
.
.
.
Sementara Aisyah dan Ren sudah tiba didepan kampus, Aisyah mencium tangan Ren sebelum turun dari mobil mewah milik Ren..
"Selamat belajar, sayang," ucap Ren, Aisyah pun mengangguk.
"Abang hati hati, dan selamat bekerja," ucap Aisyah. Kemudian Aisyah keluar dari mobil, lalu melambaikan tangannya pada Ren. Hingga Ren tidak terlihat lagi barulah Aisyah masuk.
Para mahasiswa dan mahasiswi menatap sinis kepada Aisyah, seperti Aisyah membuat kesalahan besar. Selama ini mereka tidak melihat Aisyah dekat dengan pria, tapi kali ini Aisyah terlihat lengket.
"Heh j*l*ng," tegur salah satu mahasiswi, Aisyah yang awalnya tidak peduli, tapi karena memang panggilan itu ditujukan kepadanya membuat ia emosi.
"Apa kamu bilang?" tanya Aisyah mendekati wanita itu.
"Kenapa? Lu atersinggung dibilang j*l*ng?" tanya wanita itu yang bernama Callista.
"Apa salah aku jalan bersama tunanganku?" tanya Aisyah sambil menunjukkan cincin berlian dijari manisnya. Seketika Callista terperangah.
"Jangan bohong lu, sejak kapan lu bertunangan?" tanya Callista.
"Apa harus izin ke kamu dulu kalau aku mau tunangan?" tanya Aisyah.
"Cih, gue gak percaya, selama ini lu tidak pernah dekat dengan cowok, tiba-tiba ngaku tunangan," cibir Callista.
"Aku tidak pernah dekat sama cowok karena aku sudah punya kekasih, dan dia baru kembali dari luar negeri, aku tidak seperti kamu yang gonta ganti lelaki," ucap Aisyah pedas.
"Ada apa ini?" tanya Aruna sahabat Aisyah yang baru datang ke kampus.
"Itu si wanita sampah mau cari masalah, ada ada saja," jawab Aisyah.
Aruna mendekati Callista dan berbisik, "Kalau mau mukamu yang cantik ini hancur jangan cari masalah dengan kami."
Seketika wajah Callista pucat, dia tau betul kalau Aruna sudah ngomong begitu maka ia tidak akan main main. Dan... buugh. Satu pukulan mendarat sempurna diwajah Callista hingga hidungnya berdarah. Ternyata Aruna lah yang menonjoknya, Aisyah juga tidak mau kalah, ia masih sakit hati dibilang j*l*ng. Satu bogem mentah juga mendarat ditempat yang sama membuat Callista menjerit kesakitan.
"Aaakh, Sakit... wajah gue, hidung gue." teriaknya. Hidungnya mancung hasil olahan tangan terampil. Tidak seperti Aisyah yang mancung alami.
"Itu baru peringatan," ucap Aruna berbisik ditelinga Callista.
Setelah Aisyah dan Aruna pergi, barulah teman teman Callista mendekat.
"Lo tidak apa-apa?" tanya Arumi teman Callista.
"Hidung gue rasanya patah," ucap Callista yang mengelap hidungnya yang berdarah.
__ADS_1
"Lo sih, cari masalah sama dua preman itu," kata Arumi.
"Habisnya gue kesal, cowok gue juga dia rebut." ucap Callista.
"Bukannya cowok lo yang ngejar ngejar si Aisyah?" tanya Arumi.
"Iya, gara gara dia godain cowok gue," jawab Callista.
"Hah lo, cowok playboy gitu dipertahanin, kalau gue udah gue buang kelaut tuh cowok. Ganteng apa gunanya kalau suka h*milin wanita," ucap Arumi geram.
Akhirnya Arumi pergi meninggalkan Callista seorang diri, sebenarnya ia malas berteman dengan Callista. Tapi apa boleh buat, Callista selalu mengancam dia. Arumi juga sebenarnya enggan berurusan dengan Aisyah dan Aruna, sebab itu ia selalu berusaha menghindar.
"Ternyata dia belum kapok juga," ucap Aisyah, saat ini mereka sudah berada diruang kelas.
"Memangnya ada apa sih?" tanya Aruna.
"Biasalah, gara gara cowok br*ngs*k itu." kata Aisyah.
