
.
.
.
"Sayang...!" panggil Ram pelan.
"Aku mau mandi sayang, tolong bukain resleting gaunku," pinta Cahaya.
"Dengan senang hati Sayang," jawab Ram.
Ram membuka resleting gaun milik Cahaya. Sebisa mungkin Ram menahan diri karena melihat punggung mulus milik istrinya itu, Ram tidak ingin terburu-buru. Karena ia akan melakukan malam pertamanya nanti saat berbulan madu. Setelah resleting terbuka, Cahaya buru buru masuk kembali kedalam kamar mandi.
"Sabar juniorku," ucap Ram sambil mengelus adek kecilnya itu. Kemudian Ram merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Setelah beberapa menit, Cahaya keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Cahaya tersenyum manis kearah suaminya sekaligus cinta pertamanya itu.
"Honey, mau mandi gak?" tanya Cahaya sambil mengelus pipi suaminya.
"Iya, aku mau mandi sayang," jawab Ram. Kemudian Ram bangkit dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Tidak berapa lama ia keluar dengan handuk melilit tubuhnya sebatas pinggang.
Cahaya melihat itu hanya tersipu malu. Biar bagaimanapun dia seorang yang normal pasti tertarik dengan lawan jenis.
"Kenapa gak pakai baju honey?" tanya Cahaya.
"Aku lupa bawa baju ganti, ya jadi gini deh." jawab Ram santai. Kemudian Ram langsung berbaring diatas ranjang dan memeluk Cahaya.
"Honey, kenapa gak pakai baju? Nanti dingin loh," tanya Cahaya.
"Jangan khawatir ada kamu yang jadi selimutku," jawab Ram. Cahaya tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya membiarkan saja sikap Ram seperti itu.
Cahaya sudah mendengar cerita dari Mommy Diva, kalau diantara mereka bertujuh Ram adalah anak yang paling manja tapi juga paling peduli dengan sesama. Sedikit sebanyak Cahaya tau bagaimana nanti mengimbangi sikap suaminya yang sewaktu waktu bisa bertingkah manja. Dan satu lagi Ram adalah yang paling cerewet yang paling banyak bicara.
"Kita tidur ya? Sudah hampir pagi, besok siang kita akan berangkat ke Dubai dengan pesawat pribadi milik Roy." kata Ram.
"Apa honey tidak ingin meminta hak sebagai suami?" tanya Cahaya.
"Nanti saat kita berbulan madu, kita akan mencetak Ramendra junior atau Cahaya junior," ucap Ram membuat Cahaya tersipu.
"Sudahlah, kita tidur saja dulu hmmm," kata Ram lagi. Cahaya pun mengangguk. Mereka pun tertidur sambil berpelukan.
Pagi hari...
Semua keluarga sudah berkumpul di restoran hotel tersebut, mereka akan bersarapan dulu sebelum kembali kekediaman masing-masing. Diva memperhatikan semua menantunya masih berjalan normal dan Diva tau kalau putranya belum melakukan malam pertama.
"Kapan kalian berangkat?" tanya Diva.
__ADS_1
"Siang ini Mom, aku sudah memberitahu Paman Agus untuk mengantarkan keperluan kami ke bandara." jawab Ram.
"Div, beruntung banget ya kamu sekali nya dapat menantu langsung tujuh," kata Adefa. Diva tersenyum.
"Itulah faedahnya punya anak kembar, selain itu mereka juga mandiri. Siapa yang tidak akan bangga coba?" tanya Aryana.
"Jadi pengen punya anak kembar," Anisa menyela.
"Ehhem, kode keras itu bro," goda Darmendra.
"Nanti pulang dari sini kita bikin adek buat Gibran," kata Aldo.
"Udah tua," jawab Anisa.
"Tapi tetap cantik kok," ucap Aldo. Sedangkan Gibran hanya diam saja, ia tidak mau punya adik.
Entahlah author sendiri juga tidak tahu masalah nya sampai Gibran maunya jadi anak tunggal.
Pesanan mereka sampai, hari ini semua libur karena hari Minggu. Dan mulai besok triple A sudah masuk sekolah. Yang pastinya akan diantar oleh Daddy mereka untuk mendaftar ulang. Karena sebelumnya mereka hanya mendaftarkan diri lewat online.
