
.
Maaf baru sempat nulis....aku nya.
.
.
.
Sore harinya semua sudah berkumpul diruang keluarga, segala persiapan sudah disiapkan oleh pelayan. Bahkan liburan kali ini pelayan juga diajak. Robert sekeluarga, Rivaldo sekeluarga, Jhon Tiger sekeluarga dan tidak lupa para kekasih sikembar dan keluarganya pun diajak.
Sikembar menjemput pasangan mereka masing-masing beserta keluarganya (ayah dan ibu). Sedangkan Darmendra sudah bersiap berangkat bersama keluarganya, dan pelayan bersama Agus juga tidak ketinggalan.
Pengawal tidak boleh ikut karena harus menjaga mansion. Hari Minggu ini benar benar mereka manfaatkan untuk berkumpul bareng keluarga.
Semua sudah siap?" tanya Darmendra.
"Sudah," jawab triple A.
Kini mereka semua pun berangkat, Oma dan Opa satu mobil dengan Darmendra, sedangkan pelayan satu mobil dengan Agus.
Sahabat Diva berangkat dari rumah mereka masing-masing.
Ren sudah tiba didepan rumah Aisyah, sebelumnya mereka sudah Ren beritahu melalui telepon. Kedua orang tua Aisyah begitu antusias, jarang jarang ada orang yang baik seperti ini mengajak liburan padahal bukan siapa siapa?.
Semua itu adalah usulan dari Diva, karena menurutnya kapan lagi bisa berkumpul seperti ini?.
"Ayah ibu sudah siap?" tanya Ren.
"Sudah nak Ren, terimakasih sudah mengajak kami liburan," kata Sofian.
"Sama sama yah, kalau begitu silahkan masuk kemobil, dan barang barang yang akan dibawa simpan dibelakang." ucap Ren.
Waktu masih panjang untuk melihat matahari terbenam nanti, tapi mereka sengaja datang lebih awal agar dapat bersantai nanti. Sekarang Ren dan Aisyah serta keluarganya dalam perjalanan menuju pantai, Aruna diberitahu oleh Aisyah bahwa mereka akan kepantai hari ini, sedangkan Adam diberitahu oleh Ren bahwa mereka akan liburan. Mendengar hal itu Adam bergegas menjemput Aruna, Harun dan Alena juga tidak mau ketinggalan, mendengar keluarga besar Henderson mengajak semuanya liburan mereka menjadi antusias. Dengan membawa perlengkapan masing-masing untuk mereka barbeque ditepi pantai.
"Ah leganya," ucap Lina sambil merentangkan kedua tangannya saat mereka tiba ditepi pantai. Hal yang sama juga dilakukan oleh Lita dan Lica. Kompak banget tuh anak.
Darmendra menurunkan barang barang bawaan mereka, dibantu oleh Diva, Agus dan juga pelayan.
Keluarga Sudibyo juga baru sampai, disusul keluarga Robert, keluarga Jhon, dan keluarga Rivaldo.
"Mau bikin tenda tidak?" tanya Aldo pada Darmendra.
"Kalian bawa tenda?" tanya Darmendra balik.
"Bawa, buat persiapan aja," jawab Aldo.
__ADS_1
"Kalau begitu kita pasang tendanya dulu," ucap Darmendra.
Akhirnya mereka pun memasang tenda, benar benar piknik mereka bawa tenda segala. Kemudian datang lagi Ren bersama Aisyah juga ayah dan ibunya. Lalu datang juga Ram bersama Cahaya dan juga ibunya.
Akhirnya semuanya sudah datang hingga tempat ini seperti pasar malam nantinya. Ray membantu Sudibyo memasang tenda.
"Masih ada yang belum datang," teriak Ren. Mereka semua bertanya tanya dalam hati, siapa lagi yang belum datang? Tidak berapa lama datang Adam dan Aruna serta Papa dan Mamanya.
"Sudah kumpul semua?" teriak Darmendra sambil melihat sekeliling.
"Kemungkinan sudah," jawab Diva.
Triple A sudah berlari lari sambil bermain air bersama anak Robert, anak Jhon dan anak Aldo.
Anak Robert bernama Ethan, anak Jhon bernama Felix, sedangkan anak Aldo bernama Gibran. Mereka lebih muda dari triple A. mereka hidup rukun sudah seperti saudara.
