Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Menjelang kelahiran


__ADS_3

.


.


.


Waktu berlalu begitu pantas, tidak terasa kehamilan istri sikembar sudah menginjak usia 9 bulan, hanya tinggal menghitung hari saja lagi mereka akan segera melahirkan.


"Sayang, kamu yang tidak ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi kita?" tanya Ram, saat ini mereka sedang berada didalam kamar. Ram sengaja tidak pergi keperusahaan lagi semenjak Cahaya hamil besar.


"Biar jadi kejutan honey, tapi aku berharap anak kita laki laki dan perempuan," ucap Cahaya.


"Aku gak masalah kok sayang, anak laki laki atau perempuan sama saja bagiku," jawab Ram.


"Ehh..." Ram terkejut saat ada tendangan dari perut Cahaya.


"Sayang mereka gerak gerak," ucap Ram dengan riang.


"Mungkin mereka ingin mengajak ayahnya bermain," ucap Cahaya.


"Ayah..?" tanya Ram.


"Hmmm... kenapa?" tanya balik Cahaya.


"Kenapa ayah? Bukan Papa atau Daddy?" tanya Ram balik.


"Karena aku ingin mereka memanggil kita ayah dan bunda, apa honey keberatan?" tanya Cahaya. Ram tersenyum lalu menggeleng.


"Apapun panggilannya, tujuannya juga sama," jawab Ram.


Ram mengelus elus perut Cahaya yang terlihat sangat besar. Calon bayinya pun anteng saja saat Ram mengelus perut bundanya.


"Adek bayi yang pintar ya, nanti biar menjadi anak jenius seperti ayah," ucap Ram didekat perut Cahaya. kemudian Ram menciumnya.


"Iya ayah, dedek kan anak ayah jadi akan ikut gen ayah," jawab Cahaya menirukan suara anak kecil. lalu keduanya pun tertawa.


"Sekarang aku mengerti mengapa kamu membeli banyak daster waktu itu," ucap Ram sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang, karena posisi Cahaya sedang berbaring membelakangi Ram.


"Iya ayah, bunda hanya untuk persiapan saja," kata Cahaya.


Soal pakaian dan perlengkapan bayi mereka tidak perlu repot-repot, Diva dan Vera yang paling antusias berbelanja untuk keperluan mereka, sejak hamil 7 bulan Diva sudah mempersiapkan semuanya. Meskipun belum tau jenis kelaminnya apa? Tapi Diva dan Vera sudah mempersiapkan pakaian bayi laki-laki dan perempuan.


Dikamar Rakha...


"Sayang, apa tidak berat dengan perut sebesar itu?" tanya Rakha.


"Ya jelaslah sayang, apa sayang tidak lihat sewaktu Mommy hamil triple A?" tanya Keyla.


"Lihat, Mommy seperti sangat kesulitan. Makanya Daddy selalu siaga melayani Mommy, aku juga ingin seperti itu sayang selalu siap siaga melayanimu," ucap Rakha.

__ADS_1


"Sayang, dedek pengen dielus," ucap Keyla merengek, memang sejak ia hamil mode manjanya keluar. Rakha bukannya marah malah ia senang. Rakha mengelus perut Keyla dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Sayang, apakah sudah menyiapkan nama untuk anak anak kita?" tanya Keyla.


"Hmmm, sudah. Untuk laki-laki dan perempuan. Siapa tau anak kita nanti berpasangan?" Rakha sudah membayangkan bagaimana rasanya punya anak?.


"Apa perlu kita kerumah sakit untuk mengetahui jenis kelaminnya?" tanya Rakha, Keyla menggeleng.


"Kami bertujuh sudah sepakat tidak ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi kami. Karena itu akan menjadi kejutan nantinya," jawab Keyla.


"Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat mereka, seperti apa ya? Apakah mirip Papanya atau mirip Mamanya?" tanya Rakha.


"Kalau mirip Papanya bagaimana? Dan kalau mirip Mamanya juga bagaimana?" tanya Keyla.


"Gak gimana gimana sih, mau mirip Papanya atau Mama juga gak ada salahnya," jawab Rakha. Rakha mencium perut Keyla, dan seketika ada gerakan membuat Rakha tertawa, karena begitu jelas menonjol dibeberapa bagian.


"Apa tidak sakit sayang?" tanya Rakha.


"Kadang ada rasa nyerinya juga, mungkin karena aku belum terbiasa," jawab Keyla.


