Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Berniat Menggoda


__ADS_3

.


.


.


"Apakah benar saya kurang menarik tuan Ren?" tanya wanita itu.


Wanita itu mendekati Ren. Dan berniat untuk menggoda, tapi Ren malah menghindar.


"Jangan munafik tuan, tidak ada laki laki yang bisa menolak pesonaku," ucap wanita itu. Wanita yang bernama Tanisha itu semakin mendekat, hingga bruuk...Ren menendang tulang kering Tanisha hingga terjerembab kelantai.


"Pergi sebelum aku membunuh kalian," ucap Ren dingin.


Wanita itu berjalan pincang, selain kakinya keseleo, heels nya patah dan lututnya berdarah. Robby yang melihat putrinya tersungkur langsung membantu.


Dengan tatapan penuh amarah, Robby segera pergi membawa putrinya tapi sebelum itu ia sempat mengancam Ren.


"Kamu akan terima pembalasanku tuan Ren," ucap ancaman Robby, tapi Ren tidak bergeming sama sekali, ancaman itu hanya dianggap sebagai angin lalu.


"Sakit Pa, mungkin kakiku keseleo," ucap Tanisha sambil meringis. Tapi Robby tetap menggotong putrinya.


"Aku akan balas perbuatannya," ucap Robby penuh dendam.


Kini Robby dan putrinya sudah tiba di lobby perusahaan, para karyawan menatap heran pada keduanya. Tapi mereka tidak berani bersuara apalagi untuk bertanya. mereka hanya memperhatikan saja. Sampai diparkiran mobil, kedua anak dan ayah itupun masuk kedalam mobil dan segera pergi dari perusahaan milik Ren.


"Saya tidak terima di perlakukan seperti itu Pa," kata Tanisha.


"Tenang, kita akan balas dendam kepada bocah itu," ucap Robby. Tanisha dan Robby kini pergi kerumah sakit untuk mengobati luka di kaki Tanisha.


Sedangkan Ren kembali keruangan nya, ia sama sekali tidak takut akan ancaman pria paruh baya itu. Ren membuka laptopnya, tangannya mengetik keyboard laptop dengan cepat. Entah apa yang ia ketik hingga setelah itu ia tersenyum devil.


Sementara Robby yang baru tiba dirumah sakit, saat ia ingin melakukan transaksi dibagian administrasi tapi kartunya tidak bisa ia gunakan, tidak berapa lama asistennya menelpon.


"Ya halo," sapa Robby.

__ADS_1


"Tuan, perusahaan kita bangkrut," ucap asistennya itu terbata bata.


"APA?" teriak Robby.


"Benar tuan, perusahaan kita bangkrut, data perusahaan kita dibobol," ucap asistennya lagi. Robby terduduk lemas dilantai rumah sakit.


"Aaakh," Robby berteriak hingga orang yang ada disana terkejut. Robby kemudian diusir dari rumah sakit karena menggangu ketenangan orang lain dan juga ia tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Hanya dalam hitungan menit Robby sudah jatuh miskin.


"Pa kenapa kita diusir dari rumah sakit?" tanya Tanisha.


"Karena kita sudah jatuh miskin," jawab Robby.


"Apa? Tidak mungkin, saya tidak mau hidup miskin," teriak Tanisha tidak terima.


Bukan tanpa alasan Ren membuat mereka jatuh miskin, karena kesombongan mereka jugalah yang membuat Ren tidak suka, dari awal Ren memang tidak begitu suka untuk bekerjasama dengan perusahaan Robby, tapi karena desakan Robby yang kekeh ingin meminta kerjasama ini akhirnya Ren memberi peluang. Seperti yang sudah Ren duga ternyata benar kalau Robby ingin menggunakan putrinya dan berniat menggoda Ren.


Sedangkan Ren sedang duduk dikursi kebesarannya, ia tersenyum puas.


"Jangan main main denganku," gumam Ren. Ren bisa lebih kejam pada orang yang telah mengusiknya tidak peduli seorang wanita sekalipun. Baginya orang seperti itu jangan dikasih kesempatan apalagi dengan terang terangan punya niat menggoda.


Ren segera keluar dari ruangannya, diluar ia berpapasan dengan Adam yang terlihat heran melihat tuan mudanya tergesa gesa. Adam ingin bertanya tapi Ren sudah lebih dulu masuk kedalam lift.


