Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Dia dalangnya


__ADS_3

.


.


.


Ram masih melawan Edward yang ternyata tidak bisa untuk diremehkan. Pertarungan keduanya cukup sengit hingga datang saudara saudaranya yang menyaksikan pertarungan tersebut. Ren menoleh kearah Cahaya yang masih terus memukuli wajah Agnesia. Wardina sudah mencoba melerainya, tapi kekuatan Cahaya seperti bukan dirinya yang sebenarnya.


Ren menoleh kearah Edward dan Ram yang masih bertarung. Lalu Ren berinisiatif untuk menyudahi perkelahian tersebut.


Dengan tenaga kuat Ren melayangkan tendangannya kedada Edward sehingga Edward terpental membentur tembok.


Ram hendak maju untuk menghajar Edward, tapi ditahan oleh Ren.


"Biar aku yang urus, kamu urus Cahaya. Lihat betapa mengg*lanya dia," ucap Ren. Ram baru teringat dan langsung berlari kearah Cahaya dan memeluknya.


"Sudah sayang, sudah. nanti dia bisa mati," ucap Ram menenangkan istrinya. Cahaya tersadar dan bangkit bersama Ram, kemudian memeluk tubuh suaminya dan menumpahkan tangisannya didada bidang suaminya.


"Dia...dia dalang dari semuanya. Dialah dalangnya yang menghacurkan kebahagiaan kami," ucap Cahaya sambil menangis dalam dekapan Ram.


"Iya, tenangkan dirimu ya, ingat ada calon bayi kita yang harus dijaga," ucap Ram sambil mengelus rambut panjang Cahaya.


"Calon bayi? Aah maafkan aku honey, maafkan aku, aku lupa kalau sedang hamil," ucap Cahaya sambil mendongak menatap wajah tampan suaminya. Walaupun ada sedikit lebam karena pukulan.


"Iya, setelah dari sini kita periksa ke dokter ya, aku takut nanti dia kenapa kenapa," kata Ram


Sementara Agnesia sudah babak belur, wajahnya sudah tidak terlihat lagi oleh darah. Sedangkan Edward sudah dikalahkan oleh Ren, dan agar tidak lolos Ren mengikat kaki dan tangan Edward.


"Sebaiknya kamu bawa ibu dan Cahaya kerumah sakit, aku juga khawatir anakmu kenapa kenapa," ucap Roy.


"Ibu bisa jalan?" tanya Raffa.


"Bisa, ibu bisa pelan pelan," jawab Wardina.


Tidak berapa lama rombongan polisi pun datang ketempat kejadian, polisi berhasil mengamankan mereka, dan barang bukti pengakuan Agnesia pun Ram serahkan ke polisi.


Sudah dipastikan Edward dan Agnesia akan mendekam lama dipenjara. Karena kasus yang menimpa keduanya sangat berat. Penculikan, penipuan, pembunuhan berencana, mungkin akan dipenjara seumur hidup.


Memang dendam bisa membutakan mata hati seseorang. Yang baik-baik bisa berubah jahat begitu juga sebaliknya.


Ram, Cahaya dan ibunya sudah berada diperjalanan. Beruntung Ram membawa mobil biasa, bukan mobil sport miliknya. Jadi bisa muat beberapa orang.

__ADS_1


Sementara enam bersaudara pulang ke mansion karena urusan mereka sudah selesai.


Setibanya di rumah sakit, Wardina dibawa keruang UGD, sedangkan Cahaya dibawa keruangan dokter kandungan.


"Bagaimana keadaan calon bayi saya dok? Apakah baik baik saja?" tanya Ram cemas.


"Alhamdulillah, semua baik baik saja, dan kandungannya sangat kuat. Sepertinya calon ibu tidak dapat mengontrol emosi," ucap dokter.


"Iya dok, apakah akan berbahaya dok?" tanya Ram.


"Tidak juga, hal itu bisa saja terjadi pada ibu hamil. Apa lagi ada yang memancing amarahnya," ucap dokter.


"Mmm, sebenarnya istri saya baru habis berkelahi dok, melawan penjahat. Sebab itulah saya begitu khawatir," ucap Ram jujur.


"Haah," dokter Erica pun terkejut. Tidak disangka istri seorang Ramendra Henderson yang terlihat lembut dan anggun ternyata pandai berkelahi.


"Lain kali dijaga baik-baik ya tuan," pesan dokter setelah ia menetralkan dirinya atas keterkejutan tadi.


