
.
.
.
Mereka pun masuk dan disambut oleh pelayan dengan ramah, pelayan itu masih pelayan yang sama, bedanya sekarang ia sudah menikah dan memiliki anak.
"Selamat datang tuan dan nona silahkan," sapa pelayan itu sopan.
"Kakak tidak mengenal kami?" tanya Ram.
pelayan itu mencoba mengingat ingat siapa yang ada dihadapannya? Namun nihil, karena begitu banyak orang yang datang dan juga waktu sikembar kesini sudah beberapa tahun yang lalu. Jadi wajar kalau pelayan itu lupa.
"Kakak apa kabar?" tanya Rasya, pelayan itu mengangguk pertanda baik.
"Maaf, tapi ini siapa ya?" tanya pelayan itu.
"Kakak ingat dengan bocah kembar tujuh yang sering kesini beberapa tahun lalu?" tanya Ram.
"Aaaa....iya, iya saya ingat. Wah sekarang sudah sebesar ini tambah ganteng dan tinggi, kemana saja selama ini?" tanya pelayan itu.
"Kami baru pulang dari luar negeri kak, kuliah di sana," jawab Ram.
"Oh ya silahkan duduk, mau makan apa?" tanya pelayan itu.
"ikan bakar kak, kalau ada ikan mas." jawab Ram.
"Baik, biar kakak beritahu suami kakak dulu untuk menangkap ikan tersebut," kata pelayan itu.
"Kakak sudah menikah? selamat ya kak semoga langgeng," tanya Ram.
"Aamiin, tunggu sebentar ya," ucap pelayan itu, dan mereka pun mengangguk.
"Kak, sepertinya kakak kenal banget dengan wanita itu?" tanya Cahaya.
"Bisa dibilang begitu, karena dulu kami sering kesini, seperti biasa kalau mau makan ikan bakar kami akan kesini," jawab Ram.
"Disini makanannya sangat enak, aku pernah sekali kesini," kata Adira.
"Kok kamu gak ngajak aku?" tanya Cahaya pada Adira.
"Maaf, karena waktu itu aku tidak bersama kamu," jawab Adira.
"Terus kamu sama siapa?" tanya Cahaya.
"Sama ayah, kebetulan kami lapar terus singgah disini," jawab Adira.
Tiba-tiba ponsel Ram berdering pertanda panggilan masuk, Ram melihat nama pemanggil tertera nama Ray, Ram pun segera mengangkatnya.
"Kamu dimana?" tanya Ray to the point, tanpa embel-embel halo atau sapaan lainnya.
__ADS_1
"Aku sama Rasya lagi dirumah makan dijalan xxx," jawab Ram.
"Aku kesana sekarang," kata Ray.
"Kalau tidak punya pacar lebih baik jangan, soalnya kami ada pasangan masing-masing," ucap Ram tanpa beban.
"Ah gitu aja repot, oke aku akan bawa Nadine tidak peduli bagaimanapun caranya." kata Ray, lalu panggilan telepon pun berakhir secara sepihak.
"Kebiasaan," gerutu Ram.
"Ada apa?" tanya Rasya.
"Ray mau kesini, ngajak Nadine tidak peduli bagaimanapun caranya, begitu katanya," jawab Ram.
"Kamu sih, sok sokan suruh bawa pacar segala," kata Rasya.
"Ya itukan agak dia punya pacar, masa saudara kita yang paling tua tidak punya pacar," ucap Ram.
Ram memanggil pelayan dan meminta dua porsi lagi menu yang sama, tujuannya adalah agar nantinya bila Ray datang tidak perlu repot-repot memesan.
"Kalian beruntung ya, punya saudara banyak tapi selalu akur," kata Adira.
"Ya begitulah, apalagi yang akan diperebutkan? Harta kami semua sudah memilikinya, kasih sayang kami tidak kekurangan kasih sayang, baik dari Mommy dan Daddy Oma dan Opa mereka semua menyayangi kami," Ram.
Akhirnya pesanan mereka pun sampai, untuk Ray belum masih sedang dimasak.
"Mari makan?" ajak Ram.
"Apa kakak tidak jijik?" tanya Cahaya.
"Kenapa harus jijik, mulut sayang bukan saluran WC," jawab Ram enteng.
