Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Terasa indah bila bersama


__ADS_3

.


.


.


Honey...!" panggil Cahaya, Ram pun semakin mempererat pelukannya.


"Hmmm, apa?" tanya Ram.


"Kalau dipikir-pikir, apa tidak terlalu kejam ya?" tanya Cahaya.


"Maksudmu apa sayang?" tanya Ram balik.


"itu...ee anu," perkataan Cahaya terpotong potong.


"Bicaralah, ada apa hmmm?" tanya Ram.


"itu tadi sebenarnya aku tidak serius untuk menyuruhmu menghancurkan perusahaan milik orang tua wanita itu, aku terbawa emosi," ucap Cahaya seperti takut takut.


"Bagaimana dengan nasib para karyawan yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali?" tanya Cahaya. Ram tersenyum.


"Sayang, semua itu sudah aku pertimbangkan sebelumnya, dan aku hanya akan memberikan efek jera saja agar kedepannya ia tidak semena-mena." jawab Ram.


"Tapi bisa dipulihkan lagi kan?" tanya Cahaya.


"Sebenarnya semua data perusahaan itu tidak hilang, hanya aku kunci saja. Dan nanti juga akan ku kembalikan kok," ucap Ram sambil mengelus rambut panjang Cahaya.


"Aku pikir honey serius membuat perusahaan itu bangkrut," kata Cahaya, Ram menggeleng.


"Tidak sayang, kecuali kesalahan orang itu sangat fatal baru tidak dikasih ampun." ucap Ram.


"Mandi yuk, mandi bareng," ajak Ram, Cahaya tidak dapat menolak.


"Tapi mandi aja ya, soalnya masih sakit," jawab Cahaya. Ram pun mengendong Cahaya ala bridal style, Cahaya pun melingkarkan tangannya dileher Ram. Akhirnya mereka pun mandi bersama.


Sementara dikamar sebelah, Ray dan Nadine baru pulang dari jalan jalan, tadi mereka juga melihat saat Ram berkelahi dengan orang suruhan Sabrina. Tapi mereka tidak ingin membantu, mereka pikir cuma cecunguk kecil yang Ram sendiri pun bisa menyelesaikannya.


"Hubby, berapa lama kita disini?" tanya Nadine, saat ini mereka sedang berada di balkon kamar hotel. Ray memeluk Nadine dari belakang.


"seminggu, kenapa? kamu bosan?" tanya Ray.


"Tidak, malahan aku senang. Apalagi saat bersamamu terasa indah," jawab Nadine. Lalu ia berbalik memeluk Ray dari depan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu hubby, selamanya. Aku harap kamu bisa menjaga hatimu hanya untukku, aku tidak rela ada orang ketiga dalam rumah tangga kita," ucap Nadine.


"Aku juga mencintaimu sayang," jawab Ray.


"Kalau anak apa kamu tidak rela juga?" tanya Ray.


"Anak bukan orang orang ketiga hubby, anak itu adalah pelengkap dalam rumah tangga kita," jawab Nadine.


"Kita buatnya sekarang yuk, sudah dua hari kita disini tapi belum ada perkembangan sama sekali," ajak Ray. Nadine tertunduk menahan malu.


Ray mengangkat dagu Nadine hingga sejajar, perlahan tapi pasti bibir mereka saling mendekat dan c*uman pun tidak bisa terelakkan. Ray m*l*m*t bibir Nadine yang kini menjadi candu nya. Nadine memejamkan matanya, perlahan Ray mengangkat tubuh Nadine tanpa melepaskan c*uman nya. Nadine seperti koala yang menempel pada pohon. Ray membawa Nadine masuk dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Nadine pasrah saja karena sudah terhanyut oleh suasana. Ray akan membawa Nadine untuk mendaki dan mengajak Nadine mencapai puncak. Nadine sudah tidak bisa lagi menahan diri, karena ajakkan Ray untuk kepuncak sangat menggiurkan.


"Pelan pelan," gumam Nadine, Ray pun mengangguk.


"Pengalaman ini pertama kali bagiku," ucap Ray.


"Aku juga," kata Nadine.


"Kamu siap?" tanya Ray, Nadine cuma mengangguk. Lalu keduanya pun melakukan pendakian.


Nafas keduanya ngos ngosan, tapi mereka tetap melanjutkan pendakian mereka, mereka tidak tidak akan berhenti sebelum mencapai puncak. Ray memimpin pendakian tersebut dan terus membawa Nadine untuk bersama sama mencapai puncak.


