
.
.
.
Elviza semakin pucat, saat Raffa menyuruhnya meminum kopi yang dibuatnya sendiri.
"Ta... tapi tuan, sa.. saya tidak bisa minum kopi," jawab Elviza gugup.
"Sebelum aku pulang, kamu harus habiskan kopi tersebut. Setelah itu kamu keluar dari sini dan jangan datang lagi kesini. Dan kamu dipecat. Setelah kamu keluar dari sini kamu tidak akan diterima di agensi manapun." kata Raffa lantang.
"Tu.. tuan..." ucap Elviza sambil terduduk dilantai.
"Ayo minum," bentak Raffa.
Dengan berat hati Elviza meminum kopi tersebut, setelah selesai ia meminum kopi itu, Raffa memerintahkan kepada Endy untuk mengurung Elviza disebuah ruangan.
Tanpa diperintah kali kedua Endy langsung menjalankan perintah bosnya.
"Sebenarnya ada apa tuan?" tanya Endy setelah kembali keruangan Raffa.
"Model yang kau rekrut itu punya niat tidak baik, kau tau apa yang dia masukkan dalam kopi itu?" tanya Raffa. Endy menggeleng.
"Maafkan saya tuan, saya kurang teliti dalam memilih model." ucap Endy.
"Besok kau bebaskan wanita itu dan blacklist dia agar tidak diterima di agensi manapun. Jangan salahkan aku bila berbuat lebih kejam." ucap Raffa.
"Oya, dalam kopi itu ada obat terlarang yang bisa membuat orang kehilangan akal sehat, silahkan kalau ingin mencobanya," ucap Raffa lagi.
"Ti.. tidak tuan, saya tidak mau mencari masalah," jawab Endy gugup.
"Aku sudah mencari tahu latarbelakang model wanita itu, dia sebenarnya anak orang kaya dan sengaja masuk ke agensi ini untuk maksud tertentu. kau mengerti kan maksudku?" tanya Raffa.
"I.. iya tuan," jawab Endy gugup.
"Kau urus wanita itu aku mau pulang," kata Raffa.
"Baik tuan," kata Endy.
Kemudian Raffa dan Endy keluar dari ruangannya, Raffa berjalan kearah lift dan Endy pergi keruang tempat wanita itu terkurung.
"Astaghfirullah," ucap Endy kaget saat melihat pemandangan didepannya. Wanita itu menggeliat seperti cacing kepanasan. Dengan tanpa apapun ditubuhnya, membuat Endy memalingkan wajahnya kearah lain. Kemudian dengan cepat ia keluar dan kembali menutup pintu.
"Ternyata ini yang dimaksud oleh tuan Raffa," batin Endy.
__ADS_1
"Hiiiii...." Endy bergidik membayangkan bila itu terjadi kepada bos nya tersebut.
Sedangkan didalam ruangan, Elviza tidak dapat menahan h*sr*tnya lagi karena pengaruh obat tersebut.
"panas... panas," ucap Elviza setengah berteriak. bahkan ia pun mengeluarkan des*han. Raffa benar benar tanpa hati dalam memberikan pelajaran.
Endy sendiri tidak tahu letak cctv tersembunyi, juga karyawan lain tidak ada yang mengetahui letak cctv tersembunyi tersebut.
Semua itu Raffa lakukan hanya untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Dan juga untuk melihat kinerja karyawannya jujur atau tidaknya.
Raffa mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata, karena ia sangat merindukan buah hatinya, seharian bekerja membuat dirinya sangat merindukan kedua anak kembarnya itu.
Raffa mengerem mendadak saat melihat seorang gadis berlari keluar dari gang. Raffa yang berada didalam mobil hanya memperhatikan gadis tersebut yang terus berlari. Tidak lama keluar 3 orang pria sedang mengejar gadis tersebut. Merasa ada yang tidak beres Raffa menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menabrak salah satu dari mereka.
"Aakh..." teriak orang itu yang terpental beberapa meter dan berguling diaspal.
Dua temannya pun berhenti melihat salah satu temannya terluka.
Sedangkan gadis itu terus berlari tanpa menoleh lagi kearah belakang, dan tidak mengetahui apa yang terjadi dengan 3 orang yang mengejarnya.
