
.
.
.
"Aku lebih senang kamu tidak menghubungi aku," ucap Lina ketus.
"Kok gitu sih sayang?" tanya suara itu.
"Randy, kita masih kecil jangan panggil aku sayang," ucap Lina dengan teriakan tertahan.
"Aku hanya merindukanmu, sayang," kata Randy lagi.
"RAAANNDY...!" Lina sudah benar benar tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak berteriak, sedangkan Randy tanpa rasa bersalah malah tertawa diseberang sana.
Hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi Randy yang memang sudah sangat mencintai gadis itu.
"Tiba saatnya nanti aku akan datang untuk melamarmu, tapi setelah aku benar benar sukses," Randy sudah bertekad untuk memperjuangkan cintanya, meskipun ini hanyalah cinta monyet. Tapi bagi Randy ini adalah cinta sejatinya.
"Kalau tidak ada lagi, aku tutup teleponnya," ucap Lina.
"Sayang, jangan dulu aku masih kangen," ucap Randy. Tapi Lina seolah tidak mendengarnya malah menutup telepon secara sepihak.
"Hmmm ada ada saja," gumam Lina, tapi bibirnya tersenyum.
"Aku gak yakin kalau dia bisa menungguku, perubahan pasti akan banyak terjadi dikemudian hari," gumam Lina lagi.
"Ehh, kenapa denganku? Seolah olah aku berharap dia akan menungguku," monolog Lina pada dirinya sendiri.
Ting... Satu pesan masuk di aplikasi berlogo hijau, Lina melirik sekilas dan ternyata nomor yang sama saat beberapa detik meneleponnya tadi.
'Tunggu aku sukses aku akan kembali untuk menemuimu. Aku tidak ingin calon ratu hatiku hidup susah hidup bersama denganku dikemudian hari.'
Lina mengabaikan pesan tersebut dan meletakkan ponselnya diatas nakas, ia kembali berbaring sambil bergumam sendiri.
"Cih, siapa juga yang ingin menjadi istrimu?" kemudian Lina memejamkan matanya dan perlahan lahan ia tertidur.
__ADS_1
Kedua saudaranya ingin masuk kekamar Lina tapi diurungkan karena melihat Lina yang seperti kelelahan. Mereka tahu Lina baru sembuh jadi butuh istirahat. Tapi Lina nya aja yang ngeyel dan ngotot mau sekolah. Padahal 3 atau 4 Minggu ia tidak mengikuti pelajaran pun ia akan tetap bisa menjawab soal-soal ulangan harian atau ujian nantinya.
"Kakak kalian gak turun?" tanya Vera saat Lita dan Lica turun kebawah menemui Oma nya.
"Lina sedang tidur, sepertinya ia kecapean deh," jawab Lica.
"Memang apa yang ia lakukan sampai capek begitu?" tanya Vera lagi.
"Tadi kami menggagalkan perampokan dijalan xxx. Dan korbannya seorang pria yang mungkin seumuran Daddy," jawab Lita.
"Ada ada saja kejahatan di dunia ini, hampir setiap hari kalian berhadapan dengan orang jahat," ucap Vera.
"Mungkin ini sudah takdir kami Oma, tapi kami ikhlas kok." jawab Lica.
"Oma tau kalian anak anak baik," ucap Vera mengelus kedua cucunya itu.
"Sedang apa?" tanya Jordan yang baru keluar dari kamar. Kemudian ia menghampiri istrinya. Lita dan Lica berpindah tempat ke sofa lainnya untuk memberikan ruang kepada Opanya berdekatan dengan Oma nya.
"Kalian tidak istirahat siang?" tanya Jordan. Keduanya menggeleng.
Dikamar Lina...
"Kenapa bisa seperti ini? Sejak kapan aku punya pakaian seperti ini?" batin Lina. Lina terus berjalan menyusuri padang rumput tersebut dengan harapan bisa kembali ke mansion. Lina terus berjalan, dan anehnya ia tidak memakai alas kaki.
