Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Acara syukuran.


__ADS_3

.


.


.


Karena sudah tiba didepan pintu gerbang mansion, mereka mengakhiri perlombaan mereka. Hanya selisih sedikit dari ketiganya tetap saja Lina yang menang. Toh mereka berdua tidak perlu khawatir kalau harus kalah, mereka sudah tau kalau Lina tidak akan tega melihat adik adiknya kelaparan karena tidak ada uang jajan. Sebenarnya mereka mempunyai uang yang banyak dari hasil pekerjaan mereka membuat aplikasi untuk dijual ke perusahaan perusahaan yang membutuhkan jasa mereka, yaitu anti virus sebuah perangkat lunak dan lainnya.


Dan hal itu tidak diketahui oleh Diva dan Darmendra, tapi ketujuh Abangnya tidak bisa untuk ditipu. Tapi Abang Abangnya selalu mendukung selama mereka tidak menyalah gunakan kemampuan mereka.


"Ye aku menang, belum ada yang bisa ngalahin aku," teriak Lina dengan sombongnya.


"Cih, segitu aja bangga. Paling berapa ratus ribu saja uang jajan kami," ucap Lita sambil mencebikkan bibirnya. karena tinggal sedikit lagi ia akan menang, tapi ternyata masih kalah cepat dengan Lina.


"Ya sudah, kalau tidak ikhlas ngasih uang jajan juga gak apa-apa, toh aku juga tidak merasa dirugikan," ucap Lina enteng.


"Keduanya bertos karena uang jajan mereka tidak jadi diambil oleh Lina.


"Terimakasih kakakku yang paling cantik," puji keduanya serentak.


"Kalau ada maunya ya gitu deh, mujinya gak ketulungan," ucap Lina. Tidak berapa lama kemudian pintu gerbang pun terbuka, mereka masuk dan kembali menaiki skuter. karena jarang pintu gerbang depan mansion lumayan jauh. kalau jalan kaki memakan waktu sekitar 10 menit.


"Kok sepi?" tanya Lina saat mereka tiba didepan pintu mansion.


"Kemana semua orang?" tanya Lina lagi, kedua saudaranya hanya mengedikan bahu sebagai jawaban.


Mereka pun masuk, ternyata semua orang ada ditaman belakang sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk persiapan acara syukuran nanti malam.


Para pengawal ada yang ditugaskan untuk menjemput anak anak panti asuhan dari beberapa panti. mereka hanya mengundang anak anak panti serta sanak keluarga terdekat mereka. Termasuk sahabat Diva dan Darmendra.

__ADS_1


"Bik, kemana semua orang?" tanya Lica pada Marni yang kebetulan mengambil sesuatu didapur.


"Oh semuanya berada ditaman belakang," jawab Marni kemudian berlalu meninggalkan triple A yang masih dibuat bingung.


"Ada apa ya?" tanya Lita, Lina dan Lica hanya menggeleng.


"Daripada penasaran mending kita kebelakang," ajak Lica. mereka pun pergi ketaman belakang. Dan benar saja mereka semua ada disana. Termasuk keluarga kakak iparnya juga.


"Ada acara apa Mom?" tanya Lina saat ia mendekati Diva.


"Acara syukuran untuk kakak ipar kalian, sebagai ungkapan rasa syukur bahwa mereka sudah hamil," jawab Diva.


"Oh, ada yang perlu kita bantu Mom?" tanya Lica.


"Gak ada, semuanya sudah selesai hanya tinggal menunggu acaranya saja," jawab Diva. Semua makanan dan minuman mereka memesan melalui katering. Jadi tidak terlalu repot lagi.


"Kalau begitu kami mau kekamar ya Mom, mau mandi dulu," ucap Lina.


Ketiganya pun berlari kecil menuju lift. Mereka menggunakan lift untuk keatas tempat kamar mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Semua orang sudah berkumpul ditaman belakang yang sudah disulap menjadi tempat acara Syukuran. Setiap sudut dihiasi dengan berbagai macam pernak-pernik seperti lampu hias berwarna warni dan bunga hidup juga ditata rapi.


"Selamat datang semuanya, terimakasih karena telah hadir diacara malam hari ini acara syukuran untuk anak dan menantu saya, karena saat ini mereka semua sedang hamil," ucap Darmendra yang saat ini sedang berdiri disamping istrinya.


