
.
.
.
Diva menelpon suaminya, saat ini Darmendra sedang ada rapat. tapi demi sang istri iapun menjawab telepon tersebut.
"Ya halo sayang, ada apa?" tanya Darmendra.
"Hubby ada kabar gembira," kata Diva diseberang sana. Darmendra pun mengernyitkan dahinya.
"Kabar apa sayang?" tanya Darmendra, sedangkan orang orang yang mengikuti rapat tersebut semuanya terdiam, tapi mereka penasaran dengan apa yang dibicarakan atasan mereka itu.
"Kita bakal dapat cucu," jawab Diva antusias.
"Apa? Benarkah?" tanya Darmendra. Bawahan Darmendra semua menoleh, karena suara Darmendra sedikit meninggi. Mereka berbisik bisik, apa yang membuat bos mereka seperti itu.
"Benar hubby, tadi sudah di tes pakai testpack, dan hasilnya positif." kata Diva.
"Kalau begitu aku pulang sekarang," kata Darmendra.
"Memangnya hubby tidak sibuk?" tanya Diva.
"Tidak, pekerjaanku hanya sedikit," jawab Darmendra.
Robert mendengus mendengar bosnya mengatakan pekerjaannya hanya sedikit, padahal berkas yang belum dikerjakan numpuk.
"Tuan...!" tapi perkataan Robert terhenti saat Darmendra mengangkat sebelah tangannya.
"Kamu handle rapat ini, apapun keputusan dari kalian nanti kirim ke email ku saja," kata Darmendra. Tanpa bicara apa-apa lagi Darmendra segera keluar dari ruangan rapat. Saat ia hendak mencapai pintu Darmendra pun berkata.
"Berikan bonus kepada seluruh karyawan tanpa terkecuali termasuk satpam dan cleaning service, ingat harus sama rata," kata Darmendra lalu melangkah pergi sebelum mendengar jawaban dari Robert.
"Sekarang kita lanjutkan rapatnya," perintah Robert. Lalu mereka pun melanjutkan rapat yang tertunda, meskipun dalam benak mereka bertanya tanya. Mengapa bos mereka tiba-tiba pulang?. Namun mereka tidak berani untuk bertanya.
Sedangkan Darmendra sudah berada di lobby perusahaan, wajahnya terlihat berseri seri dan senyumnya pun terus mengembang. Sampai diparkiran mobil, Darmendra segera masuk.
Setelah keluar dari perusahaan, Darmendra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. ia ingin secepatnya tiba di mansion. Darmendra sudah tidak sabar ingin mengetahui lebih lanjut lagi. Banyak pikiran yang timbul dibenaknya tentang sikembar.
"Padahal mereka baru menikah seminggu yang lalu, kok cepat banget hamilnya? Apa jangan jangan mereka buka segel sebelum menikah?" batin Darmendra.
"Gak, gak..aku gak boleh berpikiran buruk. Aku harus berpikiran positif dengan anak anakku," gumam Darmendra. ia semakin melanjukan mobilnya. Seperti orang balapan saja.
__ADS_1
Akhirnya Darmendra pun tiba di mansion. Darmendra memarkirkan mobilnya sembarangan. Tidak peduli menghalangi jalan, lalu ia melemparkan kunci mobil kepada Agus untuk memarkirkan mobil ke garasi.
"Sayang...!" panggil Darmendra. Diva merasa heran kok suaminya sudah pulang.
"Hubby, kok sudah pulang?" tanya Diva.
"Aku tidak tenang sayang," jawab Darmendra. mereka semua saling pandang.
"Coba jelaskan sayang, apa benar menantu kita sudah hamil? padahal mereka baru satu Minggu menikah?" tanya Darmendra.
"Hubby, berarti mereka subur. kalau Tuhan sudah memberi mereka momongan apa salahnya sih? mereka sudah pasangan suami istri," tanya Diva. Darmendra terdiam.
"Ada apa? Seharusnya kamu bahagia sebentar lagi bakal punya cucu, dan Mommy bakal punya cicit," tanya Vera.
"Tapi mereka tidak begituan sebelum menikahkan?" tanya Darmendra.
"Ya Allah, hubby. Berprasangka buruk itu sifatnya setan, gak baik loh," kata Diva.
"Daddy tidak percaya kami?" tanya Ram.
"bukan begitu son, Daddy cuma takut aja." jawab Darmendra.
"Daddy percayalah pada kami, kami punya harga diri yang tinggi, tidak mungkin kami melakukannya sebelum menikah," ucap Ren.
