Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Keseruan di tepi pantai


__ADS_3

.


.


.


Bos penculik itu merapatkan pahanya sambil menahan rasa sakit. Untuk bangun saja rasanya tidak sanggup, bos penculik itu hanya berbaring diatas pasir putih.


"Gimana paman? Enak gak?" tanya Lina sambil tersenyum sinis.


"Ka.. kalian...!" bos penculik itu tidak sanggup lagi bicara.


"Tendangannya seperti memiliki kekuatan super," batin bos.


"Bos..! bos tidak apa-apa?" tanya si A.


"Tidak apa-apa, apanya? Gak lihat apa bos lagi kesakitan?" tanya si E.


"B*go dipelihara," umpat si C pada si A.


"Loh, salahku dimana? Aku cuma bertanya emang salah?" tanya si A. Akhirnya mereka berdebat hal yang tidak penting.


"Sudah selesai debat nya?" tanya Lita.


Mereka saling pandang karena melupakan tujuan mereka untuk menculik anak itu. Melihat bos mereka yang seperti itu, mereka ragu untuk maju menyerang, ditambah lagi ketiga dari mereka sudah benjol ketiban buah kelapa.


"Tunggu apalagi? Tangkap anak itu dan jangan hiraukan aku," perintah bos itu.


"Tapi bos," ucapan si A terhenti.


"Tapi apa? Kalau kita culik mereka kita akan kaya," ucap bos itu yang merasa sudah agak baikan.


Baru saja bos itu bangun dan berdiri, Lica bersalto menendang perut bos penculik itu hingga terpental beberapa meter dan membentur pohon kelapa, sekali lagi bos penculik itu terbaring diatas pasir. Matanya mulai berkunang-kunang dan pingsan.


"Ya gak seru banget sih, segitu aja sudah pingsan," ucap Lica.


Si A menghampiri bosnya yang sudah tergeletak dipasir. Ia mengguncang-guncang tubuh bosnya itu tapi tetap tidak bangun juga.


"Bos, bos...!" panggil si A, tapi tidak ada gerakan sama sekali.


"Mari kita pergi," ajak Lina pada saudaranya.

__ADS_1


"Hei bocah nakal, tunggu..! Kalian harus tanggung jawab telah membuat bos kami pingsan," teriak si A.


Triple A berhenti dan berbalik berjalan menuju penculik yang tersisa 9 orang. Melihat keberanian anak itu, para penculik malah menciut. Nyali mereka seperti lenyap.


"Paman bilang apa tadi? Tanggung jawab? Bukankah kalian yang datang kepada kami?" tanya Lina beruntun, para penculik itu tidak bisa menjawab.


"Sudahlah Lin, habisi saja mereka. Daripada nanti banyak yang menjadi korban," ucap Lica.


"Kalian siap?" tanya Lina pada saudaranya, kedua saudaranya pun mengangguk.


Mereka bertos lebih dulu setelah itu mereka memasang ancang-ancang untuk menyerang.


Lina dari sisi kanan, Lita dari sisi kiri, dan Lica tetap ditempatnya semula. Satu persatu mereka lawan, ternyata tidak ada apa apanya hanya menang brewok dan berbadan besar saja. Hanya dalam sekejap semua sudah terkapar diatas pasir. Ketiganya bertos lagi dan segera pergi dari tempat itu. Diperjalanan menuju tempat keluarganya, triple A melihat seorang anak kecil menangis dan triple A pun menghampiri anak itu, anak perempuan sekitar umur 3 tahun.


"Adek kenapa?" tanya Lina, anak itu menengadah dan melihat tiga orang berwajah mirip.


"Mama, mama," ucap anak itu.


"Mamanya dimana?" tanya Lita, anak itu menggeleng.


"Mungkin Mamanya keasikan hingga lupa anaknya," kata Lica.


"Sebaiknya kita bawa anak ini ke pos jaga, siapa tau Mamanya ada disana," ucap Lina, kedua saudaranya mengangguk.


"Sayang, kamu kemana saja? Mommy sangat risau dengan kalian," tanya Diva.


