Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Hebat juga Kamu


__ADS_3

.


.


.


"Kenapa kamu ada disini?" tanya Lina dengan sikap dingin. tapi Randy hanya nyengir saja ia sudah terbiasa dengan sikap Lina yang seperti itu.


"Huuh, untung cinta kalau nggak," batin Randy.


"Kalau nggak apa!" tanya Lina.


"Hah, kok dia tau apa yang kupikirkan?" batin Randy.


"Hehe, gak apa-apa, aku gak ngomong apa-apa kok," jawab Randy grogi, Sambil garuk-garuk kepala.


"Cepat serahkan duit kalian," perintah bos preman itu.


"Nih ambil," kata Randy sambil melempar uang koin 1000 rupiah.


"Kamu pikir kami pengemis, hah." bentak preman itu.


"Apa bedanya, kalian minta uang, pengemis juga minta uang," ucap Zaidan dengan beraninya.


Preman itu mengeluarkan pisau dari saku celananya. Dan memutar mutar pisau itu sebagai atraksi kehebatan yang ia miliki.


"Hajar bro," ucap Zaidan kepada Randy.


"Tapi mereka lima orang," bisik Randy.


"Kenapa? Takut?" tanya Zaidan sambil berbisik pula.


"Udah jangan bisik bisik aja, kalau memang kalian laki laki lawan sana," tantang Lina.


"Maju kalian," tantang Randy yang seketika menjadi berani.


"Buktikan bro kalau kamu bukan laki laki lemah," kata Zaidan mengompori.


Lica dan Lita ingin maju tapi ditahan oleh Lina. Sambil menggeleng kepala.


"Kenapa?" tanya Lica lewat tatapan mata.


"Biarkan mereka dulu yang melawannya, kita lihat sekuat apa dua bocah itu," ucap Lina.


"Gak nyadar banget, diri sendiri yang bocah malah ngatain orang lain bocah," gumam Lica tapi masih didengar oleh Lina.


"Diam," bentak Lina, seketika Lica pun terdiam.


Randy maju dengan langkah pasti, tanpa rasa takut sedikitpun. Randy mengangkat kakinya menendang salah satu dari mereka. Tendangan itu tepat mengenai dada preman itu, sehingga preman itu mundur dan menimpa motor miliknya.


"Hebat juga Kamu bro," puji Zaidan.


"Biasa aja," ucap Lina, Randy menoleh kearah Lina dan tidak menyadari kalau ia akan ditendang oleh bos preman itu, tapi dengan gerakan cepat Lina maju dan mengangkat kakinya menangkis tendangan tersebut, hingga tendangan itu tidak mengenai Randy.

__ADS_1


"Lain kali jangan lengah, baru dipuji sedikit saja sudah naik keatas awan," ucap Lina pedas, tapi Randy malah senang karena ditolong oleh pujaan hatinya.


"Cih dasar bucin," gumam Zaidan.


Kemudian Lina dan Randy bekerjasama melawan preman tersebut, sedangkan Zaidan Lita dan Lica hanya jadi penonton.


"Wah, kompak juga mereka," ucap Zaidan.


Satu persatu preman itu jatuh keaspal dan sudah babak belur oleh Lina dan Randy. Randy mengangkat tubuh Lina lalu kaki Lina berayun menendang wajah bos preman itu hingga tidak lama bos preman itu pun pingsan.


Randy begitu bahagia bisa menyentuh pujaan hatinya, walaupun dalam keadaan seperti ini tapi baginya itu sudah merupakan hal yang paling mengesankan.


"Kamu hebat," ucap Randy pada Lina, tapi Lina tidak menyahut sama sekali, Lina menepuk nepuk tangannya seolah menepis debu yang menempel. Lina menghampiri saudaranya.


"Yuk jalan," ajak Lina pada kedua saudaranya. Mereka pun mulai menjalankan skuter mereka masing-masing menuju taman.


Sedangkan Randy menghampiri sepeda miliknya, karena tadi mereka datang menggunakan sepeda lipat.


"Kenapa kamu gak bantuin aku sih?" tanya Randy pada Zaidan.


"Gak perlu dibantuin udah beres semuanya, dan juga jadi penonton ternyata lebih asik." jawab Zaidan.


"Yuk," ajak Randy, lalu keduanya pun mengayuh sepeda mereka kearah taman.


