
.
.
.
"Sikembar!" tanya Rustam, dan Darmendra mengangguk.
"Tadi tuan Rustam bilang mau ketemu tuan muda Henderson, tuan muda Henderson ada tujuh orang tuan Rustam," kata Darmendra.
Marni datang dengan membawa minuman dan cemilan lalu meletakkannya diatas meja.
"Silahkan tuan dan nyonya," ucap Marni, Rusita dan Rustam mengangguk.
"Maksud tuan Darmendra, anak tuan ada tujuh?" tanya Rustam.
"Anakku ada sepuluh, yang pertama kembar tujuh dan yang kedua kembar tiga," jawab Darmendra.
"Hah, jadi bingung aku, tuan." kata Rustam.
"Tidak usah bingung tuan Rustam, tunggu anak anakku kesini tuan Rustam akan mengerti." ucap Darmendra.
"Silahkan diminum tuan Rustam dan nyonya...!" perkataan Darmendra terhenti karena ia tidak tahu harus memanggil apa pada istri Rustam.
"Rusita, tuan Darmendra." kata Rusita.
"Ah iya, silahkan nyonya Rusita." ucap Darmendra membetulkan kalimatnya.
Tidak berapa lama sikembar turun dan keluar dari lift, sikembar berjalan beriringan. memang sangat sulit dibedakan bagi orang yang belum mengenal betul dengan sikembar.
"Ada apa Dad?" tanya Ram.
"Ada orang ingin bertemu kalian," jawab Darmendra.
Sikembar menoleh kearah sepasang suami istri dan secara bergantian sikembar mencium tangan kedua orang tersebut. Rustam dan istrinya merasa tersentuh putranya saja tidak pernah seperti itu. Tapi ini apa? Mereka semua sangat sopan terhadap yang lebih tua.
Rusita jangan ditanya, ia sampai melongo dengan mulut terbuka, dan dia jadi bingung untuk membedakan yang mana?
"Banyak begini apa gak repot ngurusinnya," batin Rusita. Belum hilang keterkejutannya datang lagi sikembar tiga dan langsung duduk dipangkuan Abang Abangnya.
"Lina lebih manja kepada Ram, sedangkan Lita lebih manja pada Ray dan Ren, walaupun Abang Abangnya itu bersikap dingin, sedangkan Lica lebih manja kepada Roy. Pada yang lain juga begitu juga tempat mereka bermanja-manja.
"Om... ada apa ya?" tanya Ram.
"Ee, tuan muda kami datang untuk meminta maaf atas kelakuan anak kami," kata Rustam.
"Tidak perlu panggil tuan muda Om, memangnya anak Om siapa?" tanya Ram lagi.
"Anak saya Devan dan sekarang ada didalam penjara." kata Rustam, dan Rusita hanya terdiam.
__ADS_1
"Lalu hubungannya dengan kami apa Om?" tanya Ram masih dengan sikap sopan.
"Saya mohon cabut tuntutan untuk anak saya, dia adalah anak kami satu satunya dan dia masih kuliah kalau sampai dia dipenjara maka masa depannya akan hancur," ucap Rustam memohon.
Sikembar saling pandang seolah sedang berdiskusi, sedangkan Darmendra tidak ingin ikut campur masalah anak anaknya karena ia yakin anak anaknya pasti bijak dalam mengambil keputusan.
"Tolong saya Nak, saya tidak ingin masa depan depan anak kami hancur," ucap Rustam lalu kemudian ia berlutut didepan sikembar. Sikembar bangkit dan mengajak Rustam untuk kembali duduk di sofa.
"Jangan seperti ini Om, sebenarnya Kami juga tidak tahu pasti mengapa anak Om ingin mencelakai kami? Terutama saudara kami yang tertua," tanya Ram.
"Masalah ini biar saudara tertua kami yang mengambil keputusan, karena yang ingin anak Om celakai adalah dia," ucap Ram sambil menunjuk kearah Ray.
Ray seperti biasa kutub Utara nya kambuh kalau berhadapan dengan orang luar.
"Gimana Nak? Saya mohon tarik kembali tuntutan untuk anak saya," ucap Rustam.
"Tolonglah tuan muda," ucap Rusita bersuara.
"Bagaimana Ray? Keputusan ada ditangan mu?" tanya Ram.
"Baiklah Om, tapi dengan syarat. Anak Om tidak boleh lagi menganggu kami, dan juga tidak boleh lagi mengganggu Nadine," ucap Ray dengan nada dinginnya.
"Nadine? siapa Nadine?" tanya Rustam.