"Hei siapa kamu?" tanya salah satu dari pria itu.
"Tidak penting untuk kamu tau siapa aku?" tanya Raffa balik.
"Ciih, mengganggu kesenangan orang saja," umpat satunya lagi.
Kedua pria itu maju hendak meninju wajah Raffa, tapi dengan santainya Raffa mengelak. karena merasa tinjuannya tidak mengenai sasaran pria itu menjadi semakin marah. Ia menendang kearah Raffa, tapi dengan santainya Raffa menangkap kaki pria itu dan memelintirnya hingga pria itu menjerit kesakitan.
"Aaakh, tolong tolong lepasin, sakit," teriak pria itu.
"Makanya jangan macam macam," ucap Raffa.
Kemudian Raffa mendorong pria itu hingga terjungkal mengenai teman satunya. Kini keduanya tersungkur keaspal.
Raffa kemudian masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya, karena ia ingin cepat cepat pulang, tapi terganggu oleh cecunguk cecunguk itu.
"S*al....!" umpat pria itu yang tadi dihajar oleh Raffa.
"Gara gara dia gadis itu lolos," katanya lagi.
"Tenang bos, kita bisa mencari mangsa baru untuk menuntaskan h*sr*t *****al kita," ucap satunya lagi.
"Hmmm kamu benar, ayo," ajak pria yang dipanggil bos itu.
"Bos bagaimana dengan Dendi? Sepertinya dia terluka parah," tanya Debi.
__ADS_1
Mereka hendak mengangkat Dendi, tapi seketika Dendi menjerit kesakitan. Ternyata tangan dan kakinya patah akibat ditabrak oleh Raffa tadi.
"Gawat bos, sepertinya kaki dan tangan Dendi patah," kata Debi.
"Bagaimana ini? Kita tidak punya banyak uang untuk membawanya kerumah sakit." si bos.
Akhirnya mereka pun menggotong Dendi dan membawanya pulang.
Sementara Raffa sudah tiba di mansion, ia langsung masuk dan melihat Mommy dan Daddy-nya Oma dan Opanya sedang duduk diruang tamu. Orang yang pertama Raffa sapa adalah Mommy nya kemudian baru yang lain.
"Baru pulang?" tanya Diva.
"Iya Mom, tadi ada urusan sedikit jadi telat pulang," jawab Raffa.
Raffa pamit kekamar setelah mencium tangan Mommy, Daddy Oma dan Opanya.
"Tingkahnya persis seperti mu," kata Vera kepada Darmendra. Sedangkan Darmendra hanya nyengir saja.
"Namanya juga anaknya Mom, kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," ucap Diva.
"Raffa masuk kedalam kamar anaknya, dan melihat Prita sedang memberikan asi kepada bayinya, membuat Raffa menelan salivanya.
"Sayang...!" panggil Raffa, Prita menoleh dan tersenyum. Raffa mendekat melihat baby Kayden yang mengerjap ngerjapkan matanya. Sedangkan baby Kayvira tertidur.
"Mandi dulu Pa...!" perintah Prita.
"Hehe, iya sayang," jawab Raffa lalu mengecup kening istrinya.
Raffa keluar dari kamar baby Kay, dan masuk kedalam kamar mereka. Tidak berapa lama Prita pun menyusul suaminya karena Kayden sudah tertidur.
Prita masuk dan mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, Prita tersenyum lalu menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Tidak berapa lama Raffa keluar dengan mengenakan handuk sebatas pinggang. Prita menoleh ke suaminya dan menghampirinya.
"Papa semakin tampan," ucap Prita sambil mengelus dada Raffa. Raffa berdesir dengan sentuhan lembut dari Prita.
"Sayang kamu membangunkan nya," ucap Raffa dengan suara beratnya.
"Bagus dong," ucap Prita sambil mengecup bibir Raffa.
"Sayang...!" panggil Raffa dengan suara berat.
"Hmmm, ada apa? Apa yang bisa aku bantu?" tanya Prita tanpa merasa bersalah karena telah membangunkan sesuatu yang sedang tertidur lama.
"Kamu harus tanggung jawab," ucap Raffa lalu memeluk istrinya.
.
__ADS_1
.
.