
.
.
.
Hari hari berlalu bulan pun berganti, sejak kejadian itu Jessica tidak berani lagi mengganggu Ram dan keluarganya, Ram menarik semua investasi dan membatalkan kerjasama mereka yang telah terjalin selama ini. Investor lain juga menarik saham mereka yang mereka investasikan pada perusahaan tersebut. Sehingga perusahaan A WIRA GROUP terpuruk dan hampir mengalami kebangkrutan. Agam prawira yang dulunya angkuh karena merasa perusahaannya menempati posisi 20 besar di negara ini, kini hanya bisa pasrah dengan keadaannya.
Dendam? Mau dendam kepada siapa? Yang salah dirinya sendiri terlalu serakah tanpa memikirkan konsekuensinya atas segala perbuatannya, yang akhirnya menghancurkan diri sendiri.
Sementara di sekolah triple A...
Mereka kini sedang mengadakan ujian Nasional untuk menentukan kelulusan mereka kelak, mereka berencana akan kuliah di L A (Los Angeles). Kenapa ke L A? Karena itu adalah impian mereka.
Bu Tessa tersenyum memperhatikan mereka yang sedang serius mengerjakan soal-soal ujian tersebut, tidak seperti siswa siswi terdahulu yang hanya main-main dalam pelajaran. Kali ini siswa siswi bersaing untuk menyaingi triple A yang kepintaran mereka di luar nalar.
"Bu kami sudah selesai," ucap triple A serentak lalu kemudian mereka pun bangkit dari duduknya dan berjalan sambil membawa kertas jawaban dan menyerahkan kepada Bu Tessa.
"Hmmm, bagus. kalian memang anak yang cerdas dan jenius," ucap Bu Tessa.
"Sekarang kalian istirahat dulu karena nanti akan ada lagi ujian selanjutnya," ucap Bu Tessa.
"Baik Bu," jawab triple A serentak, kemudian mereka pun kembali ke meja mereka untuk mengambil tas ransel milik mereka.
Johan, Ansel, Rino dan Gibson hanya memperhatikan saja. Meskipun mereka juga pintar tapi mereka masih jauh dibawah triple A.
"Kemana kita?" tanya Lica.
"Ketaman..." jawab Lita singkat.
Ketiganya pun berjalan di lorong sekolah dan tidak sengaja berpapasan dengan Pak Udin.
"Kalian bukannya hari ini ujian ya?" tanya Pak Udin.
"Benar Pak dan kami sudah selesai menjawab," jawab Lica.
"Hmmm, gak salah lagi. Kalian memang keturunan keluarga Henderson yang terkenal jenius," ucap Pak Udin sambil tersenyum. Ia sangat bangga karena berkat sikembar dulu sekolah ini menjadi sangat populer di negara ini. Sekarang ada lagi penerusnya yang akan mengharumkan nama sekolah ini.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kalian istirahatlah," perintah Pak Udin.
Mereka pun kembali melanjutkan untuk ketaman sekolah.
"Kalian nyadar gak? Seperti ada yang mencurigakan," tanpa Lina sewaktu mereka sudah berada didepan sekolah.
"Lihat dua mobil hitam itu, ia terus memantau kearah sini," jawab Lita.
"Jangan terlalu diperhatikan, nanti mereka curiga," ucap Lica.
Merekapun memantau gerak gerik mencurigakan didalam mobil tersebut. Dan benar saja, saat mereka sedang duduk dikursi taman datang dua orang pria berbadan besar menghampiri mereka.
"Dek bisa tolong gak?" tanya pria itu. Triple A menoleh.
"Iya paman, ada apa?" tanya Lica balik.
"Ikut kemobil kami dulu nanti diceritakan," ucap pria itu. Triple A saling pandang lalu mengangguk.
Kedua pria tersebut tersenyum karena mangsanya sudah masuk kedalam perangkap. mereka tidak tahu kalau mereka lah yang masuk dalam perangkap mereka sendiri.
Triple A mengikuti langkah kedua pria itu, saat tiba dimobil mereka ternyata mereka berjumlah 6 orang.
