
.
.
.
"Oh... maaf karena begitu sulit membedakan kalian," kata Mita.
"Sedang apa disini?" tanya Ram.
"memeriksa kandungan, kamu?" tanya balik Mita.
"Sama, memeriksa kehamilan istriku," jawab Ram.
"Istri?" tanya Mita kaget, Ram mengangguk.
"Kenalkan ini istriku Cahaya," kata Ram memperkenalkan istrinya.
"Cantik ya, cocok sekali denganmu, saya Paramita teman lama suamimu sewaktu sekolah dulu." lalu keduanya berjabat tangan, Cahaya tersenyum lalu kemudian menoel bocah kecil sekitar umur 3 tahun. Tapi postur tubuhnya tinggi.
"Ini anak kakak?" tanya Cahaya.
"Oh iya, kenalkan ini suami saya dan ini putra saya, kami baru kembali kemarin dari Irlandia. Dan menetap disana." jawab Mita.
"Hai, saya Jericho dan ini putra saya bernama Jerry." sapa Jericho.
"Bisa bahasa Indonesia ternyata," ucap Ram setelah mereka berjabat tangan.
"Karena menikah dengan orang Indonesia, jadi harus serba bisa," jawab Jericho. Sedangkan Jerry hanya senyum senyum kearah Cahaya.
Kemudian yang lain pun mendekat kearah mereka yang masih asik berbincang. Mita berubah kikuk saat kedatangan keluarga Henderson.
"Siapa ini?" tanya Vera.
"Saya Paramita nyonya," ucap Mita.
"Panggil Oma," kata Vera.
Ren spontan menutup hidungnya saat berdekatan dengan Mita, Mita semakin merasa kurang nyaman.
"Maafkan suamiku, dia sensitif terhadap bau seseorang, karena saat ini dia yang merasa ngidamnya," ucap Aisyah.
"Tidak apa-apa nona saya bisa mengerti, dulu suami saya juga mengalami hal yang sama. Setiap ada perempuan ia akan mual dan muntah." ucap Mita menjelaskan.
__ADS_1
"Kalian semua sudah menikah?" tanya Mita lagi.
"Iya," jawab sikembar serentak.
Jericho melihat sikembar dengan seksama, karena ia belum pernah melihat ada orang kembar tujuh, dan lagi mereka kembar identik.
"Bagaimana cara membedakan mereka?" tanya Jericho pada Mita.
"Entahlah, saya juga masih sering keliru, hubby," jawab Mita.
Tidak berapa lama nama Paramita dipanggil oleh suster, kemudian Mita pun pamit bersama suaminya. Sedangkan keluarga Henderson pun pamit pulang.
Sementara sikembar akan berbelanja dulu di mall untuk membeli susu ibu hamil. Triple A tentu saja ikut orang tuanya, karena mereka numpang mobil dengan orang tuanya Oma dan Opanya. mereka berpisah diparkiran rumah sakit.
"Honey, kayanya si Mita itu jauh lebih tua dari ya," ucap Cahaya.
"Memang, sewaktu kami sekolah SMA dulu, kami baru berusia 10 tahun, sedangkan kak Mita sekitar 18 tahun." ucap Ram menjelaskan. Cahaya pun manggut-manggut.
Baru beberapa menit perjalanan, Ram menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Cahaya pun heran dengan suaminya itu.
Sementara yang lain yang berada dibelakang juga menghentikan mobilnya.
"Ada apa hubby?" tanya Nadine.
"Aku pengen beli klepon, sayang," jawab Ray. Kemudian Ray pun keluar dari mobil dan menghampiri penjual klepon.
Ram yang tadi berhenti lebih dulu ternyata ia yang paling terakhir dapat bagian. Karena mereka saling berebut minta didahulukan sehingga penjual klepon tersebut sedikit kerepotan. Tapi ia sangat senang karena hari ini jualannya cepat habis, tidak seperti hari hari biasa.
Saat Ram hendak membayar ternyata ada tangan yang merampas uang tersebut. Ram menoleh kearah orang itu.
"Katanya tidak ada uang, ini apa?" tanya pria brewok tersebut.
"Siapa kalian?" tanya Ram.
"Kami penjaga keamanan disini, setiap orang yang jualan disini harus bayar pajak," kata laki laki itu.
