
.
.
.
Hari berlalu, sekarang disekolah triple A sedang melaksanakan ujian nasional. Zeline sejak kejadian hari itu menjadi pendiam. Karena perusahaan Papanya diambang kebangkrutan. Triple A masih belum mau mengembalikan data data perusahaan yang mereka curi tersebut. Triple A masih ingin memberi pelajaran untuk mereka agar lebih bisa menghargai orang lain.
"Kenapa kita masih harus menyiksa mereka?" tanya Lica pada Lina. Diantara mereka bertiga Lica lah yang paling lembut hatinya, sedangkan Lina sangat tegas dan lebih berani dari saudara saudaranya. Dan juga Lina yang paling kejam diantara mereka. Sedangkan Lita netral aja. Lina disegani oleh Lita dan Lica, bukan takut hanya segan. Karena Lina tegas dalam hal apapun. Kalau Lina bilang A maka keduanya tidak akan membantah.
"Biarkan saja, biarkan mereka datang meminta maaf baru aku kembalikan perusahaan mereka seperti semula." jawab Lina enteng.
Zeline disudut ruangan kelas dipojokkan teman temannya. Teman yang dulu mendukungnya kini berbalik mencacinya. Karena mereka tidak mau berteman dengan orang miskin. Tidak ada lagi yang bisa Zeline banggakan, kekayaan yang selama ini menjadi kebanggaannya sudah lenyap.
"Kalian mulai hari ini akan melaksanakan ujian nasional," ucap Pak Rahmat, setelah itu Pak Rahmat pun membagikan kertas ujian tersebut.
"Sekarang kalian Bapak beri waktu 60 menit untuk menyelesaikan semuanya." ucap Pak Rahmat.
"Baik Pak," jawab anak anak serentak.
"semangat bro, walaupun nanti kamu kalah tidak apa-apa yang penting kamu sudah berusaha." ucap Zaidan pada Randy. Randy tersenyum kecut sambil melihat kearah tiga bersaudara tersebut.
"Demi kamu, apapun yang terjadi aku akan berusaha, kegagalan hari ini adalah kesuksesan yang tertunda," batin Randy. Kemudian Randy pun menjawab soal-soal tersebut.
Sedangkan triple A sangat fokus mengerjakan soal-soal tersebut dan tanpa menoleh kiri kanan depan belakang. Mereka hanya tertuju pada kertas ujian saja. Sepuluh menit berlalu, triple A bangkit dan berhasil menjawab semuanya. Pak Rahmat tersenyum, ia teringat dengan sikembar dulu, murid paling jenius di sekolah ini.
"Kami sudah selesai Pak," kata triple A serentak. Pak Rahmat tersenyum.
"Bagus, kalian sama seperti kakak kalian dulu," ucap Pak Rahmat.
"Kalau begitu kalian boleh istirahat, dan nanti masih ada satu pelajaran lagi," ucap Pak Rahmat lagi.
Triple A pun keluar dari kelas mencari tempat yang enak dan nyaman untuk bersantai, yaitu sebuah taman di sekolah ini.
...****************...
Sikembar hari ini tidak kekantor, Darmendra dan Diva juga tidak kemana mana, saat ini mereka sedang berkumpul diruang keluarga.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Jordan sebagai kepala keluarga dikediaman ini.
"Kami mau melamar Opa," ucap Ram. Karena disini Ram yang paling berani berterus terang. Yang lain masih takut takut untuk berterus terang.
"Kapan?" tanya Darmendra, sebenarnya Darmendra masih terasa berat untuk melepas anak anaknya mendirikan rumah tangga, tapi ia juga tidak ingin membantah, takut nanti anaknya berontak. Meskipun sikembar itu laki laki, tapi usia mereka masih sangat muda.
__ADS_1
"Inilah yang ingin kami bahas Dad, kami juga mau minta pendapat dari orang tua, setidaknya usulan yang baik untuk menentukan waktunya," jawab Ram.
"Hmmm, kalau menurut Opa, sebaiknya Minggu depan saja, karena kita juga butuh persiapan." Jordan.
"Oma setuju, nanti Oma sama Opa juga akan ikut mendatangi rumah mereka satu persatu," ucap Vera.
"Begini Oma Opa Mommy Daddy, apa tidak sebaiknya acara lamaran disediakan dalam satu tempat saja?" tanya Ram.
"Maksudnya bagaimana sayang?" tanya Diva.
