
.
.
.
Braak... meja digebrak membuat orang yang ada disitu terkejut, tapi tidak bagi dua pasangan tersebut, mereka santai santai saja, hanya Prita yang terlihat takut, tapi Raffa dengan cepat menenangkan dirinya.
"Heh, ternyata kamu selingkuh dari Nadine, Nadine menolak aku hanya demi cowok brengs*k sepertimu," bentak Devan.
Ya tadi Devan tidak sengaja melihat Ren bersama Aisyah dilampu merah, karena penasaran Devan pun mengikutinya.
"Kamu siapa?" tanya Ren santai, ia merasa tidak mengenal pria didepannya.
"Jangan pura pura tidak kenal, kamu sudah merebut Nadine dariku, sekarang kamu sama cewek lain," kata Devan penuh emosi.
Setelah menyadari bahwa pria didepannya ini salah orang membuat mereka tertawa, Prita yang tadinya takut pun ikut tertawa.
Devan belum menyadari kalau wajah Raffa dan Ren sama persis, karena ia hanya fokus pada Ren saja. Ren kemudian menelepon Ray.
"Halo Ray, bisa datang kemari gak? Bawa Nadine sekalian," tanya Ren melalui telepon.
"Ada apa?" tanya Ray.
"Udah datang saja kerumah makan xxxx bawa Nadine ya," jawab Ren.
"Katakan dulu ada apa?" tanya Ray lagi.
"Ada orang g*la korban patah hati, cepat kemari," kata Ren.
"Hmmm, baiklah." kata Ray akhirnya.
"Duduk dulu mas, kita bincang dengan kepala dingin," ucap Ren.
Tapi Devan yang sok jago mencengkram dasi Ren. Ren masih bersabar dan membiarkan Devan melakukannya walaupun lehernya sedikit tercekik.
"Sabar mas, sebentar lagi kamu akan tahu semuanya," ucap Ren.
Sementara Ray sudah dalam perjalanan, dan kini ia sedang bersama Nadine, Ray tidak lupa memberitahukan pada saudaranya yang lain, alhasil saudara saudaranya semua ikut ketempat tersebut.
__ADS_1
Ren melepaskan tangan Devan yang mencekik lehernya. Merasa kalah Devan menyuruh orang untuk menghabisi Ren. Datanglah sepuluh orang preman dengan berkendara sepeda motor.
"Ada apa bos," tanya salah satu preman tersebut yang terlihat sangar sudah bisa ditebak kalau itu adalah ketua preman.
"Hajar orang itu, bila perlu habisi nyawanya," perintah Devan.
"Siap bos," jawab ketua preman itu.
Ren bangkit dari duduknya, dan bersiap untuk melawan, sementara Raffa masih tetap santai. Tidak berapa lama Ray datang bersama Nadine, disusul oleh Ram bersama Cahaya, dan Rakha, Rasya dan Roy juga datang bersama pasangan masing-masing.
"Ada apa Ren?" tanya mereka serentak.
Devan menoleh kearah suara ternyata ada 5 orang berwajah sama dan disampingnya ada pasangan masing-masing.
"Ini ada orang g*la korban patah hati, sebaiknya segera dibasmi," jawab Ren santai.
Devan kebingungan melihat orang yang berwajah sama itu, sikembar pun berdiri berjejer berhadapan dengan Devan.
"Jadi apa mau mu?" tanya Ray dingin, sedangkan para cewek cewek sudah duduk dikursi yang disediakan.
"Ka ka kalian kembar!" tanya Devan gugup.
"S*al ternyata aku salah orang," gumam Devan.
Preman tadi yang berjumlah 10 orang juga tertegun, mereka belum pernah melihat anak kembar tujuh jadi mereka pun takjub.
"Kalian tunggu apalagi? hajar...!" perintah Devan.
Cahaya hendak bangkit untuk membantu tapi dengan cepat ditahan oleh Nadine. Nadine menggelengkan kepalanya pertanda jangan ikut campur, begitulah arti gelengan Nadine. Cahaya kembali duduk dan dengan santainya memesan makanan, sedangkan orang yang sedang makan sudah berlarian karena takut terkena imbasnya oleh keributan ini.
"Ayo tunggu apalagi? Cepat hajar...!" teriak Devan.