"Ada apa ya? Kenapa tuan muda nampak tergesa gesa?" batin Adam.


Sampai di lobby perusahaan, karyawannya juga heran melihat bos mereka seperti itu, karena tidak biasanya bos mereka terburu buru. Mereka hanya menduga duga kalau sudah terjadi sesuatu.


Ren masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan pelan karena masih diarea perusahaan, saat sudah keluar dari gerbang Ren mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Apa istri tuan muda mau melahirkan? Kenapa tuan muda terlihat terburu buru?" tanya si A salah satu satpam yang berjaga di gerbang itu.


"Hus, kalau ngomong mulutnya dijaga, mana ada tuan muda punya istri? Menikah aja belum," jawab si B satpam yang lain yang juga menjaga gerbang.


Ren bisa saja membuat pintu gerbang otomatis, tapi ia berpikir orang lain juga butuh pekerjaan apalagi kedua satpam tersebut dari orang yang kurang mampu, Ren seringkali memberikan mereka bonus, semua itu hanya untuk meringankan perekonomian keluarga mereka. Akhirnya keluarga mereka tercukupi kebutuhannya.


"Ya siapa tau tuan muda menikah diam-diam? dan tidak mau dipublikasikan," tanya si A lagi.

__ADS_1


Ren sudah tiba didepan kampus tempat Aisyah menimba ilmu, Aisyah masih berada didalam, tapi Ren dengan sabar menunggu. Melihat ada mobil mewah terparkir, Callista menghampiri mobil itu, hidungnya yang tadi ditonjok oleh Aruna dan Aisyah masih terlihat memerah. Callista berniat menggoda Ren ia ingin balas dendam pada Aisyah. Ren keluar dari mobil dan melihat seorang wanita datang lenggak-lenggok berjalan seperti seorang model, Ren yang moodnya tadi buruk sekarang bertambah buruk. Aisyah melihat dari kejauhan, ia ingin tahu reaksi Ren seperti apa? Aisyah terlihat tenang tenang saja.


"Hai, gue Callista," sapa Callista memperkenalkan diri, tapi Ren tidak bergeming. Arbi yang juga melihat hal itu langsung mengeluarkan ponselnya dan merekamnya, nanti ia akan memperlihatkan video itu kepada Aisyah dan meyakinkan Aisyah bahwa cowok yang bersama Aisyah bukan cowok baik baik.


"Mau apa?" tanya Ren dingin.


"Mobilnya bagus, boleh antar gue pulang gak?" tanya Callista dengan gaya centilnya. Ren yang sudah sangat geram pun mencoba menjauh, tapi tiba-tiba Callista memeluk Ren dari belakang. Arbi yang merekam aksi tersebut tersenyum senang, tapi baru beberapa detik Callista sudah tersungkur ke aspal, dan lebih parahnya lagi Ren dengan tanpa hati menginjak kaki Callista dengan sepatu mahal milik Ren. Aisyah tersenyum melihat itu, sedangkan Arbi berubah masam.


"Aakh," Callista menjerit kesakitan, gimana tidak sakit sudah dibanting terus diinjak lagi.


"S*al, kenapa hari ini gue apes banget," batin Callista.


Aisyah keluar dan berpura pura tidak tahu apa yang terjadi? Seperti biasa senyumannya membuat mood Ren yang tadi memburuk seketika membaik. Seperti matahari pagi yang tidak tertutup awan sama sekali.


"Sudah lama menunggu?" tanya Aisyah ketika sudah didekat Ren.


"Belum lama, tapi terasa sangat lama karena ada hama," ucap Ren.


Aisyah tersenyum, "basmi aja dengan racun serangga."


"Iya, sayang benar," kata Ren.


Aruna datang menghampiri mereka, dan menempelkan dagunya dipundak Aisyah.


"Hai, ada lagi gak cowok yang tampan buat aku? Soalnya aku jomblo gara gara Ais sering nonjok orang," ucap Aruna to the point.


Aisyah dan Ren tertawa, mahasiswi menjerit melihat Ren tertawa begitu tampan.


"Bagaimana kalau aku perkenalkan dengan asisten pribadiku, dia tampan dan pekerja keras, sama sepertimu jomblo," kata Ren.


"Benarkah?" tanya Aruna.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2