
.
.
.
Hari hari berlalu, ayah Azura sudah dinyatakan sembuh, kini kedua orang tua Azura sudah dikembalikan kekampung halaman. Saat mereka tiba dirumah mereka terperangah melihat rumah yang dibangun sudah siap, sebuah rumah minimalis yang cantik meski tidak mewah.
"Yah benarkah itu rumah kita?" tanya Narti pada suaminya.
"Kita tanyakan pada Pak RT Bun," jawab Manto.
Mereka belum percaya kalau rumah yang baru dibangun itu adalah milik mereka, serasa seperti mimpi ditinggal tiga Minggu ke ibukota dan mendapati rumah mereka sudah berubah.
"Assalamualaikum," ucap Pak RT yang kebetulan mendekat, mendengar Manto sudah sembuh dan pulang hari ini, para warga berdatangan untuk melihat keadaan Manto.
"Waallaikum sallam," jawab pasangan suami istri itu serentak.
"Pak RT, apa benar ini rumah kami?" tanya Narti yang memang belum percaya sepenuhnya.
"Benar, itu adalah rumah kalian dan ini adalah sertifikat rumah tersebut," jawab Pak RT sambil menyerahkan map biru.
"Oh Ya Allah...?" Narti dan Manto tidak dapat berkata apa-apa lagi, keduanya langsung bersujud ditanah sambil menyebut nama Allah.
Orang yang mengantar mereka sudah pulang, karena merasa urusan mereka sudah selesai. Narti membuka map tersebut yang ternyata ada kunci rumah, kunci motor matic untuk Manto bepergian, dan kunci toko.
Sikembar bekerja sama dalam membantu kedua orang tua Azura. Disamping rumah dibangun toko sembako beserta isinya. Didalam rumah komplit dengan perabotannya. Alat alat dapur semua diganti baru. Benar benar seperti bedah rumah sungguhan.
"Mari kita masuk Pak Manto, kami juga penasaran dengan isi didalamnya," ucap Pak RT.
Mereka masuk tapi tidak semua, hanya beberapa orang warga saja. Manto membuka pintu samping yang terhubung dengan toko sembako mereka. Manto seketika melototkan matanya melihat barang barang sudah tertata rapi, dari beras gula telur dan berbagai jenis barang lainnya. Semua sudah dipaketkan dengan harga yang tertera disana. Saat dirumah sakit, Narti sempat belajar mengenal huruf dan angka, belajar membaca dan menulis pada guru private yang sengaja didatangkan oleh sikembar langsung. Kini Narti sudah tau membaca dan menulis walaupun tidak sebagus tulisan anak anak sekolah pada umumnya. Tapi sudah suatu kemajuan baginya.
"Bun ini....!" ucapan Manto tidak dapat ia teruskan saking bahagianya, hingga tenggorokannya terasa tercekat.
__ADS_1
"Kita harus mendoakan orang yang sudah menolong kita Yah, kita tidak dapat membalasnya dengan uang tapi kita akan membalasnya dengan doa. Semoga doa doa kita diijabah Allah." ucap Narti.
"Aamiin," jawab mereka serentak yang ada disitu.
Beralih ke Azura...
Azura yang sedang bekerja di restoran mendapatkan paketan dari universitas kedokteran. Awalnya ia ragu apakah ini benar atau prank. Karena jaman sekarang kebanyakan orang suka ngeprak. Saat ini Azura ada diruang manajer, karena ia dipanggil oleh manajernya untuk menerima paket tersebut. Perlahan Azura membukanya dan matanya langsung meneteskan airmata.
"Tuan, apakah ini benar? saya dapat beasiswa dari universitas kedokteran?" tanya Azura.
"Benar, gapai lah cita citamu, karena kesempatan ini tidak datang kedua kalinya," jawab manajer tersebut.
"Tapi pekerjaan saya?" tanya Azura.
"Pekerjaan kamu aman, dan saya tidak akan memecatmu. Kamu bisa bekerja part time dengan gaji yang sama," jawab manajer tersebut. Manajer restoran itu memang baik pada semua karyawannya.
"Terimakasih banyak Ya Allah," ucap Azura.