"Enak juga ya disini," ucap Lita saat ini mereka sedang duduk di bangku taman.


Orang orang juga ramai ditempat itu, ada yang berpasangan ada juga yang bersama keluarga dan ada juga yang datang bersama teman teman mereka.


"Boleh gabung?" tanya Randy.


"Lin jangan begitu, mereka juga teman sekolah kita," ucap Lica. Lina tidak menjawab.


"Aku mau beli air," ucap Lina lalu bangkit dari duduknya.


"Aku ikut," kata Randy.


"Ngapain? Tanya Lina.


"Cuma ikut saja, aku juga mau beli air," jawab Randy.


"Ya sudah, kamu saja yang beli sana, aku gak jadi," ucap Lina.


Lina memberikan uang seratus ribu pada Randy tapi Randy menolak karena dia juga punya uang, akhirnya Randy dan Lina pergi membeli air, karena Lina tidak mau kalau membeli menggunakan uang Randy.


"Kenapa kamu?" tanya Lina karena melihat Randy senyum senyum sendiri.


"Gak apa-apa, cuma teringat film komedi yang kutonton semalam," jawab Randy berbohong.


"Gak jelas banget," gumam Lina.


"Pak air mineral tiga," kata Lina.


"Aku dua Pak," kata Randy. Kemudian Randy dan Lina membayar dengan uang besar, Randy uang 50 ribu, sedangkan Lina uang 100 ribu.

__ADS_1


"Ada uang kecil dek!" tanya penjual itu.


"Ambil aja Pak kembalian nya," kata Lina.


"Iya Pak, ambil aja," timpal Randy.


"Kalau begitu terimakasih banyak dek, kalian sangat baik." ucap penjual air tersebut.


Kemudian mereka pun kembali ketempat duduk mereka semula.


...****************...


Sementara disisi lain, Ren sedang melihat perkembangan pembangunan rumah untuk para penduduk miskin. Semua hampir siap dan sudah 80% pembangunannya. Juga sekolah SD dikawasan tersebut. Yang diperuntukkan untuk orang orang yang kurang biaya untuk sekolah. Nanti rencananya juga akan dibangun sekolah SMP dan SMA juga. Semua untuk yang kurang mampu. Setelah selesai meninjau pembangunan rumah tersebut, Ren bersama Adam kembali ke mobil.


Saat ia hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba ponselnya berdering. Ren menjawab panggilan tersebut.


"Ya halo..!" sapa Ren.


"Tuan Ren, boleh kita bertemu sekarang?" tanya orang tersebut yang ternyata rekan bisnis Ren.


"Maaf tuan, sepertinya saya tidak bisa," jawab Ren.


"Hanya sebentar tuan, saya tunggu di restoran xxxx untuk makan malam," kata pria itu.


"Baiklah tuan Alex, saya kesana sekarang," jawab Ren.


"Dam, ke restoran xxxx sekarang," perintah Ren.


"Baik tuan," jawab Adam. Adam pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat pembangunan rumah tersebut.


Dengan Kelajuan sedang Adam menyetir mobilnya.


"Ada apa tuan?" tanya Adam.


"Dam, sudah berapa kali aku peringatkan kalau diluar kantor jangan panggil tuan, kecuali kalau kita ketemu klien, dan tadi tuan Alex ngajak ketemuan di restoran xxxx untuk makan malam," jawab Ren.


"Baiklah Ren," ucap Adam.


Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 6:30 malam, Ren dan Adam pun sudah tiba di restoran yang dimaksud. Adam memarkirkan mobilnya ditempat parkir dan kemudian mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam restoran tersebut.


"Atas nama Alex Virgo," ucap Ren kepada pelayan.


"Oh mari tuan, tuan Alex sudah menunggu di ruang VIP 2." jawab pelayan tersebut, lalu mengantar Ren dan Adam kesana.


"Silahkan tuan," ucap pelayan itu setelah membuka pintu.


Ren melihat Alex sudah berada didalam ruangan itu dan dia tidak sendiri, tapi bersama seorang wanita cantik plus s*ksi, bahkan super s*ksi, pakaian yang wanita itu gunakan sangat menggoda para lelaki hidung belang. Tapi tidak bagi Ren dan Adam, keduanya malah terlihat jijik.


.


Tunggu konflik di episode selanjutnya.... semoga sesuai dengan harapan para pembaca.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2