Sahabat Diva dan sahabat Darmendra sangat terkejut sekaligus senang. mereka juga akan bergelar nenek dan kakek nantinya. meskipun hanya cucu dari sahabatnya.


"Kompak banget sih kalian?" tanya Anisa menggoda Ram.


"Iya aunty sudah rezeki Dari Nya," jawab Ram enteng. Senyum dari bibirnya tidak pernah lekang saking bahagianya.

__ADS_1


Sementara Ethan, Felix dan Gibran menghampiri triple A yang sedang menyiapkan hadiah untuk para tamu nantinya. Karena mereka menawarkan diri untuk membagi bagikan buah tangan tersebut.


Acara doa bersama pun digelar, anak anak panti begitu senang. Dengan lantunan suara yang merdu mereka melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan doa untuk keselamatan calon bayi mereka.


Selesai membaca ayat ayat suci dan berdoa. Anak anak panti pun dipersilahkan untuk makan. begitu juga tamu yang lain. meskipun tidak mengundang orang luar dan hanya mengundang kerabat dekat dan anak anak panti, tapi yang hadir lumayan ramai juga.


"Terimakasih banyak karena sudah mengundang kami diacara ini," ucap beberapa ibu panti yang hadir. Darmendra dan Diva mengundang 5 buah panti asuhan, dan semua panti tersebut donatur tetap nya adalah Darmendra. Darmendra tidak masalah menghabiskan uang banyak untuk menjadi donatur. Namun yang ajaibnya meskipun begitu kekayaan yang dimilikinya malah semakin bertambah dari waktu ke waktu. Semakin banyak ia mengeluarkan uang maka uang itu seperti kembali lagi kepadanya. Bahkan perusahaan yang dikelola olehnya semakin maju.


Untuk acara ini saja, sikembar tidak segan segan mengeluarkan uang miliaran hanya untuk dibagikan kepada anak anak panti, serta untuk sumbangan kepada 5 panti tersebut. Meskipun begitu mereka tetap rendah hati. Jiwa penolong sudah melekat dalam diri mereka masing-masing. Dan mereka berharap anak anak mereka kelak bisa menjadi orang yang rendah hati dan peduli terhadap sesama.


Pukul 10 malam acara pun selesai. anak anak panti pun berbaris menunggu buah tangan dari keluarga terpandang tapi sangat dermawan.


"Berbaris yang rapi ya, biasakan hidup tertib dalam segala hal," ucap Lina kepada anak anak panti yang berjumlah ratusan orang tersebut.


"Barisan dibagi 6 biar lebih cepat," ucap Lita. karena Ethan, Felix dan Gibran juga menawarkan diri untuk membantu. Keluarga yang lain hanya duduk memperhatikan mereka. Diam diam Anisa dan Adefa mengusap air matanya. Dan itu terlihat oleh Diva. karena mereka duduk berdampingan dengan Diva. Sementara Aryana juga sudah dari tadi menahan airmata karena tidak ingin menangis melihat anaknya. Mereka sangat terharu dengan perubahan sikap anaknya itu.


"Ajarkan anak anak tentang kebaikan, sedari mereka kecil agar lebih mudah mengaturnya. kalau sudah besar baru diajarkan bisa bisa mereka akan menjadi pembangkang," ucap Diva sambil memeluk Anisa. Diva berada ditengah tengah antara Anisa dan Adefa, jadi Diva merubah posisi agar bisa merangkul keduanya.


"Aku terlalu menganggap remeh dalam mendidik anak, dan telah melalaikan nya," ucap Anisa.


"Masih belum terlambat kok, didik anak dari sekarang. Cara menghormati orang tua cara berbagi dan berbuat kebaikan." ucap Diva.


"Kamu benar benar hebat Div, bisa mendidik anak dengan baik, bukan cuma satu tetapi 10 orang, sedangkan aku cuma 1 orang anak saja sudah lalai," jawab Anisa.


"Sudahlah, mulai sekarang ajarkan kebaikan kepada mereka." ucap Diva. Anisa dan Adefa pun mengangguk. Aryana pun mendekat kearah mereka dan bergabung. Tidak dapat ditahan lagi iapun menangis sambil memeluk Diva dan menceritakan uneg-uneg nya karena telah gagal mendidik anak dengan baik.


"Kalian tidak gagal, hanya saja kalian kurang peka terhadap perkembangan mereka," ucap Diva.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2