Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Dinner romantis ala Ray


__ADS_3

.


.


.


Disepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, Ray hanya sesekali menoleh kearah Nadine, karena ia sedang menyetir mobil dan tidak ingin lepas kendali karena terus memandangi wajah cantik Nadine.


"Cantik," gumam Ray.


"Hah, kamu bilang apa?" tanya Nadine, karena gumaman Ray tidak terlalu jelas.


"Gak ada, aku tidak bilang apa-apa," jawab Ray.


Ray melajukan mobilnya karena sebentar lagi matahari akan terbenam, mereka takut tidak sempat melihat sunset itu.


Akhirnya mereka pun tiba ditepi pantai tersebut, Nadine melihat sekeliling, dan Ray pun memarkirkan mobilnya. Ray turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk Nadine.


"Mari silahkan," kata Ray sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Nadine.


Ray menggandeng tangan Nadine dan menggiringnya untuk duduk ditempat yang sudah disediakan, sebuah meja dan kursi untuk mereka makan malam, keduanya melihat sunset dari tempat duduk mereka. Setelah matahari terbenam lilin yang mengelilingi meja tempat mereka hidup Nadine begitu takjub dengan makan malam kali ini



kira kira seperti inilah persediaan Ray untuk makan malam mereka.


Ray menatap wajah Nadine yang sangat cantik, sedangkan Nadine yang ditatap seperti itu merasa malu hingga iapun tertunduk.


"Nadine, aku bukanlah pria yang romantis, dan semua ini adalah ide dari saudaraku. Sebentar ya kamu tunggu disini," ucap Ray.


Kemudian Ray berlari kearah mobil dan mengeluarkan gitar dari bagasi mobilnya. Kemudian Ray kembali lagi ke Nadine sambil membawa gitar. Ray berdiri menghadap kearah Nadine.


"Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu, meskipun suaraku tidak sebagus Raffa saudaraku, tapi aku akan tetap bernyanyi untukmu," ucap Ray.


Ray mulai memetik gitarnya, karena bermain gitar adalah keahlian Ray dalam bermain musik. Ray pun memulai bernyanyi.


'Kau begitu sempurna'


'Dimataku kau begitu indah'


'Kau membuat diriku ingin slalu memujamu'


'Disetiap langkahku'


'Kukan slalu memikirkan dirimu'


'Tak bisaku bayangkan hidupku tanpa cintamu'


'Janganlah kau tinggalkan diriku'


'Takkan mampu menghadapi semua'


'Hanya bersamamu ku akan bisa'


'Kau adalah darahku'

__ADS_1


'Kau adalah jantungku'


'Kau adalah hidupku'


'Lengkapi hidupku oh sayang kau begitu'


'Sempurna,,, sempurna'


Nadine tersenyum mendengar suara Ray yang ternyata sangat merdu, tidak kalah dengan suara Raffa.


"Aku tidak tahu ternyata kamu juga bisa nyanyi," ucap Nadine.


"Terimakasih, semua itu demi kamu, hmmm Nadine...! Aku...!" Ray merasa lidahnya kelu untuk berbicara. Nadine menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Ray.


"Katakan lah," ucap Nadine.


"hmmm, apa jawaban kamu bila aku katakan aku mencintaimu?" tanya Ray memberanikan diri. Nadine terdiam melihat keseriusan dan ketulusan hati Ray.


"Apakah kamu sedang bertanya kepadaku?" tanya Nadine balik.


"Ya anggap saja seperti itu, aku tidak tahu sejak kapan hati ini mencintaimu, dan aku ingin kamu menjawabnya, kalau iya jawab iya kalau tidak jawab tidak. Bila kamu menjawabnya tidak maka aku akan berhenti mengejarmu," ucap Ray.


"Aku sebenarnya juga punya perasaan yang sama denganmu, tapi karena aku seorang gadis, tidak mungkin aku yang mengejar-ngejar kamu,' jawab Nadine.


"Itu berarti kamu menerimaku?" tanya Ray.


"Iya aku menerimamu karena tidak ada alasan untuk aku menolakmu,' jawab Nadine.


Kemudian hidangan yang sudah dipesan pun datang, beberapa orang pelayan membawa makanan untuk mereka, tidak lupa juga minuman berupa jus buah tentunya.


Mendengar Ram akan melamar Cahaya, Ray sebagai anak tertua juga tidak mau kalah, maka ia juga akan melamar Nadine. Soal menikah biar nanti nanti, yang penting ia sudah mengikat Nadine dengan cincin berlian.