"Daddy minta maaf kalau Daddy berprasangka buruk tentang kalian," ucap Darmendra lagi.
"Gak apa-apa Dad, awalnya kami juga kurang percaya kalau secepat itu istri kami bisa hamil," jawab Ram.
"Mertua kalian sudah diberitahu? Ini kabar gembira loh?" tanya Darmendra. Mereka semua menggeleng.
"Daddy akan menyuruh pengawal untuk menjemput mereka," kata Darmendra.
"Kita adakah syukuran kecil kecilan dan mengundang anak yatim, bagaimana?" saran dan tanya Jordan. Mereka semua setuju dengan saran tersebut. Apa sih yang gak bagi mereka? Uang dan kekuasaan ada digenggaman mereka.
"Kapan kalian kerumah sakit untuk periksa?" tanya Vera.
"Siang ini juga bisa Oma, ya gak sayang?" tanya Ram pada Cahaya. Cahaya mengangguk.
"bagaimana dengan kuliah kami?" tanya Aisyah menyela.
"Kalian boleh kuliah secara online, sayang. Agar kalian tidak terlalu capek nantinya." jawab Ren.
Diva sedang sibuk didapur untuk menyiapkan makan siang, meskipun ada pelayan di mansion ini, tapi Diva tetap turun tangan. Kecuali kalau Diva sibuk dan tidak sempat.
__ADS_1
Sementara triple A masih berada di sekolah. Mereka sudah tidak sabar ingin pulang untuk menemui kakak iparnya, saat mendapatkan pesan dari sang Mommy yang mengatakan mereka akan mendapatkan keponakan. Sedangkan jam pelajaran mereka masih sekitar satu jam lagi.
"Lama banget sih," gumam Lica yang hampir setiap 10 menit melihat jam tangannya. Lina mendengus mendengar gumaman sang adik.
"Biasanya kamu selalu sabar dalam segala hal, tapi setelah mendengar bakal punya ponakan malah seperti hilang kesabaran," ejek Lita.
"Kamu gak tau gimana senangnya hatiku?" tanya Lica.
"Bersikaplah seperti biasa," jawab Lina yang sejak tadi diam. Lica seketika terdiam dan mengikuti pelajaran dengan seksama.
Menit menit pun berlalu, sehingga waktu pelajaran pun habis. Bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai. untuk pertama kalinya triple A keluar lebih dulu. Johan, Ansel, Rino dan Gibson dibuat heran karena tidak biasanya triple A seperti itu.
"Ada apa ya dengan mereka?" tanya Ansel. Yang lain hanya mengedikan bahu.
"Daripada penasaran kita susul mereka," jawab Gibson. Mereka berempat pun menyusul mereka.
Saat dihalaman sekolah, triple A ternyata sudah tidak terlihat lagi, karena mereka langsung pulang menggunakan skuter mereka.
"Yah kita telat," ucap Johan sambil meninju angin.
"Mau susul mereka?" tanya Ansel.
"Kita ada kelas taekwondo," jawab Rino. Akhirnya mereka pun tidak jadi menyusul triple A.
Sementara triple A sudah dalam perjalanan, mereka ingin sekali secepatnya tiba di mansion. Namun saat tiba dilampu merah, mereka melihat beberapa anak kecil sedang dipalak. Tentu saja hal itu membuat mereka emosi. Lina langsung melipat skuter miliknya dan menyimpannya. Dan diikuti oleh kedua saudaranya.
Tanpa bertanya apa apa lagi, Lica langsung menendang preman yang malak itu. Kenapa Lica yang duluan? Karena Lica yang paling emosi dan berlari melewati saudaranya.
Preman yang satu terlempar beberapa meter, karena tendangan disertai emosi menghasilkan kekuatan yang mungkin 3 kali lipat dari biasanya. Preman itu terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah.
"Tinggal dua lagi, jangan kasih ampun," perintah Lica. Lina dan Lita yang tahu adiknya emosi pun menghajar preman tersebut. Hingga ketiga preman itu tak sadarkan diri.
Kemudian mereka pun pergi, dan tidak lupa mereka memberi uang kepada anak anak itu.
Belum sempat anak itu mengucapkan terimakasih Lina, Lita dan Lica sudah pergi dengan skuter mereka.
"Kendalikan emosimu wahai saudaraku," ucap Lita saat mereka sudah diperjalanan.
.
.
.
__ADS_1