
.
.
.
Tidak berapa lama kemudian pesanan mereka pun datang, pelayan menata makanan didepan mereka. Setelah selesai menata makanan pelayan itupun segera keluar.
"Makan sayang" ucap Diva. Mereka semua pun makan. Sebenarnya waktu makan siang sudah lewat, tapi karena mereka belum makan jadi sebelum pulang mereka pun makan lebih dulu.
"Sebentar lagi kalian akan menikah, dalam hidup berumah tangga harus ada komunikasi dalam segala hal, jangan ada yang ditutup-tutupi dari pasangan. Ada masalah selesaikan dengan baik baik dengan kepala dingin jangan dengan emosi," ucap Vera memberi wejangan kepada calon pengantin.
"Sebenarnya sih menikah muda tidak masalah, yang penting sudah mampu untuk menafkahi keluarga, terutama istri." ucap Vera lagi.
"Benar tuh, kami yang sudah tua ini masih tetap harmonis saja. Paling kalau mau berkelahi cuma diatas ranj*ng, ucap Jordan tanpa filter.
Buugh... Vera memukul lengan Jordan sehingga Jordan meringis dibuatnya.
"Ngomong sembarangan aja, disini ada anak kecil," ucap Vera sambil melototi suaminya yang ngomong suka ceplas-ceplos. Jordan hanya garuk-garuk kepala seperti orang b*doh saja. Setelah selesai makan, mereka masih berada di ruangan itu. Tiba tiba Lina menyela.
"Dad, boleh minta waktunya sebentar?" tanya Lina. Mereka semua pun saling pandang dan penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Lina.
"Silahkan, mau ngomong apa Nak?" tanya Darmendra.
"Tiga hari lagi hari pernikahan Abang, entah kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu pada hari itu?" Lina.
Darmendra dan yang lainnya tercengang tapi tidak dengan sikembar. Insting sikembar dengan triple A sangat kuat.
"Kamu juga merasakannya dek?" tanya Ren. Lina mengangguk.
"Kalau begitu ini masalah serius," ucap Darmendra.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Jordan.
"Kami sudah menyiapkan semuanya, segala kemungkinan yang terjadi sudah kami siapkan jauh jauh hari," ucap Ram.
"Sepertinya akan ada penyerangan," ucap Ray menimpali.
"Apa kita batalkan atau ditunda saja?" tanya Diva.
"Sebaiknya kita teruskan, kalau kita tunda pun masalahnya tidak akan selesai," jawab Ram.
"Kami sudah mempersiapkan senjata untuk melawan mereka," ucap Ren.
"Bagaimana dengan para tamu undangan yang tidak tau apa-apa?" tanya Vera.
__ADS_1
"Soal itu sudah kami pertimbangkan semuanya," jawab Rakha.
"Kita akan hadapi sama sama," jawab Nadine.
"Iya, kita akan berjuang bersama sama," ucap Cahaya tak kalah semangat.
"Oke, kalau begitu kalian nginap di mansion aja ya?" tanya Diva. Mereka saling pandang lalu mengangguk.
Mereka pun keluar dari ruangan itu, setelah membayar semuanya mereka keluar dari restoran tersebut. Tapi tiba tiba Cahaya hendak ke toilet, jadi ia pun pamit kepada Ram.
"Kak, aku ke toilet dulu ya," ucap Cahaya dan diangguki oleh Ram.
"Aku ikut," kata Adira. Kemudian keduanya pun pergi ke toilet. Sementara Rasya dan Ram menunggu di dekat mobil.
"Yuk kita pulang duluan," ajak Diva.
"Tunggu," perintah Lina, mereka pun heran dengan sikap Lina akhir akhir ini.
"Ada apa?" tanya Diva.
"Sebaiknya Abang susul kak Aya dengan kak Dira," ucap Lina. Tanpa bertanya apa apa lagi Ram segera menyusul Cahaya dan Adira ke toilet. Ram terburu buru hingga tidak sengaja menabrak pelayan yang membawa pesanan pelanggan. Beruntung makanan itu tidak tumpah.
"Ada apa dek?" tanya Rasya.
"Entahlah bang, perasaanku akan terjadi sesuatu dengan mereka," jawab Lina.