"Maksudmu si Arbi." ucap Aruna.
"Siapa lagi? Aku benar benar jenuh dengan sikapnya." kata Aisyah.
"Sudahlah, kalau dia ganggu kamu lagi kita gebukin aja tuh cowok." ucap Aruna. Tidak berapa lama dosen pun masuk.
Sementara Ren sedang sibuk dengan pekerjaannya, berkas yang menumpuk, dan belum selesai dikerjakan. Sebentar sebentar ia melirik jam tangannya.
Tok...tok...tok... pintu ruangan itu diketuk. Kemudian masuklah sang asisten. Adam berjalan kearah meja dan menyerahkan lagi berkas yang harus ditandatangani.
"Tuan muda, ini harus segera ditandatangani, semua sudah saya cek, tapi tuan harus cek ulang takut ada kesalahan," ucap Adam.
"Hmmm, sini..!" Ren mengambil berkas itu dan menyeleksi ulang, hanya sepintas ia sudah bisa tau isinya. Kemudian Ren pun menanda tangani berkas tersebut.
"Ada lagi?" tanya Ren.
"Tidak ada tuan muda," jawab Adam.
"Lalu kenapa masih disitu?" tanya Ren. Adam tidak menjawab, tapi segera keluar dari ruangan itu.
Ren menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Ren tersenyum membayangkan saat ia mengungkapkan perasaannya.
"Kenapa aku merindukannya?" Batin Ren. Padahal baru satu jam lebih mereka bertemu, masa sudah rindu lagi.
Ren mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya, supaya cepat selesai agar cepat bertemu pujaan hatinya. Mungkin Ren benar benar sudah dimabuk cinta.
"Kalau begini rasanya pengen cepat cepat menikah, pulang kerumah ada yang menanti dan ada yang dipeluk," gumam Ren.
"Tuan bicara sesuatu?" tanya Adam yang entah sejak kapan berada diruang bosnya itu.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu masuk? Kebiasaan masuk main nyelonong aja," tanya Ren.
"Saya sudah ketuk pintu berkali kali tuan muda, tapi tuan muda cuma bengong dan malah ngomong sendiri," jawab Adam.
"Hmmm, ada apa? Awas saja kalau tidak perlu," tanya Ren.
"Klien kita yang waktu itu tidak jadi meeting sekarang sedang menunggu diruang meeting tuan muda." ucap Adam.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Ren dengan nada dingin.
"Maaf tuan muda, klien kita itu datangnya juga mendadak," jawab Adam.
"Hmmm, baiklah kita kesana sekarang, jangan lupa berkas berkasnya," ucap Ren.
Ren dan Adam pun berjalan menuju ruang rapat, saat Ren membuka pintu ruangan itu, terlihat seorang lelaki paruh baya dan seorang wanita muda dengan pakaian s*ksi menggoda. Ren tidak melirik sama sekali kepada wanita itu.
"Dam, tolong kamu usir wanita itu, merusak pemandangan saja," ucap Ren dingin.
"Tapi dia Putri saya tuan Ren," kata pria itu.
Sedangkan wanita itu sudah memerah mukanya dibilang merusak pemandangan. Ren memang tidak suka cewek modelan kaya gitu.
"Dam, usir dia..!" perintah Ren. Adam cuma bisa mengangguk.
"Baik tuan muda," jawab Adam.
"Apa maksudnya tuan Ren?" tanya pria itu emosi.
"Tuan Robby, kita ingin melakukan kerjasama atau melakukan perdagangan wanita?" tanya Ren.
"Ap.. apa maksud tuan Ren? Saya benar benar tidak mengerti," tanya Robby dengan gugup.
"Baiklah, kerjasama kita batal, tuan pikir saya tidak tahu dengan maksud tuan membawa putri tuan?" tanya Ren.
"Tuan Ren, saya hanya ingin mengenalkan tuan pada putri saya," ucap Robby.
Sedangkan wanita itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, belum apa apa sudah ditolak mentah-mentah.
"Maaf tuan Robby, putri anda kurang menarik, dan lagi saya tidak mau dengan perempuan jelek seperti dia," ucap Ren.
Maksud Ren jelek itu akhlak wanita itu bukan wajahnya.
"Apakah benar saya kurang menarik tuan Ren?" tanya wanita itu.
.
.
__ADS_1
.