Mereka sarapan dengan penuh kedamaian, seperti keluarga besar. Bahkan Akira dan istrinya juga ikut gabung dengan mereka. Sebelum mengenal keluarga Henderson, istri Akira sangat tertutup dan jarang bergaul. Tapi setelah mengenal mereka semua, perubahan besar terjadi pada istri Akira yang membuat Akira semakin mengagumi keluarga tersebut.
Setelah selesai sarapan, mereka pun pulang kekediaman masing-masing, hanya sikembar dan istrinya yang kembali masuk kedalam kamar.
Raffa menggendong Prita untuk memasuki kamar mereka, Prita hanya pasrah saja malah ia bergelayut melingkarkan tangannya dileher Raffa.
"Mmm... boleh gak?" tanya Prita.
"Apa?" tanya Raffa balik.
Prita mendekatkan bibirnya ke bibir Raffa, tentu Raffa dengan senang hati menyambutnya. Akhirnya mereka pun berc*uman. Cukup lama juga, sehingga keduanya sedikit kualahan karena menahan nafas.
"Apa kamu menginginkannya, sayang?" tanya Raffa. Prita menggeleng.
"Tapi tadi kamu yang c*um aku duluan?" tanya Raffa lagi.
"Gak boleh ya menc*um suami sendiri?" tanya balik Prita.
"Boleh, boleh banget malah," jawab Raffa.
"Sayang, aku belum pernah bepergian jauh, apalagi naik pesawat," kata Prita. Raffa tersenyum tampan.
"Gak apa-apa, ada aku yang selalu ada disisimu, baik suka maupun duka," ucap Raffa penuh dramatis.
"Aku bahagia sayang, bisa menemukan orang baik sepertimu, dan bonus tampan serta kaya," kata Prita sambil mengelus dada suaminya. Raffa menahan tangan Prita agar tidak terus mengelus dadanya. Karena itu bisa membangunkan adik kecilnya.
"Kenapa?" tanya Prita yang memang tidak tahu kelemahan Raffa.
__ADS_1
"Kau bisa membangunkan nya, sayang," bisik Raffa. Prita menatap kebawah dan benar saja ada tonjolan dibawah sana.
"Pffff..." Prita menahan tawa. Sedangkan Raffa sudah gelisah.
"Apa sampai segitunya?" tanya Prita yang memang polos dalam urusan begituan. Raffa mengangguk.
"Itu kelemahan ku sayang," bisik Raffa.
Ponsel milik Raffa berdering, Raffa segera kenakas untuk mengambil ponselnya dan segera mengangkatnya.
"Ya ada apa?" tanya Raffa, ternyata yang menelpon adalah Ray.
"Kamu kenapa? Suaramu seperti menahan sesuatu?" bukannya menjawab Ray malah balik bertanya.
"To the point aja kenapa sih?" tanya Raffa lagi.
"Satu jam lagi kita berangkat kalau mau ikut, kalau tidak mau ya gak apa-apa," jawab Ray.
"oke oke, sekarang juga aku siap siap." kata Raffa lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Sayang bersiaplah, satu jam lagi kita ke bandara," perintah Raffa.
Sementara Adira juga sedang bersiap siap, tapi kegiatannya terganggu karena ada tangan yang melingkar di pinggangnya dari arah belakang. Adira tersenyum ia sudah tau siapa pelakunya?
"Hubby, aku mau siap siap dulu." kata Adira.
"Sebentar Sayang, aku ingin memelukmu." ucap Rasya.
"Nanti setelah kita sampai di hotel Dubai aku akan memberikan semuanya untukmu," ucap Adira. Rasya tersenyum senang.
"Pantas saja Daddy selalu lengket sama Mommy, ternyata begini rasanya," batin Rasya. Tapi tidak melepaskan pelukannya pada Adira.
"Sayang kamu mau punya anak berapa?" tanya Rasya.
"Anak itu anugerah terindah dari Tuhan, selama Allah mempercayai kita maka aku akan selalu siap mengandung benihmu," kata Adira.
"Benarkah?" tanya Rasya, dan Adira mengangguk.
Satu jam terlewat begitu saja, sehingga kini mereka harus berangkat ke bandara. Tanpa menunggu lama mobil jemputan mereka sudah tiba di hotel tempat mereka menginap.
Satu jam perjalanan menuju bandara terasa begitu singkat. Hingga mereka sudah tiba di bandara. Keluarga mereka tidak ada yang mengantar, karena tadi sewaktu di hotel mereka sudah berpamitan.
.
.
.
__ADS_1