Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Bukan tandingan kalian


__ADS_3

.


.


.


Lica mundur beberapa langkah untuk mengambil posisi, kedua pria itu maju dan menyeringai berpikir bahwa Lica takut dengan mereka.


"Kenapa mundur? Takut?" tanya pria A.


"Mana keberanianmu yang berani menonjok muka ku?" tanya pria B yang tadi ditonjok oleh Lica.


"Tidak ada alasan untuk aku takut dengan kalian," jawab Lica sinis.


Pria A menendang Lica, tapi Lica menghindar dan memutar tubuhnya menendang pria B, karena pria B tidak siap jadi tendangan Lica membuat pria B terpental keaspal.


Pria A maju kembali dan menyerang Lica, tapi Lica dengan gesit menghindar dan menangkis serangan tersebut.


Mendengar keributan diluar sekolah para guru dan siswa siswi keluar dari dalam kelas. Johan, Ansel, Rino dan Gibson berlari menghampiri triple A.


Johan menyerang orang yang melawan Lica, karena Johan belum begitu mahir dalam bertarung jadi serangan Johan mudah dipatahkan oleh musuh.


Johan terlempar beberapa meter akibat tendangan pria A.


Ansel, Rino, Gibson hendak membantu tapi dicegah oleh Lina.


"Mereka bukan tandingan kalian, biarkan kami yang menyelesaikan semuanya," ucap Lina. Mendengar hal itu ketiganya mundur dan membantu Johan bangkit yang mengeluarkan darah dari mulutnya.


Triple A menghentikan pertarungannya sejenak, dan saling memberi kode diantara mereka.


Sedangkan Bu Tessa menghubungi suaminya yang berpindah tugas di ibukota. Dulu suami Bu Tessa bertugas diluar kota, dan sekarang sudah satu bulan ini pindah tugas ke ibukota. Semua itu berkat triple A yang berhasil menangkap buronan perampok waktu itu. Karena triple A tidak mau dipublikasikan jadi Irwan suami Bu Tessa yang mendapat penghargaan tersebut dan dinaikkan pangkatnya.


Lina, Lita dan Lica saling mengangguk, mereka kembali menyerang orang tersebut. Empat lawan tiga, sedangkan bos mereka hanya menonton saja. kalau anak buah mereka tidak dapat mengatasinya barulah bos itu turun tangan.


"Apakah kita hanya jadi penonton saja?" tanya Gibson yang mulai khawatir dengan triple A.


"Apa kamu tidak dengar, apa yang dikatakan Lina? mereka itu bukan tandingan kita?" tanya Ansel.


"Tapi aku merasa seperti seorang pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa?" tanya Johan sambil mengusap dadanya yang masih terasa sakit akibat tendangan pria A.

__ADS_1


Lica berhasil menumbangkan pria A dengan membiusnya, pria B maju hendak melawan karena temannya sudah terkapar diaspal.


"Ini lawanmu yang sebenarnya," ucap pria B sambil menepuk dadanya sendiri. Dengan angkuhnya pria B maju dan menyerang Lica. Pria itu menendang kearah Lica dengan gesit Lica menangkap kaki pria itu dan memelintirnya, bukan cuma disitu. Lica menancapkan eyeliner miliknya dan seketika pria itu melemah dan terkulai tidak berdaya diatas tanah.


Bos penjahat itu masih terlihat tenang melihat tiga anak buahnya sudah kalah. Lica kemudian beralih pada Lita dan membantu Lita melawan penjahat tersebut.


Kolaborasi Lita dan Lica dalam bertarung memang sangat luar biasa sehingga hanya dalam sekejap pria itu pun tersungkur jatuh ketanah. Bos penjahat itu maju dengan sikap arogansi kekuasaannya. Karena merasa dirinya paling hebat.


Sedangkan Lina juga sudah berhasil mengalahkan lawannya dan kini berpindah mendekati Lita dan Lica.


"Tidak ku sangka ternyata kalian hebat juga," ucap bos itu.


Triple A tidak menjawab, mereka hanya waspada karena musuh didepannya terlihat cukup kuat. Dari auranya sudah dapat mereka rasakan.


"Hati hati, sepertinya dia lawan yang cukup tangguh," bisik Lina pada saudaranya. Lita dan Lica hanya mengangguk.


"Maju kalian," perintah pria itu. triple A tersenyum sinis.


"Kau yang mencari lawan, maka kaulah yang maju," ucap Lina tidak mau kalah yang juga mengeluarkan aura yang begitu kuat.