Merasa sudah terlalu jauh berjalan, tapi Lina tidak menemukan apapun selain padang rumput yang luas itu. Saat Lina sudah merasa lelah, lalu datang segerombolan perampok juga dengan pakaian zaman dulu. Lina mencoba melawan dan keanehan terjadi lagi. Ternyata Lina tidak bisa apa-apa? Lina hanya memberontak saat para perampok itu menangkapnya.
Lina kemudian berlari dengan harapan bisa terlepas dari para perampok tersebut, tapi sayangnya, Lina malah tertangkap oleh mereka.
"Wah kita dapat barang bagus, ketua." ucap salah satu dari mereka.
"Hmmm, ikat dia dan bawa kemarkas kita. Nanti ada pel*ngg*n yang datang untuk membeli bud*k," perintah ketua tersebut.
Lina pun dibawa oleh beberapa orang pria yang berwajah sangar.
"Tidak, jangan bawa saya, tidak...!" teriak Lina memberontak.
"Hahaha...sia sia saja kamu berontak adik manis, malam ini kamu akan kami jual untuk dijadikan bud*k," ucap ketua mereka.
__ADS_1
"Tidak.... Jangan," Lina memohon untuk dilepaskan.
Dari kejauhan tampak seorang pria gagah dan tampan sedang menunggangi kuda, dan pakaiannya seperti seorang pangeran dizaman dulu. Pria itu terus mendekat dan kemudian melompat dari kuda terus menendang salah satu dari perampok tersebut.
Lina pun terlepas, tapi masih tetap terikat. Lina sedikit menjauh dari mereka, karena mereka sedang bertarung. Perampok tersebut membawa golok sebagai senjata mereka sedangkan pemuda itu membawa keris sebagai senjatanya.
Lina bergetar hebat karena takut, ia hanya menyaksikan pertarungan tersebut hingga akhirnya para perampok pun jatuh tak berdaya ditanah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pemuda itu, Lina menggeleng. Wajahnya pucat karena ketakutan. Pemuda itupun melepaskan ikatan tersebut dan menggiring Lina kekuda pemuda itu. Lina pun diangkat dan dinaikkan ke punggung kuda. Sedangkan pemuda itu berjalan sambil memegang kuda tersebut. Sampai disuatu tempat pemuda itu menurunkan Lina dari kuda.
"Kau selusuri jalan ini, karena jalan ini akan membawamu kembali. Dan maafkan aku tidak bisa mengantarmu. Tapi yakinlah suatu saat nanti aku akan datang menjemputmu untuk menjadikanmu ratuku," ucap pemuda itu. Lina hanya terdiam karena ia juga tidak tahu harus berkata apa? Pemuda itu memegang tangan Lina dan mengecupnya lembut.
Kemudian Lina pun mengikuti jalan yang ditunjuk pemuda tersebut. Dan perlahan Lina membuka matanya.
"Ternyata cuma mimpi, tapi apa maksudnya?" gumam Lina. Lina menghela nafas, dan segera bangun kemudian masuk kedalam kamar mandi. Lina mencuci mukanya dan terus memikirkan apa maksud dari mimpi tersebut?.
"Kata orang mimpi hanya bunga tidur," gumam Lina.
"Tapi kenapa aku jadi kepikiran sama mimpi itu? Ah sudahlah lagian cuma mimpi kok," monolog Lina pada dirinya sendiri.
Tidak berapa lama kedua saudaranya masuk. Dan melihat ke ranjang ternyata sudah kosong, mereka bisa menebak kalau Lina sedang dikamar mandi. Tak berapa lama Lina pun keluar.
"Sejak kapan kalian disini?" tanya Lina datar.
"Bisa gak sesama saudara gak usah datar gitu mukanya?" tanya Lica balik, dan bukan menjawab pertanyaan Lina.
"Gak bisa, karena kalian masuk diwaktu yang tidak tepat," ucap Lina. Lina menceritakan kalau dia juga sudah datang bulan, seperti yang Lica alami waktu itu.
"Sejak kapan?" tanya Lica.
"Entahlah, saat aku bangun tidur rasanya begitu berbeda, dan sewaktu ku periksa ternyata aku mengalami seperti apa yang kamu alami waktu itu," jawab Lina dengan gamblang.
"Yah, cuma aku aja yang belum," ucap Lita sendu.
.
.
__ADS_1
.