"Sayang, setelah ini kamu jangan hamil lagi ya..!" pinta Rakha.


"Kenapa sayang?" tanya Keyla.


"Gak apa-apa, kurasa empat anak akan cukup. Aku tidak mau kamu kerepotan nantinya," jawab Rakha.


"Bagaimana kalau Tuhan masih mempercayai kita untuk memiliki anak lagi?" tanya Keyla.


"Terserah kepada Tuhan saja," jawab Keyla. Rakha kembali mengelus elus perut Keyla.


"Sayang, aku mengantuk," ucap Keyla.


"Tidurlah sayang, biar aku jaga kamu disini," kata Rakha.


Sementara Roy dan Danita, mereka saat ini sedang mandi bersama, Roy sebisa mungkin menahan diri untuk melakukan hubungan suami istri, karena takut membahayakan calon bayinya.


"Sayang, aku pengen," ucap Danita. Roy menatap wajah Danita dalam.


"Kenapa? Gak mau?" tanya Danita.


"Bukan sayang, aku cuma takut membahayakan calon bayi kita.


"Tapi dedeknya kangen sama Papanya," ucap Danita. Roy teringat kata dokter bahwa trimester ketiga sangat dianjurkan untuk begituan, Roy pun tidak menyia nyiakan kesempatan ini dan melakukannya dengan pelan pelan. Setelah lebih 30 menit mereka pun menyudahinya.


"Apa tidak sakit sayang?" tanya Roy, Danita menggeleng. Akhirnya keduanya pun menyelesaikan mandinya.


Roy dengan telaten mengeringkan tubuh Danita, kemudian memakaikan pakaian untuk istrinya. Baru setelah itu giliran Roy yang berpakaian. Roy mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambut panjang istrinya yang basah.


"Hey kenapa menangis hmmm?" tanya Roy saat melihat Danita mengusap air matanya.

__ADS_1


"Aku terharu sekaligus bahagia memiliki suami sepertimu, kuharap akan terus seperti ini selamanya," ucap Danita.


"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuatmu nyaman dan bahagia bersamaku dan anak anak kita nantinya." ucap Roy, lalu memeluk istrinya dari belakang. Roy mengelus perut istrinya dari balik pakaiannya.


"Pas lahiran nanti, apakah mau lahiran normal atau Caesar?" tanya Roy.


"Normal aja, doakan saja aku semoga bisa melewati ini semua. Aku ingin merasakan menjadi ibu seutuhnya dengan cara melahirkan normal," jawab Danita. Roy tersenyum mendengarnya, hatinya selalu bergetar bila berdekatan dengan sang istri.


"Aku benar benar sudah terjerat cinta olehmu," ucap Roy.


"Sudah mau punya anak masih saja gombal," ucap Danita.


"Cuma sama istriku kok, apa salahnya?" tanya Roy.


"Kamu semakin cantik," ucap Roy lagi.


"Tuh kan, semakin banyak gombalannya," jawab Danita, tapi tidak dipungkiri kalau ia suka mendengarnya.


"Kamu pengen anak berapa?" tanya Roy.


"Yang ini aja belum lahir, sudah bertanya mau anak berapa?" tanya Danita balik. Roy tertawa, ia senang sekali menjahili istrinya.


Roy berjalan kearah kulkas yang ada didalam kamar mereka, Roy mengeluarkan cemilan untuknya dan buah buahan untuk istrinya.


Dengan hati hati Roy mengupas buah pear dan buah apel, lalu memotongnya untuk ukuran sekali kunyah.


"Dimakan sayang," ucap Roy sambil menyodorkan piring berisi buah. Sedangkan Roy memakan keripik kentang.


"Sayang aku mau makan bakso beranak," ucap Danita.


"Sebentar aku beli dulu," jawab Roy.


"Tapi aku mau makan ditempat, tidak dibawa pulang," ucap Danita.


"Baiklah, sekarang kita pergi. Mumpung ini masih sore," ucap Roy.


Kemudian Roy menggandeng Danita keluar dari kamar menuju lift. sampai dibawah triple A berlari menghampiri Danita dan memeluknya.


"Kakak mau kemana?" tanya Lina dengan manja.


"Mau beli bakso beranak," jawab Danita.


"Ikut...!" kata mereka serentak.


Danita menoleh kesuaminya seperti meminta persetujuan, walau apapun ia harus meminta persetujuan dari suaminya dulu. Dan Roy pun mengangguk.


"Hoooreee...!" ucap triple A dengan riang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2