Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Cuma ingin memastikan.


__ADS_3

.


.


.


Darmendra bangkit lalu mengendong Diva ala bridal style. Diva melingkarkan tangannya dileher Darmendra, kemudian Darmendra membawa Diva kedalam kamar mandi. Darmendra meletakkan Diva didalam bathtub lalu menghidupkan kran air dan mengisi bathtub tersebut. Diva hanya diam diperlakukan seperti itu.


Setelah bathtub nya terisi, Darmendra menuangkan sabun cair dan mengucek nya hingga berbusa, barulah Darmendra masuk kedalam bathtub tersebut kemudian mandi bersama sama dengan istrinya.


Hanya sekedar mandi saja, karena jatah hari ini sudah Darmendra dapatkan.


"Sayang, apa kamu bahagia?" tanya Darmendra. Diva menatap wajah tampan suaminya, meskipun sudah 50an usia Darmendra, tapi pesonanya masih bisa menyaingi pria berusia 25-30an.


"Mengapa bertanya seperti itu, hubby?" tanya Diva balik.


"Cuma ingin memastikan saja," jawab Darmendra.


"Tentu saja aku bahagia hubby, apa hubby tidak melihatnya?" tanya Diva lagi. Darmendra tersenyum.


"Sudah yuk, kita akan main lagi bersama cucu cucu kita," jawab Darmendra mengalihkan topik pembicaraan.


Diva tidak menjawab, tapi ia keluar dari dalam bathtub dan menghidupkan shower untuk membilas busa sabun yang menempel ditubuhnya. Darmendra juga melakukan hal yang sama.


Kini mereka sudah berada didalam ruangan ganti, hanya dalam sekejap keduanya sudah berpakaian lengkap dan keluar dari kamar mereka untuk turun kebawah.


"Loh kok sepi?" tanya Darmendra saat mendapati tidak ada seorang pun diruang tersebut.


"Mereka sudah masuk kekamar masing-masing, sebab anak anak mereka sudah tertidur. Kalian sih katanya mandi tapi sampai berjam jam." ucap Vera yang tiba tiba berada didekat mereka.


"Ya sudah, lebih baik aku kedapur saja," ucap Diva. Kemudian Diva berjalan menuju dapur, ternyata disana ada Aisyah dan Cahaya sedang memasak.


"Kalian mengapa memasak? Terus anak anak kalian siapa yang jagain?" tanya Diva.


"Ada ayah mereka yang jagain Mom, dan juga mereka sedang tidur," jawab Cahaya.


"Ya sudah, Mommy bantu kalian," ucap Diva.


"Tidak usah Mom, sebentar lagi juga selesai," jawab Aisyah.


Pelayan datang dan melihat majikan mereka sedang memasak, lalu pelayan mengumpulkan peralatan dapur yang kotor untuk mereka cuci.


Aisyah dan Cahaya sudah selesai dengan acara memasaknya, dan meminta para pelayan untuk menghidangkan nya.


"Bik tolong dihidangkan ya, aku mau kekamar dulu untuk melihat anak anakku," ucap Aisyah.


"Baik nyonya muda," ucap Marni mengiyakan.

__ADS_1


Aisyah kembali kekamar, dan Cahaya juga balik kekamar, Cahaya melihat Ram sedang duduk di sofa sambil memangku laptop miliknya mengerjakan dokumen penting perusahaan, karena pekerjaannya cukup banyak. Didalam tas kerjanya berisi berkas penting semua.


"Ayah, bulan depan aku sudah magang di rumah sakit xxxx," ucap Cahaya dan duduk disamping suaminya. Ram menoleh dan mengecup singkat bibir Cahaya.


"Oya, bagus dong?" tanya Ram.


"Tapi bagaimana dengan anak anak?" tanya Cahaya balik.


"Kita sewa baby sitter bagaimana?" tanya Ram lagi.


"Itulah masalah yang ingin aku bincangkan," jawab Cahaya.


"Tidak perlu khawatir tentang itu, nanti kita bicarakan masalah ini kepada Mommy dan keluarga yang lain." ucap Ram sambil mengelus rambut panjang Cahaya.


"Ayah masih sibuk?" tanya Cahaya.


"Tidak juga, kenapa?" tanya Ram.


"Mmmm, tidak...!" kata Cahaya, tapi tangannya sudah bermain didada bidang suaminya. Ram menutup laptopnya dan bangkit dari duduknya lalu menggendong Cahaya ketempat tidur. Mereka sengaja menyediakan tempat tidur king size dikamar baby Al dan baby Ale. karena mereka biasa tidur ditempat itu juga. Terkadang Vera dan Jordan juga tidur disitu kalau Cahaya dan Ram tidur di kamar mereka.


Ram menc*um bibir merah Cahaya dan m*l**atya, Cahaya membalasnya. Memang sejak Cahaya melahirkan bayi kembarnya, mereka belum pernah melakukan hubungan suami istri. Bukan tidak ingin, tapi Ram tidak mau terburu-buru. Biar Cahaya sembuh total dulu baru mereka melakukannya.