"S*al," umpat Ram. Kemudian Ram menelepon Ren.
"Halo," Ren menjawab panggilan itu.
"Adira dan Cahaya diculik," ucap Ram dengan suara meninggi. Ram sambil berlari kearah parkiran menghampiri mobil.
Panggilan telepon masih terhubung, tapi Ram tidak berbicara lagi, ia sampai lupa untuk mematikan panggilan tersebut, sehingga Ren yang mematikannya.
"Bagaimana bisa?" tanya Diva panik.
"Ternyata mereka bertindak lebih cepat," ucap Ram.
"Siapa maksudmu?" tanya Darmendra juga panik.
"Anak mafia itu, dia ingin balas dendam pada kita," jawab Ram.
"Apakah anaknya Alex?" tanya Darmendra lagi, sikembar mengangguk.
"Dia adalah putra sulung Alex, dan Jenifer itu adalah adiknya, sewaktu kita melawan Alex, putranya berada di negara lain mengurus perusahaan miliknya." ucap Ray.
__ADS_1
"Bagaimana mereka bisa tau?" tanya Diva. "Jenifer masih hidup, dan Alex juga hidup hanya saja sedang sekarat." jawab Ram.
"Jenifer hanya lumpuh karena patah tulang," ucap Ren.
"Jadi bagaimana ini?" tanya Vera.
"Sebaiknya Oma pulang bersama Opa, Daddy dan Mommy juga pulang ya, biar masalah ini kami yang tangani," kata Ren.
"Mommy mau ikut, Mommy juga akan menyelamatkan menantu Mommy," kata Diva.
"Daddy juga ikut," ucap Darmendra.
"Akan terlalu bahaya nantinya," ucap Ram.
"Kami semua akan ikut, saudara kami diculik tidak mungkin kami akan diam saja," ucap Aisyah. Ren menghela nafas, begitu juga sikembar yang lain. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan. Akhirnya mereka semua pun ikut, Vera dan Jordan juga bersikeras mau ikut pula.
"Ray, coba lacak keberadaan mereka," perintah Ram. Ray pun segera melacak keberadaan Cahaya dan Adira.
"Sepertinya mereka dibawa ke daerah terpencil," kata Ray. Mereka pun melihat titik merah tersebut, ternyata mengarah kesebuah perkampungan yang tidak berpenduduk. Perkampungan itu sepi karena penduduknya semua mengungsi ke daerah lain, karena rumor yang beredar perkampungan tersebut sering diteror oleh makhluk halus. Dan para penduduk satu persatu menghilang terutama anak gadis dibawah umur. jadi mereka percaya kalau anak mereka hilang karena makhluk halus.
"Kita harus bertindak sekarang," perintah Ray. Mereka pun masuk kedalam mobil mereka masing-masing.
"Ada ada saja yang terjadi," gumam Vera, tapi masih didengar oleh Jordan dan yang lainnya karena mereka satu mobil. Sedangkan Lina numpang pada Ram, dan Lica numpang pada Rasya. Dengan kecepatan tinggi mereka meninggal restoran tersebut. Dan mengikuti mobil Ray yang sedang melaju di jalanan.
Sementara Cahaya dan Adira masih belum sadarkan diri, mereka masih dalam pengaruh obat bius, karena sewaktu mereka keluar dari toilet. Mulut mereka tiba-tiba dibekap dari belakang. Sehingga mereka tidak bisa untuk melawan, dan pingsan karena dibius.
"Hahaha, bos kita pasti akan senang dapat gadis cantik," ucap si A yang tadi menculik Cahaya, dan temannya menculik Adira.
"Tentu, sambil nyelam minum air, dapat balas dendam dapat untung juga," ucap si B.
Mereka berjumlah 10 orang, dapat tugas dari bos mereka untuk menculik tunangan sikembar.
"Aku sudah tidak sabar untuk menc*c*p*nya, setelah bos menikm*t* gadis itu baru giliran kita," ucap si C.
Mereka tidak sadar kalau bencana besar akan melanda mereka.
.
.
Covernya diganti oleh novel toon, karena cover yang lama tidak sesuai.
.
.
__ADS_1
.