
.
.
.
Tak terasa sudah satu Minggu mereka berada di Dubai. Banyak tempat tempat yang indah mereka datangi, dan juga pengalaman yang menegangkan juga mereka alami, salah satunya diserang secara tiba-tiba. Kini mereka berada di pusat perbelanjaan di negara ini. mereka hendak membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Dan nantinya akan mereka bagi bagikan kepada keluarga dan teman teman mereka semua, tidak lupa pelayan mansion dan pengawal juga kebagian.
(Maaf ya, yang dua pasang tidak dibahas malam pertamanya, ujung ujungnya juga sama ceritanya).
Mereka berpencar dengan pasangan masing-masing, dan memilih apa saja yang menarik dimata mereka. Karena mereka berencana malam ini mereka akan pulang ketanah air.
Kita tinggalkan dulu mereka yang sedang asik belanja. Kita beralih ke Indonesia tempat triple A sekolah.
"Ada apa dengan Johan?" tanya salah satu siswa yang biasa Johan bully.
"Entah, kesambet kali," jawab siswa yang lain.
Ya sejak insiden hari itu, sikap Johan 180 derajat berubah. karena ia sudah mengetahui siapa triple A yang sebenarnya?.
Flashback...
Triple A menjenguk Johan dirumah sakit. Setelah mereka menghajar sahabat Johan. kebetulan diruang tempat Johan dirawat ketika itu sepi, triple A masuk tentu saja membuat Johan kaget.
"Apa kabar Johan?" tanya Lina dengan senyum smirk. kedua saudaranya juga mendekat.
"Itu belum seberapa, jika kamu terus membuli siswa siswi di sekolah kita maka bersiaplah untuk menerima akibatnya. Dan satu lagi, jika ingin perusahaan Papa mu aman aman saja, maka jangan berurusan dengan kami." ucap Lina.
"Heh, memangnya apa yang bisa kalian lakukan? kalian cuma anak kecil yang sok jago," ucap Johan sinis.
"Kenalkan, namaku Angelina Henderson, dan mereka adalah saudara kembarku. Apa yang akan dilakukan keluarga Henderson bila salah satu putri kesayangannya diganggu?" tanya Lina. Mendengar nama Henderson Johan gugup, bahkan tangannya gemetar.
"Kalau kamu dan teman temanmu masih membuli siswa siswi di sekolah. Kau akan tanggung akibatnya." ucap Lita yang juga turut mengancam.
"Oh ya, ketiga temanmu seperti juga masuk rumah sakit karena kami hajar," ucap Lica.
"Bohong..!" teriak Johan, tapi wajahnya terlihat sangat pucat.
"Sebentar lagi kau akan tahu," jawab Lina kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu dan langsung meninggalkan rumah sakit tersebut.
Flashback end...
Johan pun kini telah berubah, dan tidak lagi membuli mereka. Perkataan triple A masih terngiang ngiang ditelinga nya. Karena apa yang dikatakan oleh triple A semua benar, teman temannya masuk rumah sakit setelah dihajar oleh triple A.
__ADS_1
Jam pelajaran telah usai, anak anak sekolah sudah bubar untuk pulang, sedangkan triple A masih didalam kelas. Mereka akan keluar paling terakhir.
"Lin, saya mau minta maaf," ucap Ansel.
"Iya Lin, saya juga, saya janji tidak akan membuli mereka lagi, saya kapok." kata Johan.
Kemudian kedua temannya juga minta maaf, setelah triple A menghajar mereka, mereka benar benar kapok.
"Kami janji tidak akan menggangu mereka lagi," ucap Gibson.
"Jangan cuma berjanji, tapi buktikan," kata Lina tegas. Mereka bergidik ngeri melihat ketegasan Lina dalam berkata.
"Mengapa aura nya seperti seorang pemimpin," batin Johan. Ternyata ketiga sahabatnya juga berpikiran yang sama.
"Ingat, jika kalian tidak ingin hancur buktikan ucapan kalian," ucap Lina. Setelah itu triple A pun keluar dari dalam kelas.
"Kalian ngerasa gak, aura Lina begitu kuat. Ketegasannya membuat saya bergidik," ucap Johan.
"Iya, saya juga merasakannya." kata Ansel.
