
.
.
.
Semua orang sedang berkumpul diruang keluarga demi membincangkan acara aqiqah yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Diva terpaksa menyuruh suaminya pulang, karena urusan suaminya juga sudah selesai. Darmendra yang tadinya bertemu dengan klien dari luar negeri sekarang sudah selesai. Darmendra dan kliennya hanya memperpanjang kontrak kerjasama mereka saja. Karena kliennya sangat berpuas hati dengan keuntungan yang mereka peroleh dari kerjasama tersebut jadi diperpanjang lagi.
Darmendra tiba di mansion dengan terburu-buru, Diva langsung menyambutnya didepan pintu dan membawanya keruang keluarga. beruntung ruangan itu sangat besar jadi bisa menampung banyak orang.
"Jadi bagaimana?" tanya Jordan. Semua yang ada disitu memberikan pendapat yang berbeda beda. Tapi karena kebanyakan pendapat mereka harus memilih salah satu saja. Sikembar juga turut andil dalam perbincangan tersebut.
"Kalau rencanaku sih, aku maunya yang sederhana saja. Ya seperti acara selamatan waktu itu. mengundang anak anak yatim dari panti asuhan dan mengundang fakir miskin," ucap Ram memberikan pendapat. Semua orang terdiam tertegun sejenak.
"Aku setuju," ucap Ren. Kemudian yang lain juga mengangguk setuju.
"Bagaimana kalau kita adakan Jum'at depan?" tanya Darmendra.
"Boleh juga," jawab Sofian. Yang lain juga setuju. Akhirnya diputuskan acara aqiqah diadakan Jum'at depan. Dan mereka akan menginap di mansion ini sampai acara aqiqah itu selesai. Para suami mereka yang bekerja pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi para istri menginap di mansion ini.
"Sebaiknya ayah menginap saja disini," ucap Ren pada Sofian.
"Bagaimana dengan usaha ayah? nanti terbengkalai," jawab Sofian.
"Siang hari ayah bekerja dan malam hari ayah pulang ke sini saja," jawab Ren.
"Kalau ayah dirumah, lebih dekat untuk pergi ketempat usaha," ucap Sofian.
"Sudahlah jangan dipaksa ayahmu, biarkan saja dia. Nanti kalau kangen ayahmu pasti nginap juga kok," kata Fatimah santai.
Sekarang sudah waktunya makan siang, sikembar membawa makanan kekamar mereka masing-masing untuk istrinya.
Sedangkan yang lain mereka makan dengan lesehan diruang keluarga, bukan tidak muat kalau dimeja makan, tapi kalau lesehan seperti ada kesenangan tersendiri.
Kali ini acara makan siang seperti dipasar, karena begitu ramai dan masing-masing dengan celotehan nya.
"Kami pulang...!" teriak suara membahana di mansion ini. Siapa lagi kalau bukan triple A pelakunya. Johan, Ansel, Rino dan Gibson ikut juga ternyata. Kemudian Ethan, Felix dan Gibran juga ikut. mereka masuk dan mendapati keluarga mereka sedang makan.
Triple A kekamarnya terlebih dahulu untuk menyimpan tas miliknya. Sedangkan Johan dan teman temannya langsung diajak makan bersama. Ethan, Felix dan Gibran menghampiri orang tuanya dan minta dilayani.
Tidak lama triple A pun turun kebawah dan bergabung dengan mereka untuk makan. para pelayan sengaja memasak banyak untuk menjamu mereka yang datang.
Didalam kamar...
__ADS_1
Ray menyuapi Nadine yang sedang duduk di sofa. Ray begitu telaten melayani istrinya. Sesekali ia juga menyuapi dirinya sendiri.
"Makan yang banyak sayang," perintah Ray.
"Aku sengaja mengambil nasi dan lauknya lebih banyak agar kita bisa makan sepiring berdua," ucap Ray lagi. Nadine hanya mengangguk.
"So sweet banget sih suamiku," ucap Nadine sambil mengelus pipi suaminya. Pipi yang mulus dan putih tanpa ada bulu halus pun disana. kemudian Nadine mengecup singkat bibir merah suaminya.
"Sayang jangan mancing mancing ya...!" ucap Ray yang berusaha menahan gejolak hatinya.
"Mancing apaan, memang disini ada kolam ikan?" tanya Nadine.
