Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Mendekati ujian.


__ADS_3

.


.


.


Sebelum pesta pernikahan berakhir, Darmendra sekeluarga sudah sudah lebih dulu kembali ke mansion. Karena Diva juga mengkhawatirkan triple A, meskipun mereka pemberani dan bisa menjaga diri tetap saja seorang ibu merisaukan anak anaknya.


Triple A tidak menyukai pesta bahkan ulang tahunnya saja mereka tidak mau dirayakan. Benar benar unik, padahal untuk merayakan hari ulang tahun mereka lebih dari mampu meskipun tanpa bantuan orang tua mereka.


Waktu sekarang baru menunjukkan pukul 10 malam, setelah tadi sempat terjadi kericuhan tapi tidak mengurangi kemeriahan pesta pernikahan tersebut.


"Kamu sudah mengantuk, sayang?" tanya Ray pada Nadine. Nadine hanya menggeleng.


"Kenapa hmmm?" tanya Ray lagi.


"Gak apa-apa," jawab Nadine sambil menyandarkan kepalanya dipundak Ray. Ray yang sedang menyetir mobil tetap fokus kedepan.


Dibelakang mobil mereka ada mobil saudara saudaranya, dan didepan mereka ada mobil Darmendra bersama Oma Mommy dan Opanya.


"Tiba-tiba manja begini?" tanya Ray, Nadine mencebikkan bibirnya.


"Gak boleh ya sedikit manja pada kekasihnya?" tanya Nadine balik. Ray tersenyum sangat tampan. Jarang sekali dia tersenyum apalagi ketawa.


"Boleh," jawab Ray menghentikan mobilnya dipinggir jalan.


"Kenapa berhenti?" tanya Nadine.


"Nanti aku tidak fokus nyetirnya," jawab Ray enteng, lalu melepaskan seatbeltnya dan merengkuh tubuh Nadine kedalam pelukannya. Mobil saudaranya yang tadi dibelakang kini telah melaju jauh kedepan.


"Aku tidak menyangka akan jatuh cinta pada gadis tengil sepertimu," ucap Ray


"Aww," Ray menjerit seketika karena pinggangnya dicubit oleh Nadine.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu bilang aku tengil, awas ya," ancam Nadine.


"Tapi me...,Aww," sekali lagi Ray menjerit hingga ia tidak jadi meneruskan kata katanya.


"Coba bilang lagi?" ancam Nadine. Ray menggelengkan kepalanya.


Kemudian Ray mengecup bibir Nadine, Nadine hanya terdiam dia juga sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, gara gara insiden waktu itu ia juga tidak munafik kalau dia juga ingin lagi. Tapi sebagai seorang gadis tentu ia akan menjaga harga dirinya.


"Kita jalan lagi," ucap Ray, Nadine mengangguk. Mobil mereka pun kembali kejalanan.


Tidak berapa lama kemudian mereka pun tiba di mansion, dan mobil saudaranya sudah semuanya terparkir di garasi mobil. Ray dan Nadine keluar dari mobil dan masuk kedalam mansion yang memang tidak terkunci. Karena mansion keluarga Henderson dijaga ketat maka keamanannya pasti terjamin. Nadine langsung masuk kedalam kamar milik Lita, ternyata sudah ada Keyla yang sedang duduk di sofa, sedangkan Lita sudah tertidur pulas.


"Ehh, belum tidur?" tanya Nadine pada Keyla.


"Belum, baru selesai mandi tadi dan berganti pakaian." jawab Keyla.


"Aku juga mau mandi, gak enak kalau tidur badan lengket oleh keringat," ucap Nadine.


Nadine pun segera mandi, tidak butuh waktu lama ia pun sudah keluar dengan pakaian lengkap, rambutnya tidak basah karena ia tidak keramas.


Keesokan paginya...


Para gadis sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, seperti yang sudah sudah mereka selalu kompak dalam melakukan pekerjaan dan tidak perlu dikomando lagi karena mereka sudah tahu tugas mereka masing-masing. Marni terkejut melihat nona mudanya sudah berada di dapur. Padahal masih jam 5 pagi tapi mereka sudah berada di dapur dan sedang sibuk memasak.


"Ehh, nona muda," ucap Marni. mereka semua menoleh, dan kemudian datang lagi Aida dan pelayan yang lain. Mereka hanya memperhatikan nona muda mereka yang sedang masak.


"Bibik tolong kita hidangkan masakan ini ya, kami mau mandi dulu," perintah Aisyah.


