
.
.
.
Setelah dengan pikiran mereka masing-masing, sikembar pun keluar dari kamar untuk makan malam, kali ini sifat mereka tidak lagi kekanak-kanakan. Tidak berebut untuk masuk lift dan sebagainya. Mereka sangat sopan dari biasanya, entahlah mungkin kesambet kali ya?
'Adik kalian mana?" tanya Diva.
"Kami disini Mom," bukan sikembar yang menjawab tapi triple A.
"Sekarang makan dulu, besok adalah hari pertunangan kalian," ucap Diva pada sikembar. Seperti biasa Diva melayani suaminya dan triple A. Sikembar cuma mau dilayani oleh pasangan mereka. Vera tersenyum.
"Rasanya baru kemarin bertemu kalian, sekarang sudah ingin menikah, ternyata cucu Oma sudah dewasa." ucap Vera sambil mengusap air matanya.
"Kenapa Oma menangis, kita gak kemana-mana kok," kata Ram.
"Oma bahagia, sayang. Oma sangat bahagia kalian menemukan pasangan yang cocok." ujar Vera.
"Sudah, makan dulu nanti aja ceritanya," bujuk Jordan sambil mengelus pundak istrinya.
Kemudian mereka pun makan tanpa berbicara lagi. Setelah selesai makan mereka berkumpul diruang keluarga, hanya triple A yang langsung masuk kedalam kamar.
"Sini duduk dekat Oma," pinta Vera pada Ram, Ram pun menurut saja. Duduk disamping Vera dan menyandarkan kepalanya dipundak Oma nya itu.
"Bagaimana rencana kalian?" tanya Jordan.
"Maksud Opa?" tanya Ren.
"Mau menikah muda harus punya persiapan yang matang. Menikah bukan hanya teman tidur satu ranjang saja. Untuk menikah harus mantap dengan segala persiapan lahir dan batin," ucap Jordan. Sebenarnya mereka masih berat untuk melepas sikembar menikah, selain sikembar masih muda, mereka belum puas menikmati masa bersama sama.
Sikembar usia tujuh tahun baru mereka temukan dan baru beberapa tahun bersama sikembar mereka berpisah lagi selama delapan tahun. Rasanya saat kebersamaan mereka begitu singkat.
"InsyaAllah kami siap Opa," jawab sikembar mantap secara bersamaan. Jordan manggut-manggut.
"Sebenarnya Daddy juga masih berat melepas kalian untuk menikah, tapi Daddy juga tidak bisa menghalangi keinginan kalian," ucap Darmendra.
__ADS_1
"Dad kami menikah bukan untuk menjauhi kalian, kami hanya ingin merasakan hidup bahagia bersama keluarga kecil. Seperti Daddy dan Mommy yang selalu hidup harmonis dan bahagia, kami harap kebahagiaan dan keharmonisan Mommy dan Daddy tetap terjaga." ucap Ram panjang lebar.
Diva tersipu saja.
"Sudahlah hubby, mereka juga tidak akan kemana mana, paling kalau mereka pindah rumah masih sekitar sini saja, tidak ke kota lain atau negara lain," jawab Diva.
"Daddy terlalu dramatis," ejek Ren.
"Padahal kami anak laki laki dikhawatirkan seolah olah kami anak gadis Daddy satu satunya." Rasya menimpali.
"Lebih baik nikah muda Dad, daripada pacaran lama lama malah takutnya terjerumus ke hal yang tidak diinginkan," ucap Roy.
"Hahaha, Daddy lupa kalian anak super jenius," Darmendra tertawa hambar.
"Ada yang ingin Mommy sampaikan, mungkin sudah saatnya Mommy harus jujur dengan kalian," Diva menjeda ucapannya.
Darmendra, Jordan dan Vera saling pandang, ketiganya sudah menduga arah pembicaraan Diva.
"Mommy tidak bisa memendam ini lama lama, sebenarnya Mommy bukan bukan ibu kandung kalian, ibu kandung kalian yang sebenarnya sudah meninggal ketika kalian lahir," ucap Diva. Sikembar tentu saja terkejut dan mereka semua saling pandang. Tidak ada kata kata yang mereka ungkapkan tidak ada komentar yang mereka ajukan, mereka hanya tergamam.