"Apa benar begitu Pak?" tanya Ram. Sementara saudara Ram yang lain sudah berada didalam mobil masing-masing. Mereka hanya menjadi penonton saja karena mereka yakin Ram bisa menyelesaikan semuanya.
"Iy... iya tuan, lebih tepatnya kami terpaksa harus bayar. karena kalau tidak dagangan kami akan dirusak." ucap Bapak itu takut takut. Sedangkan istrinya sudah berjongkok dipojokkan karena takut.
"Ya sudah gak apa-apa, ini Pak aku bayar lagi. Yang tadi biarkan saja," kata Ram. Tapi saat Ram kembali menyodorkan uang tersebut kepada Bapak penjual klepon tersebut kembali uang itu dirampas. Ram masih bisa menahan diri. lalu kembali memberikan uang kepada Bapak itu, sekali lagi uang itu dirampas. kali ini Ram tidak tinggal diam.
Ram menangkap tangan pria brewok itu dan memelintir jari jari tangan pria itu.
__ADS_1
"Aaaaaakkh, aaaaaakkh. Sakit... sakit," teriak pria itu. Ram semakin mengencangkan pelintirannya pada jari pria itu. Semakin terdengar lirih jeritan kesakitan dari pria itu.
"Aku bisa saja menghabisi kalian," ucap Ram dengan sorot mata tajam. Kedua anak buahnya hendak maju tapi ditahan oleh ketuanya yang masih kesakitan.
Ram melepaskan tangan pria itu dan kemudian menendang perutnya. Pria itu terpental beberapa meter menimpa pembatas jalan.
"Bos...!" panggil anak buahnya.
"S*al, kenapa diam saja? Lawan dia," perintah bosnya itu.
Kedua anak buahnya maju, tapi Ram hanya tersenyum sinis. Pria satu menendang kearah Ram, Ram dengan mudah mengelak, kemudian pria dua juga melakukan hal yang sama, lagi lagi Ram mengelak.
"Cepat habisi dia," perintah bosnya itu. Bosnya itu hanya bisa meringis menahan sakit. Ram menghindar dari serangan kedua pria itu, dan beralih kearah bos mereka, Ram mengangkat kakinya menendang keatas tepat mengenai dagu bos tersebut. sekali lagi bos itu terpental dan pingsan.
"Majulah kalian, sekarang aku tidak ingin main-main lagi. Karena kalian sudah berani mengganggu daerah sini," kata Ram.
Keduanya pun maju secara serentak, Ram kali ini benar benar serius. Dengan mudah Ram menjatuhkan lawannya dan mematahkan tangan dan kaki mereka. keduanya pun meminta ampun.
"Kalau kalian masih berkeliaran disekitar sini, maka aku tidak segan segan menghabisi kalian," ucap Ram penuh ancaman.
Ram kemudian mengambil uang yang mereka rampas tadi dan mengembalikan uang tersebut kepada pemiliknya masing-masing.
"Terimakasih banyak tuan, selama ini tidak ada yang berani melawan mereka, sehingga penghasilan kami selalu diambil oleh mereka," ucap salah satu penjual gorengan disana. Begitu juga penjual klepon tersebut, ia dan istrinya sangat berterimakasih kepada Ram. Tapi Ram membalasnya hanya dengan senyuman.
Ram kembali ke mobil, dan melanjutkan perjalanan mereka. Saudara saudaranya sudah lebih dulu jalan, karena Ram sudah berhasil menyelesaikan semuanya.
"Suapin sayang," kata Ram pada Cahaya, karena Ram sedang fokus menyetir.
Dengan senang hati Cahaya menyuapi suaminya, sesekali ia juga menyuapkan klepon tersebut kepada dirinya.
Mereka tiba di sebuah mall terbesar dikota ini, Ram memarkirkan mobilnya ditempat parkir, kemudian ia keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Cahaya, Ram menggandeng tangan Cahaya dan berjalan beriringan. Sedangkan yang lain sudah lebih dulu masuk kedalam mall tersebut.
"Kemana dulu kita?" tanya Ram.
"Aku mau beli baju untuk ibu hamil," jawab Cahaya.
Mereka pun menuju toko pakaian yang menjual pakaian untuk ibu ibu, seperti daster dan sebagainya.
"Kalian disini juga?" tanya Cahaya pada saudaranya yang ternyata juga membeli daster.
"Iya, aku mau beli daster," jawab Prita.
.
__ADS_1
.
.