Karena keasikan bermain triple A berlari semakin menjauh dan berpisah dari ketiga bocah lelaki. Triple A tidak menyadari itu, malah mereka terus saja berlari.
"Dimana kakak kalian?" tanya Diva pada tiga bocah itu.
"Disa... ehh kok gak ada," kata Felix.
"Tadi dibelakang kami," kata Ethan.
"Tadi mereka lari kearah sana," ucap Gibran sambil menunjuk pesisir pantai.
"Hubby, tiga Angel hilang," ucap Diva membuat Darmendra cemas bukan main. Acara memasang tenda pun kacau, mereka para lelaki berpencar mencari. Ada yang tinggal untuk melanjutkan memasang tenda tersebut.
"Kalian tunggu disini, jangan ikut." ucap Ram pada Cahaya.
"Tapi kami juga ingin membantu mencari," kata Cahaya yang diangguki oleh yang lain.
"Biar kami saja yang mencari, selebihnya lanjutkan memasang tenda, hanya tinggal sedikit lagi," perintah Ray.
Diva dan Darmendra sudah lebih dulu menyusuri pesisir pantai, yang lain juga mencari dibeberapa tempat. Sedangkan yang mereka cari malah asik santai dibawah pohon kelapa sambil meminum air kelapa muda yang baru mereka beli.
"Kita sudah terlalu jauh dari mereka," kata Lica.
"Gak apa-apa, mereka juga masih pada sibuk," kata Lina.
"Aku merasa ada yang tidak beres disini," kata Lita.
"Aku juga merasakannya, tapi kita pura pura tidak tahu saja," jawab Lina.
Mereka masih asik menikmati air kelapa muda. Tanpa menghiraukan ada beberapa orang yang sedang mendekat. Tapi mereka cuek saja seolah tidak tahu apa-apa.
"Hahaha, sedang apa kalian adek manis?" tanya orang itu, ketiganya menoleh ternyata ada 10 orang pria brewok dan berbadan besar.
__ADS_1
"Mau apa kalian? Ganggu aja," tanya Lina yang masih asik meminum air kelapa muda.
Kesepuluh orang tersebut melongo tidak percaya kalau ada anak kecil yang tidak takut dengan mereka.
"Kalian sepertinya orang kaya, kalau kalian kami culik pasti banyak dapat uang, tiga orang 300 juta." ucap salah satu dari mereka.
"Terlalu sedikit paman, kurang kurang 3 M lah. Paman anggap kami ini apa ha? Masa cuma 300 juta," tanya Lica dengan beraninya.
"Nih anak benar benar tidak takut sama kita bos," ucap si A.
"Kita culik aja bos, kemudian kita minta tebusan seperti yang anak itu sebutkan," ucap si B.
"Kalian mau culik kami? Gak salah?" tanya Lita.
"Wah semakin ngelunjak ya kalian," kata bos.
"Tangkap saja mereka," titah bos lagi.
"Eits, tunggu dulu kita belum selesai minum. Sayang kalau mau dibuang," kata Lina. Mereka masih santai meminum air kelapa muda tersebut. Kemudian ketiganya bangkit dari duduknya dan menghadap kearah penculik itu, dan...
Buugh.... buugh... buugh. Tiga buah kelapa melayang ke kepala tiga orang dari mereka.
"Aduh.."
"Aww..."
"Aakh... ucap mereka serentak. Dahi ketiganya benjol akibat terkena buah kelapa tersebut.
"B*go, kenapa tidak mengelak?" tanya bos.
"Gak sempet bos, buah itu datang terlalu cepat," jawab si G yang terkena lemparan buah kelapa tadi.
"Kuat juga lemparan anak ini," batin si D yang juga terkena buah kelapa.
Bos penculik itu maju hendak menangkap Lica, tapi Lica terlihat tenang tenang saja, bos itu semakin bersemangat, bos penculik itu berhasil menangkap tubuh Lica dan mengangkatnya. Tapi....
Bruuk, satu tendangan tepat disel*ngk*ng bos penculik itu, hingga dengan cepat ia melepaskan Lica.
"Aakh, sa..kit se..kali." ucap bos penculik itu terputus putus menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Bos...!" teriak mereka serentak. Kemudian bos itu terbaring diatas pasir.
.
.
.
__ADS_1