"Dengan mengecup bibirku, sayang bisa saja memancing aku," jawab Ray.
"Emang gak boleh ya mencium suami sendiri?" tanya Nadine. Ray menghela nafas sebelum menjawab.
"Boleh sayang, tapi sekarang aku dalam mode puasa, dan kami dalam mode silang," jawab Ray.
Pintu kamar triple D diketuk, Ray dan Nadine menoleh, karena kamarnya tidak dikunci jadi bisa langsung masuk.
"Mama...!" panggil Nadine dan Ray bersamaan.
"Kalian baru makan?" tanya Diana.
"Sudah, tadi beramai ramai makan dibawah, ternyata sangat menyenangkan," jawab Diana.
Kemudian ia mendekati box bayi triple D. Diana mencium pipi mereka satu persatu, tapi mereka tidak terusik sama sekali.
"Mereka belum bangun dari tadi?" tanya Diana.
"Tadi mereka bangun, merengek ternyata mereka lapar. Aneh Ma mereka tidak menangis sama sekali," jawab Ray.
"Biarkan saja mereka tidur, itu akan sangat baik untuk pertumbuhan mereka," ucap Diana.
"Papa tidak keatas Ma?" tanya Nadine.
"Papamu pulang, nanti malam dia kesini lagi," jawab Diana.
Sedangkan dibawah, semua sudah selesai makan, dan mereka naik keatas untuk melihat dedek bayi.
Anisa, Adefa dan Aryana masuk kekamar baby dua K dan dua Q. Terlihat wajah memerah bayi tersebut membuat mereka gemas.
"Duh, jadi pengen punya baby lagi," ucap Anisa, sedangkan suaminya sedang berada dibawah bersama Darmendra, Jhon dan Robert.
__ADS_1
Oh ya, Darmendra sekarang sudah mengganti asisten pribadinya dengan yang baru. Robert diberi perusahaan oleh Darmendra dibagian cabang, tapi sekarang dikelola oleh Robert dan sudah berpindah nama atas dirinya.
"Gibran juga sudah besar, sudah bisa diberi adik lagi," ucap Rakha.
"Tapi aunty sudah tua, bahkan lebih tua dari Mommy kalian, cocoknya aunty sudah punya cucu," jawab Anisa.
"Gak apa-apa kok aunty, baru kepala 4 dan masih terlihat cantik seperti gadis kalau jalan sendiri," ucap Keyla.
"Ada ada saja kalian," ucap Anisa sambil tertawa, jujur ia suka dipuji cantik. Apalagi kalau suaminya yang memuji. Beh bisa bisa meleleh.
Aryana menggendong baby Kenzo, sedangkan Adefa menggendong baby Kenzie.
"Tampan banget sih, gimana nanti bila sudah besar ya? pasti banyak cewek yang berkelahi gara gara memperebutkan mereka," tanya Aryana. Keyla tersenyum sambil melirik suaminya.
"Itu tergantung orangnya lagi aunty, moga aja mereka tidak mempermainkan wanita nantinya," jawab Keyla.
"Iya, seperti kalian tidak ada skandal tapi sekali jatuh cinta langsung menikah," ucap Adefa.
"Rasanya baru kemarin bertemu kalian dipantai," ucap Anisa menimpali.
Dikamar yang berbeda...
Adira sedang memberikan asi kepada bayinya, karena bayinya merengek. kemudian masuk Diva bersama ibu Adira.
"Nangis ya?" tanya ibu Adira.
"Tidak Bu, aku heran mereka tidak menangis sama sekali, hanya sewaktu baru lahir saja yang terdengar suara tangis mereka," jawab Adira.
"Mom, apa ada yang salah ya? Aku takut bayiku kenapa napa?" tanya Adira.
"Tidak ada apa-apa sayang, suamimu sewaktu kecil juga begitu. Dari umur satu hari sampai satu bulan mereka hanya tidur saja, dan bangun merengek sewaktu lapar atau sedang pup atau popoknya basah," jawab Diva.
"Aku takut mereka tidak normal Mom," ucap Adira lagi.
"Iya, gak normal kejeniusan mereka, bisa saja itu terjadi," kata Diva.
"Aku dulu, sewaktu sikembar masih kecil sampai kubawa ke dokter. Tapi bila diperiksa dokter mengatakan baik baik saja barulah aku merasa lega," ucap Diva lagi.
.
.
.
__ADS_1