"Bilang saja begitu ke anak Om, dia kenal dengan Nadine," kata Ray
"Tapi kalau sekali lagi anak Om mengganggu kami atau orang yang aku sebut namanya tadi maka aku tidak segan segan membuatnya mendekam seumur hidup dalam penjara," ucap Ray lembut tapi penuh ancaman.
"Sekarang temui anak Om dipenjara, aku akan menyuruh polisi untuk membebaskannya," ucap Ray lagi.
"Te terimakasih banyak Nak, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Rustam membungkuk hormat dan diikuti oleh istrinya.
"Pi Nadine siapa?" tanya Rusita, saat ini keduanya sudah diperjalanan menuju kantor polisi.
"Mungkin kekasih tuan muda Henderson," jawab Rustam. Rusita mengangguk karena jawaban suaminya masuk akal.
Setibanya di kantor polisi, Devan sudah menunggu diruang tunggu bersama komandan polisi.
"Selamat sore Pak Rustam," sapa komandan polisi itu.
"Sore Pak, saya datang menjemput anak saya," ucap Rustam.
"Silahkan Pak, tuan muda sudah mencabut tuntutannya, dan dengan syarat yang pasti Bapak sudah tau kan?" tanya komandan polisi.
"Iya Pak, saya sudah tau," jawab Rustam.
"Kamu apa kabar sayang?" tanya Rusita sambil memeluk putranya.
"Baik Mi, untung aku bisa bebas," jawab Devan.
__ADS_1
"Kamu bebas karena kebaikan tuan muda Henderson, papi mendatanginya dan memohon maaf atas nama kamu," ucap Rustam.
"Pi, kalau dia baik dia tidak akan menjebloskan aku kepenjara," ucap Devan.
"Itu karena salah kamu sendiri, mengapa berurusan dengan tuan muda Henderson?" tanya Rustam, Devan terdiam ia tidak tahu kalau sikembar itu anak dan cucu dari keluarga terkaya di negara ini.
"Sudah, sudah mari kita pulang..!" ajak Rusita, semarah apapun Rustam pada anaknya ia tidak pernah main tangan.
Kemudian mereka pun pulang setelah berpamitan pada komandan polisi.
Didalam mobil...
"Ingat, kamu jangan pernah lagi mencari masalah dengan tuan muda Henderson atau keluarganya yang lain," ucap Rustam memperingatkan anaknya.
"Tapi aku mencintai Nadine Pi," kata Devan.
"Siapa Nadine Nak?" tanya Rusita.
"Mami ingat dengan gadis yang mengantar aku pulang beberapa tahun lalu?" tanya Devan pada Maminya.
Rusita mencoba mengingat ingat siapa gadis itu? Yang ia ingat gadis yang mengantar anaknya pulang adalah gadis yang pakai motor itu.
"Maksudmu gadis miskin yang pakai motor itu?" tanya Rusita.
"Dia bukan gadis miskin Mi, dia anak dari pengusaha di perusahaan xxxx, hanya penampilannya saja yang sederhana dan tidak mau menunjukkan kemewahannya," jawab Devan.
"Dan aku mencintainya mi, tapi dia berubah sejak dia mengantarkan aku pulang, padahal sebelumnya kami baik baik saja," ucap Devan lagi sambil menangis.
Rusita tertegun mendengar penuturan anaknya, gadis yang ia hina ternyata anak orang kaya.
"Maafkan mami sayang, waktu itu mami bicara kasar kepadanya bahkan mami menghinanya," ucap Rusita menyesali perbuatannya.
"Tapi mami akan meminta maaf kepadanya dan meminta dia untuk kembali padamu," ucap Rusita lagi.
"Tidak usah mi, aku tidak mau masuk penjara lagi. Lebih baik aku lupakan dia dan menjomblo seumur hidup," kata Devan penuh dramatis.
"Maafkan mami Nak semua salah mami," ucap Rusita yang juga ikut menangis.
"Baguslah kalau kamu sudah menyadari kesalahanmu, lain kali jangan memandang rendah orang lain hanya karena penampilan, bisa saja orang kaya berpenampilan pengemis, dan pengemis berpenampilan orang kaya," kata Rustam pada istrinya.
"Sekarang sudah terlambat mi, Nadine sangat membenci aku, ditambah lagi sekarang ia sudah bersama tuan muda itu." kata Devan.
Rusita memeluk anaknya dan ia sangat menyesal telah memandang rendah orang lain.
"Sudahlah, semua sudah terjadi papi yakin kamu akan menemukan penggantinya," kata Rustam.
.
.
__ADS_1
.