"Baik non," jawab Aida. Para pelayan dengan senang hati menghidangkan masakan nona mudanya dimeja makan. Para pelayan memasak didapur khusus pelayan, itu karena kemauan mereka sendiri padahal majikan mereka tidak mempermasalahkan kalau pelayan memakai dapur utama di mansion ini. Hanya saja pelayan tidak enak hati, udah dikasih hati minta jantung. Begitulah perumpamaan mereka, sudah diberi kebaikan malah ngelunjak mereka tidak mau seperti itu.


Sikembar sudah turun dengan setelan formal mereka, karena mereka akan bekerja. Sedangkan triple A sudah rapi dengan seragam sekolah mereka, Darmendra juga sudah terlihat gagah dengan setelan jas yang ia kenakan. Diva juga hari ini akan ke perusahaan karena ada pertemuan penting dengan klien. Para gadis setelah selesai mandi mereka juga sudah berpakaian lengkap dan rapi, mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju dapur, tidak menggunakan lift. Vera dan Jordan pun sudah keluar dari kamar mereka. Pelayan yang melihat majikannya sudah dimeja makan, mereka semua pun undur diri dan akan bersarapan dimeja khusus pelayan. Majikan mereka akan sangat marah kalau salah satu dari mereka tidak bersarapan sebelum melanjutkan pekerjaan mereka. Begitu juga pengawal yang berjaga di mansion ini.


"Mommy akan kekantor?" tanya Ram.

__ADS_1


"Iya sayang, Mommy ada pertemuan dengan klien," jawab Diva. Diva sambil melayani suaminya dan triple A. Sedangkan sikembar dilayani oleh pasangan masing-masing.


Setelah selesai sarapan, mereka semua pamit dan menyalami tangan Diva dan Darmendra serta Oma Opanya juga. Setelah kepergian mereka, kini tinggallah Vera dan Jordan yang masih berdiri didepan pintu meskipun mereka sudah tidak terlihat lagi.


Triple A, kini mereka sedang sibuk karena sudah mendekati ujian nasional. Sebentar lagi mereka akan lulus dan melanjutkan ke SMA. Mereka berencana untuk langsung naik kelas 12 saja. Mudah bagi mereka untuk langsung naik kelas 12, dengan kekuasaan keluarga Henderson dan kejeniusan mereka tentu akan bisa. Seperti halnya dengan sikembar dulu. Mereka ingin melewati masa SMA hanya setahun saja. Setelah itu mereka akan berkuliah sampai S3. Itulah tekad mereka.


"Kamu yakin Lin, kalau kita bisa langsung diterima di kelas 12?" tanya Lica.


"Kenapa tidak? Kita jenius dan juga kita bisa menggunakan kekuasaan Daddy," tanya dan jawaban Lina sekaligus.


"Tidak perlu merepotkan Daddy, ia sudah lelah mengurus perusahaan jangan tambah lagi beban beliau," ucap Lita bijak.


"Itu seandainya Kalau kita tidak diterima, gak ada salahnya kita minta bantuan Daddy," jawab Lina lagi.


Agus hanya tersenyum mendengar perdebatan majikan kecilnya, sejak zaman sikembar Agus selalu merasa terhibur dengan majikan kecilnya itu.


Tidak terasa mereka sudah datang ke sekolah, tinggal beberapa menit lagi pintu gerbang akan ditutup, jadi mereka segera masuk. Agus pun kembali ke mansion.


Bel sekolah berbunyi menandakan bahwa jam pelajaran akan segera dimulai, selangkah beberapa menit, Pak Rahmat sebagai wali kelas pun masuk. Oh ya, sekolah triple A sama dengan sekolah sikembar dulu.


"Selamat pagi anak anak," ucap Pak Rahmat sambil tersenyum.


"Selamat pagi Pak," jawab siswa siswi SMP serentak.


"Sebentar lagi kita akan mengadakan ujian nasional, berarti sebentar lagi kalian akan lulus dari sekolah ini dan akan melanjutkan ke SMA." ucap Pak Rahmat.


"Dan karena hanya tinggal seminggu lagi, maka mulai besok sekolah ini diliburkan sementara waktu, kalian bisa belajar dirumah atau dimana saja, yang menurut kalian tenang. Dan hari ini kalian tidak ada mata pelajaran, dan kalian boleh istirahat atau berolahraga juga boleh," ucap Pak Rahmat lagi.


Tentu saja siswa siswi merasa sangat senang, setelah itu Pak Rahmat pun pamit. Sedangkan siswa siswi langsung berhamburan keluar. Saat triple A hendak keluar tiba-tiba... Bruugh... bola dilempar oleh seorang siswi yang terkenal sombong. Tapi bola itu ditangkap oleh Lina.


"Gue tantang kalian," ucap siswi itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2