"Begini Mom, kita undang orang tua mereka datang kesini atau hotel juga tidak apa-apa, dengan begitu kita tidak perlu repot-repot datang kerumah mereka masing-masing," jawab Ren.
"Bagaimana kalau kita undang ke mansion ini saja, nanti acara pertunangan baru kita adakan di hotel," usulan Vera.
"Boleh, Mommy setuju dengan Oma," ucap Diva.
"Kalau begitu kalian beritahu keluarga pacar kalian," ucap Darmendra.
"Baik Dad," jawab sikembar serentak.
"Mom, acara lamaran dengan tunangan beda ya?" tanya Darmendra kepada Vera, Darmendra memang kurang tau dalam masalah ini.
"Sebenarnya sih sama, hanya saja nanti agar lebih meriah sebaiknya dipisahkan saja, acara lamaran dibuat Minggu depan, dan setelah itu acara tunangannya, biar lebih meriah. Biarkan satu negara ini tau kalau sikembar udah bertunangan." ucap Vera.
"Iya Oma, acara lamaran sekaligus tunangan," sahut Roy.
"Kalian maunya seperti itu?" tanya Vera?
"Tidak mau dikenalkan ke publik?" tanyanya lagi.
"Nanti tunggu menikah dan resepsi baru disiarkan langsung keseluruhan negara ini," ucap Ray yang sejak tadi hanya diam saja.
"Tumben kamu bisa bicara son?" tanya Darmendra mengejek Ray.
"Ah Daddy, bicara salah gak bicara juga salah," jawab Ray.
"Biasanya kamu selalu bersikap dingin saja," ucap Darmendra lagi.
"Dad, Ray kini lebih banyak bicara setelah jatuh cinta," goda Ram. Mereka yang mendengar semua tertawa, hanya Ray saja yang terdiam.
"Sampai dimana pembahasan tadi?" tanya Jordan.
"Sebaiknya kita ikut saran Ram aja deh," jawab Rasya.
__ADS_1
"Setuju semuanya?" tanya Jordan.
"Setuju..!" jawab mereka serentak, hanya Vera yang tidak setuju. Yang pasti memilih suara terbanyak lah. Dengan sangat terpaksa Vera mengikuti juga.
"Sabar Oma, tidak lama lagi Oma akan menimang cicit kok," hibur Ram sambil memeluk Vera. Vera tersenyum sambil mengelus lengan cucunya itu.
"Tapi syaratnya Oma harus sehat selalu, biar bisa menimang cicit," ucap Ram lagi. Ram paling bisa meluluhkan hati Omanya, akhirnya Vera tersenyum senang.
"Kalian semua tidak ke kantor?" tanya Jordan.
"Libur nasional Dad, Opa," jawab Darmendra dan sikembar serentak.
"Alasan kalian terlalu klasik," ucap Jordan geleng-geleng.
Setelah selesai berbincang bincang tentang rencana lamaran mereka, sikembar kembali kekamar mereka masing-masing. Seperti kebiasaan mereka, mereka berebut untuk memasuki lift. Jordan Vera Darmendra dan Diva hanya geleng-geleng kepala.
"Sikap mereka memang tidak berubah," ucap Jordan.
"Sifat siapa yang mereka tiru?" tanya Darmendra.
"Sifat kamu lah, sewaktu kecil kamu selalu begitu, selalu seperti orang terburu buru," jawab Jordan. Darmendra menoleh kearah lain karena ditatap oleh Diva.
"Jadi hubby dulunya nakal ya?" tanya Diva.
"Nggak kok, Daddy bohong itu, sayang," jawab Darmendra, tapi ia tidak berani menatap Diva.
Ray menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, baru saja ia merebahkan diri masuk saudara saudaranya menyerbu kamarnya.
"Ngapain kesini?" tanya Ray.
"Kita mau ngajak kamu keluar, kita ngajak pacar kita cari cincin, gimana mau ikut gak?" tanya Ram.
"Ikutlah, sebentar aku ganti baju." jawab Ray.
"Gak usah, segitu aja udah ganteng kok," puji Ram, entah itu ikhlas atau tidak juga tidak tahu.
"Udah santai saja pakaiannya, gak perlu formal," kata Ren.
Mereka ingin menemui kekasih mereka masing-masing, untuk mengajak membeli cincin pertunangan mereka nanti.
.
.
__ADS_1
.