"Baik dok, kalau begitu kami permisi," ucap Ram, lalu menggandeng tangan Cahaya.


Saat mereka keluar, mereka berpapasan dengan dokter yang merawat Wardina.


"Ibu tuan baik baik saja, dan tidak perlu dirawat inap. hanya luka luar saja," kata dokter menjelaskan.


"Terimakasih dok, apa boleh ibu saya dibawa pulang sekarang?" tanya Ram.


"Boleh tuan, dan ini resep obat yang harus ditebus nanti," ucap dokter itu sambil menyerahkan secarik kertas kepada Ram. Ram pun mengambilnya dan segera menebus obat tersebut dan sekalian mengurus administrasinya.


Cahaya tidak berkata apa-apa sejak tadi, mungkin ia masih syok mendapati kenyataan. Kembali terlintas dipikirannya saat ayahnya mengusir mereka. Dan ayahnya tidak mengakui Cahaya sebagai anak. Cahaya tiba tiba menangis, Ram yang sedang menyetir pun terpaksa menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Ram merangkul tubuh Cahaya untuk menenangkannya.


"Sayang, sudah ya semua sudah berlalu," ucap Ram, Wardina yang berada dibelakang juga ikut menangis. Ram jadi serba salah tapi ia lebih mengutamakan istrinya.


"Sayang sudah ya," ucap Ram. Akhirnya tangisan Cahaya pun mereda.


"Honey aku lapar," ucap Cahaya, Ram menutup mulutnya menahan tawa. Jangan sampai ia kelepasan tertawa. Bisa bisa jadi bumerang.


"Iya kita makan dulu, mau makan apa?" tanya Ram.


"mmmm, terserah deh. Ehh tidak tidak, mau makan seblak ceker sama sup ikan salmon kemudian udang galah," ucap Cahaya.


Ram melajukan mobilnya menuju restoran yang menyediakan makanan yang dipinta oleh Cahaya. Mood Cahaya kini berubah lebih baik, seakan kejadian tadi tidak pernah terjadi sama sekali. Ram sangat heran dengan perubahan spontan Cahaya, tapi Ram juga lega karena ia tidak terlalu larut dalam masalah yang terjadi.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama mereka tiba di sebuah restoran. Wardina keluar dari mobil dan kemudian Ram juga keluar setelah itu ia membukakan pintu mobil untuk Cahaya. Dan menggandeng tangan Cahaya. Ram juga menuntun Wardina karena tubuhnya lemah, setelah disiksa ditambah lagi ia belum makan sejak tadi.


"Ibu mau pesan apa?" tanya Ram.


"Apa saja Nak, yang penting bisa kenyang," jawab Wardina.


"Dan yang penting ada nasinya," ucap Wardina lagi. Ram kemudian memesan nasi ayam untuk ibu mertuanya, dan tidak lupa dengan lauk nya yang menggugah selera.


Sedangkan Cahaya sudah Ram pesankan seperti yang disebutkannya tadi. Ram pun memesan makanan yang sama dengan Cahaya, ibunya juga dipesan oleh Ram biar adil.


"Ibu untuk sementara waktu tinggal di mansion dulu aja ya?" tanya Ram.


"Apa gak ngerepotin Nak?" tanya Wardina balik.


"Tidak dong Bu, malahan kami sangat senang," jawab Ram.


"Baiklah kalau begitu," ucap Wardina.


Pesanan mereka pun tiba, Cahaya begitu antusias untuk menikmati hidangan tersebut.


"Pelan pelan sayang," ucap Ram. Cahaya hanya mengangguk. Mulutnya sudah penuh oleh ceker ayam.


"Nanti ibu ikut tinggal bersama kami saja, aku tidak tega membiarkan ibu sendirian," ucap Ram.


"Terus bagaimana dengan rumah itu?" tanya Wardina.


"Nanti aku akan memperkerjakan orang untuk merawat rumah tersebut. Agar ada yang membersihkan rumah itu setiap hari." jawab Ram.


"Sekalian ibu bisa menemani Cahaya dirumah. Kalau nanti aku sibuk bekerja," kata Ram.


"Baiklah kalau begitu, ibu setuju. Lagipula ibu tidak ingin jauh jauh dari anak ibu," ucap Wardina. Ram tersenyum mendengarnya.


Untuk sementara Ram akan membawa ibu mertuanya tinggal di mansion, Ram tidak mau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi lagi.


Kita tidak tahu kedepannya seperti apa?.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2