Jika ada yang bertanya kemana Randy? Randy sekolah diluar negeri. mengikuti orang tuanya. Nanti setelah mereka dewasa baru dipertemukan kembali.
Kembali pada Johan dan teman temannya.
"Ternyata mereka sangat kuat loh, aku terlalu meremehkan mereka," kata Rino.
"Aku rasa mereka tidak main-main dengan ancamannya, mereka kan dari keluarga Henderson," jawab Gibson.
"Ya sudah yuk cabut," ajak Johan.
Mereka semua pun keluar dari dalam kelas. Ketika sampai di depan sekolah, ternyata triple A masih ada dan bersiap siap untuk pulang. Mereka mengeluarkan skuter masing-masing. kalau pagi berangkat ke sekolah mereka diantar oleh Agus, tapi pulangnya mereka pulang sendiri menggunakan skuter. Sedangkan Johan dan teman temannya memakai motor.
Johan mengikuti triple A dari belakang, seperti pengawal saja. Tiba ditempat sepi, triple A melihat mobil sedang dihadang oleh beberapa orang preman.
"Bukankah itu mobil Om Jhon?" tanya Lica.
"Apa jangan jangan yang didalam adalah Felix?" tanya Lita balik.
"Mari kita dekati," ajak Lina. Johan dan teman temannya juga berhenti. Mereka memperhatikan dari kejauhan saja.
"Ada apa ini?" tanya Lina saat mereka sudah mendekat. Ternyata yang ada didalam adalah Felix, Ethan dan Gibran, mereka satu sekolah.
"Kak...! panggil Ethan. Mereka bergegas keluar dari mobil.
__ADS_1
"Ada apa, kenapa dengan mobil kalian?" tanya Lina.
"Kami dihadang oleh preman kak, dan sopir kami melarang kami keluar," jawab Felix.
Preman tadi yang mengetuk kaca mobil menghampiri ketuanya.
"Bos ada mangsa baru lagi, sepertinya anak orang kaya juga," Lapor preman A.
"Hmmm, bagus. Cepat kalian paksa mereka untuk menyerahkan uang mereka, bila mereka tidak mau kalian culik anak anak itu dan minta tebusan pada orang tuanya," perintah bos preman itu.
Ethan, Felix dan Gibran pun keluar dari mobil. Sedangkan sopir mereka sudah terlihat pucat takut anak tuannya kenapa kenapa.
Oh ya, rumah Jhon, Aldo dan Robert berdekatan. mereka setelah menikah sengaja membangun rumah berdekatan karena permintaan sang istri.
"Kenapa kalian diam saja? Bukankah kalian bisa berkelahi?" tanya Lina. Mereka cuma nyengir dan garuk-garuk kepala.
"Mari kita lawan mereka," kata Lica. Mereka berenam pun maju menghampiri preman tersebut.
"Mau apa kalian?" tanya Lina.
"hahaha, kami mau uang. Serahkan uang kalian." kata bos preman itu.
"Jangan mimpi," kata Felix.
"Heh bocah, nantang kamu ya? Baru dijewer sudah nangis," tanya bos preman itu.
"Kita lihat saja nanti siapa yang bakal nangis?" tanya Lica.
"Berani kalian ya? Nih lihat...!" preman itu memperlihatkan tato ditangannya.
"Hahaha," mereka semua tertawa, preman itu saling pandang melihat anak kecil didepan mereka mentertawakan nya.
"Kalian...!" salah satu dari preman itu maju, dan hendak menjewer telinga Gibran. Tapi dengan cepat Gibran menangkap tangan itu dan memelintirnya.
"Aww, aduh... aduh sakit," teriak preman itu. Gibran semakin memelintir tangan preman itu, preman itu semakin menjerit kesakitan.
Satu temannya hendak menolong, dengan menendang kearah Gibran, tapi dengan cepat Lita menangkis tendangan tersebut, sehingga tidak mengenai Gibran.
Sedangkan Johan dan teman temannya merasa takjub dengan keberanian triple A, dan mereka tidak ingin lagi berurusan dengan triple A.
"Wah hebat sekali mereka," kata Johan, dan diangguki oleh teman temannya.
.
__ADS_1
.
.