"Maafkan aku hubby, aku harus jujur dengan mereka, setelah ini terserah kalian untuk menganggap Mommy apa? Yang penting beban dihati Mommy berkurang, dengan merahasiakan semuanya membuat Mommy selalu kepikiran," ucap Diva. Darmendra mengelus pundak istrinya agar tidak emosional.
Ram bangkit dari duduknya lalu bersimpuh dikaki Diva, kemudian diikuti oleh Ray, lalu Roy juga melakukan hal yang sama, dan saudaranya yang lain juga ikut bersimpuh dikaki Diva.
"Apapun yang terjadi Mommy adalah, Mommy terbaik kami. Allah sudah menitipkan malaikat tak bersayap untuk menolong dan merawat kami. Jangan katakan kalau Mommy bukan ibu kandung kami, jangan katakan Mommy," ucap sikembar serentak. Mereka masih bersimpuh dikaki Diva sambil menangis.
Sekuat apapun mereka, pasti akan rapuh hatinya bila menerima kenyataan yang tidak mereka duga sama sekali.
"Kalian tidak membenci Mommy?" tanya Diva.
"Tidak akan," jawab sikembar serentak.
"Kami akan selalu menganggap Mommy adalah ibu kandung kami," ucap sikembar lagi. Diva menarik sikembar kedalam pelukannya, mereka pun menangis masal. Darmendra juga turut menangis.
"Aku tidak menyangka Diva akan jujur mengakui semuanya," ucap Darmendra pada Vera, Vera mengangguk karena tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya airmata saja yang bisa mengungkapkan semuanya.
"Maafkan Mommy karena tidak jujur dari dulu pada kalian, maafkan Mommy yang terlalu egois karena terlalu menyayangi dan mencintai kalian, maafkan Mommy." ucap Diva dengan derai airmata. Sikembar menggeleng.
__ADS_1
"Mommy tidak salah, Mommy tidak perlu minta maaf, kami berterimakasih karena diselamatkan oleh Mommy. Mommy adalah panutan kami, membimbing kami hingga kami bisa seperti sekarang ini," ucap Ram. Semakin tumpah lah airmata mereka.
Kemudian Diva mencium pipi sikembar satu persatu, mereka malah semakin menangis.
"Begitu banyak pengorbanan yang telah Mommy lakukan kepada kami, dan kami tidak akan bisa untuk membalasnya. Cinta dan kasih sayang Mommy ke kami bukan seperti ibu sambung, tapi seperti ibu kandung," ucap Ram lagi.
"Besok kita berziarah ke makam ibu kalian, minta restu darinya doa kan dia, perjuangannya untuk melahirkan kalian sangat besar," ucap Diva, dan sikembar mengangguk.
"Sekarang kalian istirahat, besok pagi kita kesana," ucap Diva lagi.
Sikembar sekali lagi memeluk Diva, kali ini mereka bergantian memeluk dan mencium pipi Diva. Kemudian mereka pun kekamar mereka masing-masing.
Diva duduk disamping Darmendra, lalu dengan cepat Darmendra memeluknya, Vera juga memeluk Diva dan ingin menenangkan Diva. Padahal Diva tidak apa-apa.
"Bagaimana perasaanmu, sayang?" tanya Darmendra.
"Aku lega by, perasaan yang selama ini mengganjal kini terasa plong," jawab Diva.
"Aku tidak peduli sikembar mau benci atau menjauh dariku, yang penting perasaanku benar benar sudah merasa tenang," ucap Diva lagi.
"Tidak akan, mereka sudah hidup bersamamu sejak usia mereka baru satu hari, kasih sayangmu sudah melekat dalam hati dan diri mereka," ucap Darmendra.
Diva menoleh lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Darmendra. Darmendra pun memeluk tubuh Diva. Vera memberi kode pada suaminya agar tidak menggangu keduanya.
"Sayang kita masuk kekamar yuk, istirahat besok kita juga akan ikut berziarah ke makam Mona," ajak Vera.
"Yuk lah," jawab Jordan lalu bangkit dari duduknya menarik tangan Vera dengan pelan.
.
.
Sumpah, aku nulis part ini ikut menetes airmata. Entahlah rasanya menyentuh banget di hatiku.
.
.
__ADS_1
.