Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Kemarahan Cahaya


__ADS_3

.


.


.


PLAAK... PLAAK... Agnesia berulang kali menampar pipi Wardina. Wardina hanya bisa pasrah sebab tangan dan kakinya diikat. Wardina ditodong pistol dipelipisnya, membuat Wardina menjadi semakin takut. Wardina bukan takut untuk mati, tapi ia takut akan mati seperti ini.


"Aku belum puas sebelum aku memb*nuhmu dan anakmu," ucap Agnesia. Wardina yang takut tidak bisa berbuat apa-apa?.


Sementara Ram dan Cahaya sudah tiba di lokasi yang dituju. Keduanya pun keluar dari mobil. Mobil mereka terparkir cukup jauh agar tidak terlalu mencolok dan menimbulkan kecurigaan. Sedangkan saudaranya masih dalam perjalanan. Mereka mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tidak berapa lama mereka juga sudah sampai di lokasi, dan menghentikan mobilnya didekat mobil milik Ram.


"Inikan bekas pabrik yang terbakar dulu?" tanya Ren.


"Ya, karena ada yang iri dengan keberhasilan pabrik tersebut makanya pabrik ini dibakar hingga pemiliknya mengalami kebangkrutan," jawab Ray. Mereka menghampiri Ram dan Cahaya yang sedang memantau situasi.


"Sebaiknya kita mendekat, agar kita bisa tau situasinya," ucap Raffa. Mereka semua mengangguk.


"Sebaiknya kita berpencar saja," perintah Ray.


"Oke, kita berpencar," jawab Ram. Mereka berpencar mengelilingi pabrik tersebut.


Sementara didalam gudang, Agnesia terus melampiaskan dendamnya.


"Aku akan terus menyiksamu sampai kau tidak sanggup lagi untuk hidup." ucap Agnesia sambil menarik rambut Wardina sehingga wajah Wardina mendongak, pipi nya yang bengkak dan susut bibirnya berdarah karena bekas tamparan keras dari Agnesia. Entahlah Agnesia seperti orang kesetanan saat melihat Wardina.


"Kamu memang sudah tidak war*s Nesa," kata Wardina.


"Masih berani kamu bicara? Apa tamparan dariku masih belum cukup?" tanya Agnesia dengan mata melotot.


"Kau tidak tahu bagaimana selama disekolah aku menahan rasa sakit hatiku, tapi aku berpura-pura baik kepadamu agar aku bisa dekat dengan Aditya," ucap Agnesia lagi.


"Bukankah kamu sudah mendapatkannya?" tanya Wardina. Meskipun wajah Wardina sudah lebam akibat tamparan Agnesia, tapi Wardina masih sanggup menjawab perkataan Agnesia.


"Ya, memang aku sudah mendapatkannya, tapi aku tidak pernah dianggap olehnya. Selama aku menikah dengannya sekalipun ia tidak pernah menyentuhku. makanya aku berselingkuh dan setelah merebut semua hartanya aku mengusir dia, hahaha."


"Kau memang g*la Nesa," kata Wardina.

__ADS_1


"Ya, aku memang g*la, aku g*la," teriak Agnesia.


"Dan semua itu karena kau," ucap Agnesia lagi sambil menuding jari telunjuknya kearah Wardina.


"Dan kau tau? Sewaktu Aditya menemuimu, aku menyuruh orang untuk memb*nuhnya. Dengan menabraknya agar seolah olah itu adalah kecelakaan," ucap Agnesia.


Deg...


Cahaya yang bersembunyi dibalik tembok mendengar pengakuan dari Agnesia membuatnya terkejut. Kini ia tau semuanya mengapa ayahnya tega mengusir ibu dan dirinya? Ternyata semua itu didalangi oleh sahabat ibunya. Cahaya memang tidak tahu apa-apa ketika itu?.


Wardina juga tidak kalah terkejut, ternyata kedatangan mantan suaminya untuk meminta maaf ketika itu adalah pertemuan mereka yang terakhir.


Diam diam Ram merekam semuanya untuk dijadikan bukti nantinya.


Sementara disisi lain, keempat orang suruhan Agnesia sedang duduk santai, tiba tiba datang Ren menghampiri mereka.


"Siapa kamu?" tanya salah satu dari mereka yang badannya lebih besar serta brewok tebal.


"Aku adalah malaikat pencabut nyawa," ucap Ren santai. Belum mereka menjawab datang lagi Ray, Raffa, Rasya, Roy dan Rakha. Mereka berlima berjalan dengan sangat cool. Menghampiri Ren yang sedang berdiri berhadapan dengan orang suruhan Agnesia.


"Oh kalian mau cari mati rupanya," kata pria itu sambil mengeluarkan pistol dari sakunya.