Ray mengeluarkan kotak berwarna merah dari dalam saku jasnya, dan membukanya didepan Nadine.



Kira kira seperti ini lah cincin berlian.


"Maukah kau menikah denganku, menjadi pendamping hidupku, menjadi istri dan ibu dari anak-anakku?" tanya Ray.


Nadine merasa terharu dengan cara Ray melamar dirinya, kemudian Nadine pun mengangguk.


"Ya aku mau," jawab Nadine. Ray pun memasangkan cincin dijari manis Nadine.


Ray bangkit dari duduknya, dan membawa Nadine untuk berdiri kemudian Ray memeluk Nadine, lalu Ray men*ium bibir Nadine. Ray Melu*m*t nya pelan. Dan Nadine pun membalasnya.


"Aku sangat bahagia sayang, karena kamu telah menerima aku," ucap Ray.


"Ya, aku juga Ray, aku tidak tahu sejak kapan aku mencintaimu, walaupun pertemuan kita secara tidak sengaja dan sering berdebat, tapi aku yakin itu adalah takdir kita," ucap Nadine, Ray pun mengangguk.


"Mari kita makan, sebelum terlalu malam," ajak Ray sambil menuntun Nadine untuk duduk dikursi.


Lalu keduanya pun makan malam dengan tenang, Ray menyuapi Nadine dan begitu juga sebaliknya. Oh so sweet banget mereka.


"Besok kita makan malam di mansion, aku akan memperkenalkan kamu ke orang tuaku," ucap Ray.

__ADS_1


"Tapi aku malu Ray, aku harus bagaimana menghadapi orang tuamu?" tanya Nadine.


"Bersikaplah seperti biasa, tidak perlu cari muka karena mukamu sudah cantik tidak perlu dicari lagi," goda Ray.


"Kamu bisa aja, aku serius nih," kata Nadine.


"Iya, aku juga serius, Mommy ku orangnya bersahabat. Dan tidak membeda-bedakan anak anaknya, kasih sayangnya tulus. Dan lagi Mommy ku suka kesederhanaan apalagi dalam segi pakaian," kata Ray.


"Jadi aku harus berpakaian seperti apa?" tanya Nadine yang takut salah kostum.


"Apa aja yang penting sopan, tidak mengumbar a*rat. jawab Ray santai.


"Jadilah diri sendiri jangan meniru gaya orang lain," ucap Ray lagi.


"Hmmm, baiklah. Karena aku sudah menerimamu berarti aku harus siap bertemu keluargamu," ucap Nadine. Ray tersenyum sangat tampan.


Akhirnya makan malam pun selesai, Ray menggenggam tangan Nadine dan mengecupnya.


"Aku sudah membuat rumah untuk kita nanti," ucap Ray.


"Secepat itu? Bagaimana kalau kita tidak jadi...?" pertanyaan Nadine terhenti karena jadi Ray sudah menempel dibibir Nadine.


"Jangan katakan itu, aku tidak sanggup mendengarnya. Apapun yang terjadi kita akan tetap bersama selamanya sampai kita menutup mata." kata Ray.


"Secinta itukah kamu padaku?" tanya Ray.


"Hmmm, cintaku tidak bisa diukur dengan apapun, aku ingin kita menua bersama sampai ajal menjemput kita," ucap Ray.


( Aduh bang Ray, kenapa mulutnya sekarang bisa semanis gula kapas).


"Ya aku juga berharap begitu, aku tidak ingin ada orang ketiga diantara kita," kata Ray.


"Bagaimana dengan mantanmu itu?" tanya Ray.


"Aku tidak punya mantan, sayang. Dia aja yang ngejar ngejar aku tapi selalu ku tolak," ucap Nadine.


"Tapi dia begitu kekeh untuk mendapatkanmu, aku yakin dia pasti menggunakan segala cara," kata Ray.


"Kita bisa hadapi sama sama, apa gunanya aku punya kekasih bila tidak bisa melindungi aku," ucap Nadine.


Seketika Ray tertawa, dan membuat Nadine heran.


"Sudah sudah sebaiknya kita pulang, masalah Devan itu hanya masalah kecil." ucap Ray.


"Jangan meremehkan orang lain, kita tidak tahu seperti apa dia?" tanya Nadine.


"Iya aku tau, kamu jangan khawatir ya," kata Ray.


Akhirnya mereka pun masuk kedalam mobil dan akan segera pulang, karena sudah terlalu malam.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2