"Selamat ya Zura, semoga impianmu akan terkabul," ucap Revi teman Azura sesama pelayan.
"Aamiin, inilah yang aku impikan selama ini," ucap Azura yang tak pernah luntur senyumannya tapi juga berderai airmata.
"Ayah, Bunda doakan Zura agar mencapai cita cita," batin Azura. Kemudian iapun melanjutkan pekerjaannya.
Tidak lupa juga ia mengabarkan kabar gembira ini kepada Devan, Devan pun merasa senang, tapi ia tidak bisa untuk membantu. Hubungannya dengan Devan semakin membaik, setelah insiden waktu itu mereka langsung jadian. Menikah? Belum terpikirkan oleh keduanya, karena masih ingin mengejar cita cita keduanya. Devan setelah tamat kuliah nanti akan meneruskan perusahaan papinya, sedikit demi sedikit ia telah belajar untuk mengelola perusahaan. Hatinya sudah terbuka untuk Azura jadi ia bertekad untuk mandiri. Kekuatan cinta bisa merubah segalanya.
...****************...
Prita sudah mulai dikenal publik, lagu perdana nya telah launching dipasaran. Berkat suaranya yang merdu dan memikat hati penggemar, ditambah lagi album kali ini Prita berduet dengan sang kekasih. Hanya dalam sekejap Prita sudah terkenal di dunia hiburan. Saat ini Prita dan Raffa sedang makan disiang dirumah makan pinggir jalan. Wartawan sang pemburu berita langsung menuju lokasi dimana Prita bersama sang kekasih berada.
"Nona Prita, anda sudah menjadi artis pendatang baru yang terkenal, apakah anda tidak malu makan ditempat seperti ini?" tanya wartawan wanita. Prita hanya tersenyum, merasa tidak ada respon dari Prita wartawan tersebut mendesak untuk menjawab pertanyaannya.
"Apakah seorang artis harus ada aturan dimana mereka mau makan?" Prita balik bertanya pada wartawan tersebut, wartawan itu tergamam dengan pertanyaan balik Prita, wartawan itu kehabisan kata-kata dan tidak bisa menjawab.
__ADS_1
Sedangkan Raffa hanya tersenyum tipis, hingga tidak ada yang menyadarinya. Akhirnya wartawan pun meliput tentang Prita artis pendatang baru yang tidak sombong, walau sudah terkenal tapi masih menghargai orang yang berada dibawah, bukan malah menginjaknya.
"Mari kita pergi," ajak Raffa setelah ia selesai membayar makanan tersebut. Raffa menggandeng tangan Prita, hal itu menjadi pusat perhatian orang orang, terutama para wartawan.
"Kemana kita?" tanya Prita.
"Aku mau ketemu ayah, sudah dilarang untuk bekerja masih saja bekerja," ucap Raffa.
"Ayah kalau tidak bekerja badannya akan sakit-sakitan," jawab Prita.
"Uang yang aku beri, kenapa tidak digunakan?" tanya Raffa.
"Ada digunakan tapi seperlunya saja," jawab Prita. Mereka pun pergi dari tempat itu dengan mengendarai mobil sport milik Raffa.
Tiba didepan rumah Prita, para ibu ibu julid situkang gosip pun keluar dari rumah mereka masing-masing, melihat Prita yang sudah terkenal mereka sudah sangat baik tidak lagi menjelek jelekkan keluarga itu.
"Baru pulang ya Ta?" tanya si B si akun gosip.
"Iya Bu," jawab Prita singkat, meskipun mereka sering dijelek-jelekkan tapi mereka tidak membenci tetangga mereka.
"Gak nyangka ya, ternyata kamu sudah menjadi artis sekarang," ucap si A yang juga terkenal dengan gosip panasnya. Prita hanya tersenyum dan tidak menyahut omongan ibu itu.
"Sepertinya rumah ini perlu direnovasi deh," ucap Raffa.
.
.
Jangan lupa mampir juga ke karyaku yang lain, bagi yang belum membacanya silahkan dibaca, bagi yang sudah membacanya, aku ucapkan terimakasih banyak.
__ADS_1