"Kamu sudah siap sayang?" tanya Ram, Cahaya mengangguk pelan. Ram juga sudah siap untuk melakukan pendakian.


"Eeek," rengek suara dari dalam box bayi, Ram menoleh kearah box bayi tersebut, ternyata baby Al yang merengek. Ram ingin melanjutkan pendakiannya tapi suara rengekan kembali terdengar, kali ini dari baby Ale.


Ram terpaksa mengurungkan niatnya untuk mendaki, padahal segala persiapan sudah lengkap semuanya hanya tinggal menunggu berangkat menuju puncak nantinya.


"Sabar ayah, baby Al dan baby Ale lagi mode jahit."


"Hmmm," jawab Ram mengangguk. Ram menghampiri box bayi ternyata anak mereka sudah membuka matanya.


"Anak ayah nakal ya?" tanya Ram pada kedua anaknya. Tapi anaknya malah tertawa mungkin mereka mengira sang ayah mengajak mereka bermain.


"Bawa kesini yah, mungkin mereka lapar," ucap Cahaya. Lalu Ram menggendong baby Al terlebih dahulu dan memberikannya kepada Cahaya, kemudian Ram menggendong baby Ale dan mengajaknya bermain.


"Aku akan mengajari anak anak untuk berbuat kebaikan dimasa depan." ucap Ram.


"Iya ayah, dan kita akan mengajari mereka ilmu beladiri sejak usia dini, kita tidak tahu kedepannya seperti apa?" tanya Cahaya.


"Itu pasti sayang, karena kejahatan ada dimana mana." jawab Ram.


"Bagaimana kalau baby Ale menjadi gadis bar bar?" tanya Cahaya.


"Apa yang salah dengan gadis bar bar? Terkadang gadis bar bar itu lebih bisa menjaga dirinya sendiri, daripada yang sok polos tapi aslinya j*l*ng," jawab Ram.


"Kalau anaknya bar bar gak heran sih, karena bundanya siratu bar bar," ucap Ram lagi.

__ADS_1


Cahaya hanya nyengir sambil memberikan asi kepada bayinya. Baby Al hanya mengerjap ngerjapkan matanya mendengar pembicaraan ayah dan bundanya.


Setelah baby Al kenyang, sekarang giliran baby Ale lagi yang minum asi. Akhirnya kedua anaknya tidur kembali setelah mereka kenyang.


"Kita lanjutkan dikamar kita aja yuk," ajak Ram. Cahaya mengangguk. Keduanya pun keluar dari kamar anaknya dan masuk kedalam kamar mereka untuk melanjutkan pendakian mereka yang tertunda.


Akhirnya mereka pun memulai pendakian dan kali ini tidak ada lagi gangguan sehingga perjalanan mereka untuk menuju puncak tertinggi tidak mengalami hambatan sedikitpun.


"Gimana sayang? Letih?" tanya Ram yang berbaring disamping istrinya. Karena mereka sudah mencapai puncak.


"Sedikit, tapi nanti malam aku mau lagi," jawab Cahaya.


"Dengan senang hati sayang, kita akan membawa bekal yang banyak untuk pendakian nanti, karena untuk mencapai puncak cukup menguras tenaga," ucap Ram.


Kemudian keduanya pun mandi bersama, hanya mandi dan tidak mendaki lagi. Setelah beberapa menit keduanya pun selesai mandi dan berpakaian. Setelah itu baru mereka kembali kekamar baby Al dan Ale.


Ternyata Vera sudah ada disitu sedang duduk bersama Jordan di sofa.


"Oma, Opa...!" sapa Ram dan Cahaya serentak.


"Mengapa baby Al dan Ale ditinggal sendiri?" tanya Vera.


"Maaf Oma, tadi aku melayani suamiku untuk mandi," jawab Cahaya menunduk.


"Sudahlah Mom, lagipula mereka juga tidur," ucap Jordan.


"Kalian sudah makan?" tanya Vera, Ram dan Cahaya menggeleng.


"Makan dulu sana, sudah waktunya makan siang. Baby Al dan Ale biar Oma yang jaga," perintah Vera.


"Oma sama Opa sudah makan?" tanya Cahaya.


"Kami sudah makan, tadinya ingin menunggu kalian tapi kalian kelamaan, jadi kami makan duluan," jawab Vera.


"Sudah sana makan dulu," titah Jordan.


"Baik Opa," jawab Ram sambil mengecup pipi Jordan.


"Nih anak, sewaktu kecil gak mau dicium. Sekarang malah dia yang mencium," ucap Jordan.


"Aku sayang Opa," jawab Ram.


"Sama Oma?" tanya Vera.


"Sayang dong Oma," jawab Ram lalu mengecup pipi Vera yang sudah mulai keriput tapi masih tetap cantik walau sudah tidak muda lagi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2