Kesepuluh preman tersebut maju, dengan badan mereka yang besar tidak membuat sikembar takut.
Buugh, satu pukulan mendarat sempurna diperut preman itu, hingga preman itu melototkan matanya menahan rasa sakit, Ram dengan santai memegang wajah preman itu setelah ia meninju perut preman itu.
"Aakh," jerit tertahan dari preman itu menahan rasa sakit yang luar biasa, ia sering berkelahi tapi belum pernah merasakan pukulan sekuat ini.
Kemudian Ram menendang tulang kering pria itu, hingga preman itu semakin menjerit kesakitan, dan sekali lagi Ram menendang dada preman itu hingga preman itu terpental menabrak meja yang ada disitu.
__ADS_1
Pemilik rumah makan tersebut sudah sangat ketakutan, kemudian para gadis menghampiri pemilik rumah makan tersebut dan berusaha menenangkannya. Pemilik rumah makan itu tentu saja mengenal preman tersebut, karena mereka juga sering membuat kekacauan didaerah sini. Kebetulan Devan menyewa mereka, jadi mereka tidak menyia nyiakan kesempatan.
Ray maju dan melewati preman tersebut untuk menghampiri Devan sipembuat onar. Tanpa aba-aba Ray langsung menghajar Devan. Devan yang memang tidak jago beladiri hanya bisa pasrah dijadikan samsak tinju oleh Ray. Hingga Devan terkapar tidak sadarkan diri. Sementara preman itu dihajar oleh saudara Ray, mereka juga tidak kasih ampun setelah mengetahui dari kekasih mereka bahwa preman itu sering malak ditempat ini. Sembilan preman itu bersujud meminta ampun, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi sikembar yang sudah emosi dengan preman tersebut mereka tidak menghiraukan jeritan dan permohonan ampun mereka. Akhirnya semua preman tersebut sudah terkapar tidak sadarkan diri, Ren menelpon polisi untuk datang menangkap preman itu serta Devan untuk memberi efek jera.
Kurang lebih setengah jam polisi pun datang ketempat kejadian, polisi menggotong tubuh mereka membawa nya kedalam mobil.
"Terimakasih atas kerjasamanya tuan muda, preman ini memang sering meresahkan warga," ucap polisi itu dengan sopan.
"Biarkan mereka dipenjara Pak, dan jangan beri jaminan apapun," kata Ren tegas.
"Baik tuan muda," jawab polisi itu.
Lalu mereka pun pamit undur diri karena masih banyak tugas mereka. Sedangkan Devan juga dibawa ke kantor polisi dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Para gadis pun menghampiri pasangan mereka kembali.
"Terimakasih Nak, semoga tempat ini akan aman dari gangguan mereka." ucap pemilik rumah makan tersebut.
"Sama sama Bu, tempat ini akan kami ganti kerugiannya Bu, kursi meja yang rusak serta peralatan lainnya." ucap Ram.
"Tidak usah Nak, itu juga tidak seberapa," ucap wanita itu.
Meskipun wanita itu menolak, tapi Ram tetap mengganti kerusakan tersebut. Karena mereka sudah ada disini jadi sekalian aja mereka makan, Ren, Raffa yang tadi sudah makan malah memesan makanan lagi.
"Gimana ceritanya sampai sicurut itu menganggap aku adalah kamu?" tanya Ren.
"Biasa, cinta tak sampai," jawab Ray santai.
"Aku tidak bisa bayangkan saat cowok itu sadar tau tau sudah dalam sel tahanan," kata Ram sambil tertawa.
"Dia itu selalu ngejar ngejar Nadine bahkan sejak dulu tapi selalu ditolak oleh Nadine, dia merasa dirinya diremehkan, kenapa Nadine menolaknya sedangkan wanita lain berebut untuk menjadi kekasihnya," ucap Ray panjang lebar. Keenam saudaranya melongo mendengar Ray bicara panjang lebar seperti itu.
Ya sejak bersama Nadine Ray sering bicara panjang lebar, entahlah biasanya bicara hanya seperlunya saja.
Makanan yang mereka pesan pun akhirnya sampai, mereka pun makan siang meski sudah terlewat. Raffa dan Prita yang katanya tadi ingin pulang cepat pun mengurungkan niatnya.
.
.
__ADS_1
.