Diva pun memeluk ketiga putrinya. Darmendra juga memeluk Putrinya. Sedangkan anak kecil tadi sudah dikembalikan kepada orang tuanya.


"Terimakasih banyak sudah menemukan anak kami," ucap wanita itu yang diyakini adalah ibu dari anak itu.


"Sama sama nyonya, kebetulan tadi kami lewat lalu ketemu adik itu sambil menangis," ucap Lina sopan.


"Lain kali hati hati nyonya, sekarang banyak penculikkan anak," ucap Lita.


"Buktinya tadi kami hampir diculik," ucap Lica, lalu disikut oleh Lina.


"Oops maaf keceplosan," ucap Lica lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Apa? kalian hampir diculik?" tanya Diva yang tanpa sadar suaranya meninggi.


"Sayang, sudahlah anak kita tidak apa-apa, buktinya mereka sudah kembali." kata Darmendra.

__ADS_1


"Oh iya, telepon yang lain bahwa 3 Angel sudah ketemu," kata Diva.


"Mari kita kembali," ajak Darmendra. triple A pun mengikuti langkah kaki orang tuanya.


"Tunggu...!" ayah dari anak itu menghentikan mereka. Dan mengeluarkan cek dengan nominal 50 juta.


"Terimalah sebagai tanda terimakasih kami," ucap pria itu.


"Maaf tuan, tidak semua hal harus dinilai dengan uang, memang semua butuh uang tapi tidak semuanya bisa dibeli dengan uang," ucap Lina sopan. Pria itu tidak tau kalau orang yang ingin diberinya uang itu lebih kaya dari dirinya.


"Lebih baik uang itu tuan gunakan untuk membantu orang yang sedang memerlukan, seperti pakir miskin dan anak anak yatim piatu yang ada dipanti asuhan." ucap Lita. Pria itu terasa tertampar oleh ucapan anak kecil.


"Mereka masih kecil tapi kenapa kata katanya sangat bijaksana," batin pria itu.


"Benar apa yang dikatakan anak anak saya," ucap Darmendra.


"Oh ya kalau boleh tau siapa nama anda?" tanya pria itu.


"Saya Darmendra Henderson," ucap Darmendra.


Mendengar nama Henderson, pria itu terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, pria itu benar benar syok.


"Kalau begitu kami permisi,' ucap Darmendra.


Pria itu masih bengong ditempat, jujur ia sangat malu apalagi setelah mendengar perkataan triple A.


Darmendra sudah tiba di tempat mereka berkumpul, orang orang yang tadi mencari triple A pun sudah kembali. Sekarang hari pun semakin sore, hingga awan berwarna jingga pun mulai terlihat menandakan matahari hampir terbenam. Para gadis begitu senang melihat sunset ditemani oleh para pria kekasih mereka. Semua berkumpul bersama untuk melihat matahari terbenam, tidak berapa lama matahari benar benar terbenam. Mereka pun mulai menyiapkan bahan bahan untuk mereka barbeque. Bermacam macam yang mereka bawa, ada daging, ayam, ikan dan sosis. Masing-masing dengan tungku yang bisa dibawa kemana-mana. Keseruan mereka berlanjut saat sikembar tujuh memainkan gitar dan bernyanyi. Sungguh hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi mereka. Adam mendekati Aruna, tapi Aruna malu malu mau. Seperti jinak jinak merpati gitu.


"Kamu mau apa? Biar aku ambilkan," tanya Adam.


"Hmmm, sosis deh pake sambel," jawab Aruna. Adam pun mengambilkan sosis untuk Aruna dan meletakkannya dipiring yang terbuat dari kertas.


"Terimakasih," ucap Aruna tanpa berani memandang Adam.


"Sama sama," ucap Adam sambil curi curi pandang kearah Aruna.


Sedangkan disisi lain, sikembar tujuh sedang suap suapan bersama pujaan hati mereka, kesempatan ini memang sangat menguntungkan bagi mereka. Kapan lagi bisa seperti ini? Mungkin tahun depan belum tentu bisa seperti ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2