Kesalahan fatal bagi mereka karena berurusan dengan monster cantik itu. Lina dan Lita masih santai saja saat adiknya dipaksa masuk kedalam mobil.
Lica dengan tenaga yang kuat meninju hidung pria tersebut hingga berdarah, spontan pria itu melepaskan Lica. Lica menyeringai dan mundur beberapa langkah untuk memberi jarak.
Empat pria yang ada didalam mobil tersebut keluar, karena mereka menghampiri teman temannya yang hidungnya bonyok. Sedangkan yang satunya tercengang melihat temannya kena pukulan dari bocah cantik itu.
Triple A mengatur posisi masing-masing dan bersiap menghadapi mereka.
"Apa mau kalian?" tanya Lina dengan wajah dinginnya dan tatapan matanya setajam elang.
"Kalian tidak perlu tau, yang pasti kami akan menculik kalian," jawab salah satu dari mereka.
"Kalian pikir mudah menculik kami?" tanya Lita.
"Apa yang kalian bisa? Kalian hanya anak kecil," tanya pria itu.
__ADS_1
"Jangan meremehkan anak kecil seperti kami," jawab Lina.
"Tunggu apalagi? Tangkap mereka," perintah pria itu.
Empat orang maju hendak menangkap tiga bocah tersebut. Sedangkan pria yang kena tinju masih memegangi hidungnya yang terasa patah.
Lina melawan dua orang sedangkan Lita dan Lica melawan satu orang satu.
Lina bersalto dan mengarahkan kedua kakinya menerjang kearah kedua pria itu, pria itu tidak bergerak sama sekali.
"Ternyata mereka sangat kuat," batin Lina.
Giliran pria itu menyerang Lina dengan cara menendang, dengan gesit Lina mengelak. Tanpa pria itu sadari Lina merogoh saku roknya dan mengambil eyeliner miliknya dan menancapkan nya kekaki pria itu. Dalam hitungan detik pria itu tersungkur. Pria satunya melongo melihat temannya yang tiba tiba tumbang.
"Sekarang giliranmu," tuding Lina dengan jari telunjuknya. Pria itu maju dan meninju Lina, Lina tentu saja mengelak dan tinjuan itu pun mengenai angin.
Pria itu pun geram lalu kembali meninju kearah Lina, kali ini Lina menangkis tangan itu dan Lina memutar tubuhnya kebelakang dan dengan cepat Lina menyikut bawah ketiak pria itu. kemudian Lina mundur sedikit dan mengangkat kakinya menendang kearah pria itu. Pria itu mundur kebelakang dan terbatuk-batuk.
Lita dan Lica juga sedang bertarung karena lawan mereka kali ini ternyata sangat tangguh. Tapi triple A bukan gadis lemah, mereka tentu bisa mengimbangi pertarungan ini.
Lita memutar tubuhnya dan mengangkat kakinya menendang pria itu, tapi tendangan Lita berhasil ditangkap oleh pria itu. Lita kemudian memutar tubuhnya lagi sehingga kaki yang satunya menendang kepala pria itu.
Pria itu terhuyung dan kaki Lita terlepas dari pria itu. begitu juga Lica mendapatkan lawan yang seimbang. Tapi Lica juga tidak mau kalah. Walaupun serangannya beberapa kali dipatahkan oleh lawan tapi tidak membuatnya menyerah.
Sedangkan ketua dari mereka hanya menonton saja dan belum turun tangan. kali ini pria yang terkena tinju dari Lica mulai turun tangan melawan Lica. jadi Lica dikeroyok oleh dua pria itu.
"Hebat juga kamu anak kecil?" seringai pria yang hidungnya kena tinju tadi.
"Ini belum ada apa apanya paman," jawab Lica sengaja memprovokasi lawan agar terpancing emosi.
"Cih... sombong banget kamu, bocah," kata pria itu dengan nada sedikit meninggi karena merasa diremehkan oleh seorang bocah.
"Sombong karena aku mampu Paman, kalian hanya tikus-tikus kecil bagiku," ucap pedas Lica yang semakin membuat lawan emosi.
"Hajar....!" ucap pria itu lalu kemudian keduanya maju bersamaan.
.
__ADS_1
.
.