"Sebentar lagi sampai," ucap Ray dengan nafas ngos-ngosan, maklum saja untuk mencapai puncak diperlukan waktu hampir satu jam. keringat membasahi tubuh keduanya. Tidak berapa lama akhirnya keduanya pun mencapai puncak.


"Letih dan sakit," jawab Nadine.


"Wajarlah, nanti juga akan baik baik saja," ucap Ray. Ray kemudian berbaring disamping Nadine, tubuh mereka tertutup selimut. Ray mengusap dahi Nadine yang berkeringat.


"Mau mandi?" tanya Ray.


"Nanti saja, sepertinya aku tidak bisa bangun," jawab Nadine. Ray bangkit lalu kekamar mandi untuk mengisi air dalam bathtub, setelah dirasa cukup Ray menuangkan sabun cair aroma terapi agar keduanya bisa rileks. kemudian Ray keluar dari kamar mandi dan langsung menyingkap selimut, Nadine spontan menutup tubuhnya atas dan bawahnya dengan tangan.


"Kenapa malu hmmm, aku sudah melihatnya?" tanya Ray.


"Aku belum terbiasa," jawab Nadine, Nadine terpekik saat Ray mengangkat tubuhnya, spontan ia melingkarkan tangannya dileher Ray agar tidak terjatuh.


Dengan sangat hati-hati Ray meletakkan Nadine kedalam bathtub, kemudian Ray juga ikut masuk. Ray menggosok gosok tubuh Nadine.


"Hubby jangan gitu ah," ucap Nadine karena Ray sengaja bermain main dibagian sensitif Nadine.


"Hubby...!" tetapi Ray tidak peduli sama sekali, malah semakin menjadi jadi. Lama kelamaan Nadine pun kalah juga.


Ray dan Nadine pun melakukan pendakian untuk kedua kalinya. Kali ini cukup lama, tapi mereka tidak menyerah dan terus mendaki. Mereka tidak akan berhenti sebelum mencapai puncak. Lebih dari satu jam pendakian mereka pun sampai kepuncak.

__ADS_1


Ray merasa lega meskipun nafas keduanya tidak teratur. Kemudian Ray mengangkat tubuh Nadine memindahkannya ke shower untuk membilas tubuh mereka dari busa sabun.


"Hubby kuat banget mendakinya?" tanya Nadine.


"Masa sih, biasa biasa saja," jawab Ray.


"Aku sampai kualahan loh, hubby," kata Nadine. Ray hanya tersenyum.


"Semoga disini cepat ada dedek bayinya," ucap Ray mengusap perut Nadine. Nadine mengangguk.


Kemudian mereka pun menyudahi mandinya, keduanya pun berganti pakaian. Karena rambut Nadine basah jadi Ray mengeringkan rambut tersebut dengan hairdryer yang ada disitu.


"Bagaimana dengan wanita tadi ya?" tanya Nadine.


"Gak tau, lebih tepatnya gak mau tau," jawab Ray. Nadine mencebikkan bibirnya. Karena gemas, Ray pun mengecup bibir Nadine.


"Kita pesan makanan aja ya, aku khawatir kamu gak bisa jalan," kata Ray.


"Pesan sajalah, sepertinya aku gak kuat terasa ada yang mengganjal." ucap Nadine.


Lalu Ray menelpon pelayan hotel untuk diantarkan makanan kekamar mereka. Sementara menunggu pesanan mereka datang, Ray berbaring diatas ranjang. Ray menepuk nepuk ranjang agar Nadine berbaring juga disampingnya. Nadine menurut saja, Ray kemudian memeluk Nadine.


"Apa kamu menyesal menikah muda?" tanya Ray.


"Pertanyaan apa itu? Seharusnya sebelum kita menikah hubby bertanya seperti itu?" tanya Nadine balik, Ray cuma nyengir.


"Aku sudah tidak sabar ingin menikahimu, makanya aku nikah muda. Padahal umurku belum sampai 20 tahun." kata Ray.


"Nikah muda tidak masalah, yang penting kita menjalaninya dengan sabar. Apapun masalah dalam rumah tangga harus diselesaikan dengan cara baik baik jangan dengan emosi." ucap Nadine.


Tak lama pintu kamar mereka diketuk, Ray segera membuka pintu ternyata pelayan mengantarkan pesanan mereka.


Pelayan itu masuk dan menata makanan dimeja, setelah itu pelayan itupun pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Mau makan dulu, sayang?" tanya Ray.


"Hmmm," jawab Nadine sambil mengangguk. Lalu keduanya pun makan, mungkin mereka kelaparan setelah mendaki.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2