Orang orang yang melihat hal itu merasa iri, ada juga yang kagum dengan pasangan mereka.
"Cocok banget ya, satu tampan satunya lagi cantik," ucap si A yang tidak jauh dari meja mereka.
"Gimana anaknya nanti ya? Akan secantik dan setampan apa kalau orang tuanya begitu," kata si B.
"Kasihan kita yang jelek-jelek begini dapat pasangan jelek pula," ucap si C.
"Aku sih gak masalah kalau dapat pasangan jelek, yang penting hatinya bagus," kata si D.
"Udah deh, ngapain sih ngomongin orang, sampai berbuih mulut kalian pun kecantikan gadis itu tidak akan berjangkit pada kita," ucap si E.
Tak berapa lama datang Ray bersama Nadine dengan wajah yang ditekuk, masam seperti belimbing wuluh. Ray dan Nadine pun duduk, kemudian ikan bakar pesanan mereka untuk Ray pun sampai. Wajah Nadine seketika berbinar melihat ikan bakar dihadapannya. Tadi Nadine tidak terlalu memperhatikan saking kesalnya dengan Ray yang seenaknya saja memaksa dirinya. Entah gimana caranya Ray memaksa Nadine hingga Nadine mau mengikutinya.
"Makan sayang," kata Ray pada Nadine, tapi Nadine hanya diam saja.
"Ray, Minggu depan aku mau kenalin Aya keluarga kita," kata Ram.
"Wah benar benar kalah aku dari mereka," batin Ray.
__ADS_1
"Iya, aku juga mau kenalin Nadine ke Mommy," ucap Ray tanpa beban.
Uhhukk uhhukk.. Nadine terbatuk-batuk dengan cepat Ray mengambilkan air putih diatas meja mereka.
"Pelan pelan sayang, kan jadi tersedak," kata Ray sambil mengelus belakang Nadine.
"Kamu buat aku tersedak," ucap Nadine melototkan matanya.
"Tambah cantik aja, jadi makin gemas deh," kata Ray.
"Aku yakin kalian pasti berjodoh," ucap Adira.
Uhhukk uhhukk...kali ini Ray terbatuk-batuk, dengan cepat ia meminum air putih.
"Pelan pelan Ray makannya," kata Rasya.
Saat mereka sedang asik makan, datang beberapa orang preman menagih uang keamanan kepada pemilik rumah makan tersebut. Ram Ray Rasya Cahaya Nadine dan Adira tenang tenang saja.
"Kalian tidak takut?" tanya Ram pada Cahaya, Cahaya hanya menggeleng.
"Biar kami hadapi," kata Adira Cahaya dan Nadine secara serentak.
Ram Rasya dan Ray hanya saling pandang, mereka tidak tahu apa-apa tentang pacar mereka, hanya Ray yang tahu kalau Nadine bisa karate.
"Mana uang keamanan?" tanya preman itu.
Pemilik rumah makan tersebut pun menyerahkan uang yang ia peroleh hari ini, padahal pendapatan nya baru sedikit, karena orang yang makan masih belum bayar semua, tapi karena takut mereka pun berlarian. Hanya 3 pasangan sejoli ini yang bertahan.
Nadine Cahaya dan Adira bangkit menghampiri preman itu, Ram hendak membantu tapi ditahan oleh Ray.
"Kita lihat dulu kemampuan mereka, aku yakin mereka bisa bela diri," ucap Ray.
"Darimana kamu bisa yakin?" tanya Ram yang mengkhawatirkan Cahaya.
"Lihat cara mereka, kalau mereka tidak bisa apa-apa pasti mereka akan langsung takut," ucap Ray, Ram pun mengangguk karena apa yang dikatakan oleh Ray masuk akal.
"Kalau mereka lemah sudah pasti akan gemetar ketakutan, lihat disekitar kita semua sudah pada kabur," ucap Ray lagi.
"Baiklah, tapi nanti kalau mereka terluka gimana?" tanya Ram.
"Kalau mereka kalah baru kita bantu," kata Ray.
Akhirnya Ram, Ray dan Rasya hanya memperhatikan mereka.
"Kembalikan uang itu," kata Cahaya kepada preman itu.
.
.
.
__ADS_1