membuat manajer itu kagum. Manajer restoran tersenyum senang melihat begitu banyak pelanggannya hari ini.


Mereka semua makan dengan nikmat, Azura tersenyum melihat Nadine begitu mesra dengan Ray. Dia menduga bahwa itulah kekasih Nadine. Azura belum begitu memperhatikan wajah tujuh orang pemuda yang ada dimeja tersebut. Ia hanya melihat sekilas wajah Ray yang memang sangat tampan.


"Pantas saja Nadine menolak Devan, ternyata pacarnya lebih segalanya dari Devan," batin Azura, yang memang mengakui pacar Nadine lebih baik dari Devan.


Nadine meminta izin kepada manajer restoran itu untuk mengobrol dengan Azura. Tentu saja diizinkan oleh manajer restoran tersebut.


Azura menceritakan bahwa beberapa hari lalu ia bertemu dengan Devan, tapi ia tidak menceritakan bahwa mereka sudah jadian.


"Mengapa kamu menolak Devan?" tanya Azura.

__ADS_1


"Karena aku tidak mencintainya, sekuat apapun memaksakan diri tetap tidak bisa," jawab Nadine.


"Kenalkan, dia tunanganku walaupun belum resmi. nanti akan diresmikan kalau waktunya sudah tepat," ucap Nadine lagi sambil memperlihatkan cincin berlian yang ada dijarinya.


"Jangan lupa undang aku ya, aku bekerja disini dan ngontrak dijalan xxxx." kata Azura.


"Oh ya bagaimana dengan keluargamu dikampung!" tanya Nadine.


"Kurang baik, ayahku sakit dan perlu biaya untuk berobat. Sedangkan aku kamu pun tau sendiri keadaanku. Susah mencari pekerjaan yang gajinya besar, apalagi aku hanya tamatan SMA," jawab Azura. Hampir dia menangis tapi sebisa mungkin ia tahan.


"Sabar ya, semoga ada pertolongan dari orang baik," ucap Nadine.


"Aamiin," ucap Azura dengan nada bergetar.


Diam Diam Ray mencari tahu tentang Azura dan tempat tinggalnya dikampung. Tidak sulit bagi mereka untuk mencari informasi tersebut. Setelah mendapatkan informasi yang akurat, besok mereka akan memulai rencana untuk menolong Azura dan keluarganya.


Azura yang menunduk tidak begitu jelas melihat wajah sikembar satu persatu, karena ia merasa tidak pantas bergabung dengan orang orang kaya. Beberapa kali Nadine meyakinkan bahwa tidak semua orang kaya seperti itu,(Sombong).


Azura pamit untuk kembali bekerja, sedangkan mereka masih berdiskusi tentang rencana besok.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Nadine.


"Boleh saja, dan kami sudah mendapatkan informasi tentang keluarganya," jawab Ray.


"Hah, secepat itu? Padahal aku belum bertanya pada Azura," tanya Nadine.


"Tidak perlu, kami sudah tahu kampung halamannya dan tempat tinggalnya." ucap Ram.


"Sayang aku bisa ikut gak?" tanya Cahaya.


"Tapi kan kamu kuliah, sayang," jawab Ram.


"Aku bisa izin," ucap Cahaya.


"Hmmm baiklah kalau begitu, kita akan pergi ke kampung xxxx tempat tinggal Azura.


...****************...


Keesokan harinya...


Mereka akhirnya pergi bersama sama. Ray bersama Nadine, Ren bersama Aisyah, Ram bersama Cahaya. mereka semua hanya satu mobil untuk meyakinkan bahwa mereka memang dari yayasan yang membantu orang susah.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh, sekitar 5 jam dari ibukota. Tapi karena keinginan mereka kuat untuk pergi, rasa capek pun tidak mereka hiraukan.


Melalui informasi yang mereka dapat, bahwa perkampungan tersebut termasuk desa tertinggal. Akhirnya mereka sampai juga di kampung yang dituju.


"Apa benar ini rumahnya?" tanya Nadine dan Ray pun mengangguk.


"Ternyata masih ada orang lebih susah dari kita," ucap Aisyah.


"Yuk kita kesana," ajak Ram.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bunda," ucap mereka serentak.


"Waallaikum sallam, cari siapa ya?" tanya wanita paruh baya yang sedang memetik daun singkong untuk dimasak.


"Kami dari yayasan xxx, untuk membantu membedah rumah, dan rumah Bunda terpilih." ucap Nadine.


"Ya Allah, benarkah?" tanya wanita itu kemudian menangis.


Nadine memperlihatkan dokumen untuk meyakinkan orang tersebut.


"Maaf saya tidak bisa membaca," ucap wanita itu.


"Boleh kami menemui suami Bunda?" tanya Aisyah.


"Mari, mari silahkan." ucap wanita itu dengan senang hati.


"Nama Bunda Narti, benar?" tanya Nadine.


"Iya, iya benar." jawab Narti.


"Dan nama suaminya Manto, benar?" tanya Nadine lagi. Narti menggangguku membenarkan.


"Disini Bunda bukan hanya mendapatkan perbaikan rumah, tapi juga pengobatan gratis, tapi Bunda dan ayah harus ke ibukota untuk berobat," ucap Cahaya meyakinkan.


Mendengar suaminya mendapatkan pengobatan gratis Narti langsung bersujud dilantai, menangis antara sedih dan bahagia.


"Bunda sama ayah bersiap siap ya kita akan berangkat sebentar lagi," ucap Aisyah.


Sedangkan Ray dan Ren menemui ketua kampung untuk meminta izin. Tentu saja mereka mengizinkan. Pak Lurah pak RT sangat senang mendengarnya.


Sebelumnya Ren sudah menelepon karyawan nya untuk membangun rumah tersebut, setelah mendapat telepon dari bos mereka, mereka pun bergerak cepat menuju lokasi. Rumah mereka diperkirakan siap dalam dua Minggu, beserta perabotan rumah tangga.


Manto yang badannya kurus jadi enteng untuk Ram mengangkatnya. Mereka hari ini juga akan berangkat ke ibukota menuju rumah sakit yang akan merawat Manto.


Para warga berkumpul menyaksikan Manto dibawa oleh mereka.


(Gak apa-apa kali ya berbohong demi kebaikan).


Ray Ren dan Ram bersalaman dan pamit kepada warga, mereka sangat antusias melihat orang kota datang ke kampung mereka.


Terimakasih Pak," ucap Ram sopan.


"Sama sama," jawab Pak Lurah.


Mobil mereka pun perlahan meninggalkan perkampungan tersebut, Azura belum tau kalau orang tuanya dibawa ke ibukota.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2