Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Triple A.


__ADS_3

.


.


.


Raffa ingin menemui ayah dari Prita, tapi ayah Prita belum pulang dari bekerja. Padahal Raffa sudah sering memberi mereka uang bulanan, juga biaya sekolah adik Prita.


"Kalau begitu aku pulang aja deh, gak enak sama tetangga. Nanti dikira ngapa ngapain lagi," ucap Raffa.


"Iya deh, aku juga gak enak karena kita belum ada ikatan yang sah," balas Prita.


Raffa pun pamit pulang, sementara para tetangga masih memperhatikan mereka. Raffa masuk kedalam mobil miliknya, lalu melambaikan tangan sebelum ia mulai menjalankan mobilnya. Raffa menghela nafas setelah itu barulah ia mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Prita kembali kerumahnya setelah mengantarkan Raffa kemobil. para tetangga pun juga mulai masuk.


Lebih kurang 45 menit Raffa pun tiba di mansion, ia memarkirkan mobilnya di garasi mobil.


"Tumben awal pulang?" tanya Diva.


"Iya Mom, pekerjaan sudah selesai." jawab Raffa sambil berbaring dipangkuan Mommy nya.


"Ada apa Hmmm?" tanya Diva lagi sambil mengelus rambut putranya.


"Gak apa-apa, sudah lama tidak berbaring seperti ini," jawab Raffa.


Sewaktu kecil biasanya Ram yang suka bermanja-manja dengan Mommy nya, yang lain sudah pada malu karena merasa sudah besar.


"Ceritakan kalau ada masalah," ucap Diva.


"Aku ingin merenovasi rumah Prita, Mom. Agar lebih layak untuk ditinggali," ucap Raffa. Diva tersenyum.


"Lakukanlah yang menurutmu baik, Mommy akan selalu mendukung selama kejalan kebaikan," kata Diva.


"Dan lagi, bicarakan dengan saudara saudaramu, biar nanti Mommy yang bicara sama Daddy. Walau bagaimanapun kalian tidak boleh membelakangi Daddy." ucap Diva lagi.


Diva paling tau, kalau anaknya ada sesuatu yang ingin disampaikan, atau lagi ada masalah. Maka Diva lah tempat mereka mengadu.


"Terimakasih Mom, adek belum pulang Mom?" tanya Raffa.


"Belum," jawab Diva singkat.


"Aku mandi dulu ya Mom, gerah habis dari luar," ucap Raffa lalu bangkit dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Kok Raffa sudah pulang?" tanya Vera yang baru keluar dari kamar.


"Katanya pekerjaan tidak terlalu banyak, jadi cepat selesai." jawab Diva. Diva sekarang sudah jarang pergi keperusahaan, ia lebih sering dirumah saja. Sedangkan perusahaannya ia percayakan kepada asisten pribadinya. Diva hanya datang sekali sekali saja, itupun kalau ada urusan penting. Jordan juga keluar dari kamar dan duduk disamping istrinya. Meskipun sudah berumur tapi mereka tetap terlihat sangat mesra.


Raffa masuk kedalam kamar mandi, dan melepas pakaian, Raffa mengisi air dalam bathtub dan memberinya sabun cair. Raffa pun berendam didalam bathtub. Tangannya ia rentangkan kesisi kiri dan kanan, perlahan ia memejamkan matanya. Raffa berendam lebih kurang 30 menit, kemudian ia membilas tubuhnya di shower.


Raffa masuk keruang ganti dan berganti pakaian santai. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di ranjang.


.


Sementara di sekolah triple A, mereka baru selesai belajar. Dan akan segera pulang, sambil menunggu Agus sang sopir, triple A duduk dikursi taman sekolah.


"Sebentar lagi kita akan ujian," ucap Lica.


"Gak terasa, kita sudah mau SMA," kata Lita.


"Aku rasa otak kita tidak normal," ucap Lina.


Kedua saudaranya menoleh, "gak normal?" tanya keduanya serentak.


"Iya, mana ada anak kecil masuk SMA?" tanya Lina.


"Ada yang mencurigakan," kata Lica tiba-tiba.


Mereka menoleh kearah mobil hitam yang sejak tadi terparkir, dan didalamnya ada beberapa orang berpakaian hitam pula.