"Senjata itu tidak mempan buat kami," ucap Ren.


"Hahaha, kita lihat saja. Siapa yang akan mati duluan?" tanya pria itu. Belum sempat ia menarik pelatuknya Roy sudah lebih dulu menendang tangan pria itu hingga pistol tersebut terlempar. Tanpa membuang waktu lagi Ren dan Roy segera menghajar mereka berempat. Hanya dua orang yang turun tangan yang lain hanya jadi penonton, itupun sudah membuat orang suruhan Agnesia tidak berkutik.


"Cis...lemah," ejek Roy sambil menginjak dada pria itu. Keempat pria itu sudah terkapar tidak berdaya.


"Hubungi polisi," perintah Ray. Ren segera menghubungi polisi dan mengirimkan lokasi mereka berada.


"Kita ketempat ibu Wardina," kata Ren. Mereka semua mengangguk dan mengikuti Ren dari belakang.


Ditempat Wardina....


Agnesia kembali menampar Wardina, melihat ibunya disiksa, Cahaya sudah tidak sanggup lagi menahan diri. Cahaya keluar dari persembunyiannya dan berlari menerjang punggung Agnesia. Agnesia terdorong kedepan sebab Cahaya menerjangnya dari belakang.


"Sayang...!" teriak Ram yang tidak bisa mencegah Cahaya. Ram begitu khawatir dengan Cahaya. Mengingat kata dokter kehamilan di trimester pertama sangat rawan keguguran, hal itu semakin membuat Ram khawatir. Tapi untuk mencegah Cahaya sepertinya sudah terlambat.


Cahaya yang sudah dikuasai emosi seakan lupa kalau dirinya sedang hamil. Ram berlari hendak menghampiri Cahaya, tapi ia dihadang oleh Edward.

__ADS_1


"Minggir," ucap Ram penuh intonasi rendah tapi menyiratkan ancaman.


"Hahaha, lawan aku dulu baru kau selamatkan ibu mertuamu," ucap Edward penuh ejekan.


"Apa tidak cukup membuat kalian jera setelah kubuat bangkrut perusahaan kalian?" tanya Ram.


"Jangan mentang-mentang kau berkuasa, kau kira aku takut?" tanya Edward balik.


"Baik kalau dengan cara ini yang kalian inginkan. Kalian jual aku beli," ucap Ram menepuk dadanya sendiri.


Sementara Cahaya sedang melepaskan ikatan tangan dan kaki pada ibunya. perlahan Agnesia bangkit dan menyerang Cahaya dengan tendangan. Beruntung Cahaya selalu siaga hingga dengan gesit ia menghindari tendangan tersebut. Ikatan tangan pada Wardina sudah terlepas hanya tinggal ikatan pada kaki saja.


Cahaya sedikit menjauh dari ibunya untuk memberikan ruang kepada dirinya sendiri.


Agnesia begitu berambisi untuk mengalahkan Cahaya. Agnesia menendang tapi Cahaya menghindar hingga tendangan tersebut hanya mengenai angin. Kemudian Agnesia meninju wajah Cahaya, Cahaya mengelak dengan cepat.


"Ooh... hebat juga ternyata kamu," ucap Agnesia seperti meremehkan Cahaya.


Cahaya belum melakukan perlawanan, Cahaya hanya menghindari serangan tersebut.


Agnesia kembali menendang Cahaya dibagian perut, Cahaya memiringkan tubuhnya dan berbalik menyikut Agnesia tepat mengenai hidungnya. Darah segar mengalir dari hidung tersebut.


"Aaakh, S*al...!" teriak Agnesia. Agnesia mengelap hidungnya menggunakan tisu yang ia bawa.


Sementara Cahaya menyeringai, ia benar benar lupa kalau sedang hamil. Sedangkan Wardina sudah melepaskan diri dari ikatan tersebut. Ia juga begitu khawatir dengan kehamilan putrinya.


"Semoga calon cucuku akan baik baik saja," batin Wardina.


Agnesia kembali menyerang, ia tidak akan menyerah sebelum ia menjatuhkan Cahaya. Agnesia menendang kembali dibagian perut Cahaya, tapi kali ini Cahaya berhasil menangkap kaki Agnesia dan memelintirnya.


"Aakh...!" Agnesia menjerit karena kakinya dipelintir oleh Cahaya sehingga Agnesia terjatuh dilantai gudang tersebut. Cahaya meninju wajah Agnesia bertubi-tubi sambil berkata.


"Ini untuk ibuku yang telah kau siksa, dan ini untuk ayahku yang telah kau bunuh," ucap Cahaya sambil melampiaskan kemarahannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2