"Kenapa aura bocah ini begitu kuat? Siapa mereka sebenarnya?" batin pria itu.


"Jangan banyak omong Paman, buktikan kalau Paman benar benar hebat," balas Lica memprovokasi.


Pria itu merasa diremehkan pun mulai emosi, hingga tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung menyerang triple A.


Triple A berpencar untuk menghindari serangan tersebut. Kalau terkena tendangan pria itu mereka yakin tidak akan bisa bangun nantinya.


"Wow, menarik sekali." ucap pria itu mengejek.


"Kalian belum tau siapa aku? Biar aku perkenalkan. Aku adalah Eross, kelompok mafia yang menculik para gadis-gadis cantik dan muda, karena kalian sudah sejak seminggu yang lalu dalam pengawasan kami. Dan anggota kami hanya terdiri dari 6 orang termasuk aku sendiri," ucap Eross dengan bangganya.


"Kelompok mafia Eross? jadi kalian mafia misterius itu?" tanya Lina.


"Kenapa aku bisa lalai dan tidak mengetahui kalau seminggu ini kami diawasi?" batin Lina. Lina benar benar tidak menyadari hal itu, mereka berpikir mereka baik baik saja ternyata mereka sudah diincar.


"Aku akan lebih senang kalau kalian menyerah dengan suka rela," ucap Eross lagi.


"Kepalang basah mandi aja sekalian," ucap Lina. (terlanjur melawan biar sampai tuntas).

__ADS_1


"Kita lihat, siapa yang akan kalah?" tanya Lina.


"tidak ada pilihan lain," ucap Lita dan langsung menyerang. Tapi Eross ternyata juga ahli beladiri jadi serangan Lita dengan mudah ia hindari. Lica maju dan menyerang. Sekali lagi Eross dapat memprediksikan serangan tersebut membuat Lica terlempar beberapa meter kebelakang sambil memegang perutnya yang terkena tendangan Eross.


Tapi hal itu tidak membuat Lica menyerah. Kini mereka menyerang bertiga secara bersamaan. Tiga tendangan serentak dari triple A membuat Eross tidak dapat menahan serangan tersebut dan mundur beberapa langkah kebelakang. ia memegang dadanya seolah olah mengusap debu di jasnya. Padahal ia menahan rasa sakit. Dua tendangan bisa ia tangkis, tapi tendangan Lina tidak sempat ditangkis lalu tepat mengenai sasaran yaitu dada.


"Bagaimana?" tanya Lina tak kalah arogant membalas sifat sombong Eross.


Irwan dan pasukannya datang dengan mobil polisi, Irwan tertegun melihat pertarungan tersebut hingga ia lupa sejenak dengan tugasnya sebagai seorang polisi. Bawahan Irwan juga tertegun melihat pemandangan didepannya, sesuatu yang belum pernah mereka lihat dan hanya mendengar cerita orang saja. Tapi kali ini mereka bisa melihat dengan mata kepala sendiri pertarungan tersebut.


"G*la, kuat sekali," ucap bawahan Irwan sambil geleng-geleng kepala. Mereka tersadar saat Bu Tessa menghampiri mereka.


"Kenapa bengong?" tanya Bu Tessa kepada suaminya.


"Ehh, iya...!" jawab Irwan.


Dor.....


Pertarungan berhenti saat Irwan melepaskan satu tembakan diudara sebagai peringatan. triple A menoleh kearah suara tembakan tersebut.


Eross hendak melarikan diri tapi sudah lebih dulu ditembak oleh Lina menggunakan bius, mereka heran mengapa Eross bisa tumbang saat berlari? mereka tidak menyadari bahwa Lina telah menembakkan bius ke Eross.


Irwan dan anak buahnya segera meringkus Eross dan anak buahnya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Terimakasih atas kerjasamanya, mereka adalah kelompok mafia yang menculik gadis gadis muda yang kami cari selama ini," ucap Irwan.


"Sama sama Paman, seperti biasa kami tidak mau dipublikasikan," jawab Lina tegas.


"Baik kalau begitu," ucap Irwan. Kemudian Irwan beserta bawahan meninggalkan tempat itu dengan membawa tersangka.


"Akhirnya selesai juga, kalian tidak apa-apa?" tanya Lina pada saudaranya.


Lita dan Lica menggeleng, Johan, Ansel, Rino dan Gibson menghampiri mereka.


Kalian tidak apa-apa?" tanya Gibson.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2