"Mari kita dekati," ucap Lita.


"Jangan dulu, kita lihat dulu gerak gerik mereka, mereka tidak sendirian ada lagi beberapa orang didalam," ucap Lina.


Beruntung mereka sangat peka akan situasi berbahaya.


"Lebih baik kita mendekat, agar senang nanti bertindak," kata Lica.


Mereka pun bangkit dari duduknya, dan berjalan kearah mobil tersebut. Mereka masih berada di jarak aman agar tidak dicurigai. Dan benar saja, salah satu dari mereka keluar saat ada seorang anak laki-laki sekitar umur 13 tahun. Dan diperkirakan baru kelas 7.


Dengan cepat pria itu membekap mulut anak itu agar tidak berteriak, dan kemudian menyeretnya kearah mobil. Melihat hal itu triple A segera berlari dan dengan gerakan cepat Lina menendang pria itu dari samping, hingga pria itu terjatuh, dan anak itu juga ikut terjatuh. Lica menghampiri anak itu dan menolongnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lica, anak itu menggeleng. Ia tidak bisa berkata karena masih syok.


Sedangkan pria itu meringis menahan sakit karena terjerembab diaspal. Yang lain pun keluar karena melihat teman mereka terlempar.

__ADS_1


"Ternyata kalian komplotan penculik anak anak?" tanya Lina.


"Apa urusanmu bocah kecil?" tanya salah satu dari mereka. Diam diam Lica menghubungi polisi.


"Kami tidak akan ikut campur kalau kalian tidak menculik," ucap Lita.


"Banyak bac*t kalian," ucap pria itu yang tadi ditendang oleh Lina.


"Punya nyawa berapa kalian? Tanya salah satu dari mereka. mereka berjumlah empat orang.


"Hajar saja bos, lalu kita jual organ tubuhnya," ucap si A.


"Hmmm, bagus juga. Tidak dapat yang tadi sekarang mereka gantinya," ucap bos manggut-manggut.


"Tangkap...!" perintahnya. Tiga orang maju, triple A sudah siap untuk bertarung. Dengan percaya diri mereka hendak menangkap triple A.


Lina menatap tajam kearah mereka, dan dengan gerakan cepat Lina berhasil menendang perut pria itu. Pria itu mundur beberapa langkah dan memegang perutnya yang terasa sesak.


"S*al, ternyata tendangannya kuat sekali," batin pria itu.


Lita pun tidak mau kalah, ia memutar tubuhnya dan kakinya terangkat, Lita menggunakan tendangan tipuan untuk mengelabui musuh, sekali lagi ia memutar tubuhnya dan tendangan tepat mendarat dikepala pria itu, lebih tepatnya telinga pria itu. Pria itu terlempar beberapa meter.


Meskipun tubuh triple A kecil, tapi untuk mengalahkan musuhnya mereka punya strategi. Sekarang giliran Lica, ia bersalto dan menendang tepat didada pria itu, hingga pria itu terbatuk-batuk. Dan mundur beberapa langkah dari tempat ia berdiri.


"Kalian memang tidak bec*s, melawan anak kecil saja tidak bisa," kata bos kepada anak buahnya.


Bos itu maju dan mengerang Lina, bos itu menendang kearah Lina, tapi dengan gesitnya Lina menghindar hingga tendangan itu hanya mengenai angin. Bos itu geram dan sekali lagi menendang, tapi hasilnya tetap sama.


"S*al," umpat bos itu. Lina masih santai santai saja.


Tiga dari mereka yang tadi tumbang kini bangkit kembali, dan hendak menyerang mereka kembali. Tapi Lita dan Lica sudah lebih dulu menghajarnya.


Pertarungan mereka disaksikan banyak orang karena masih dikawasan sekolah. Para siswa siswi yang tadinya ingin pulang mereka urungkan karena ingin melihat triple A mengalahkan penjahat tersebut. Ketiga penjahat itu sudah terkapar, tinggal satu orang lagi.


Lina melawan bos penjahat itu sendirian, kedua saudaranya hanya menjadi penonton. Karena mereka sudah berhasil mengalahkan tiga orang tersebut.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2