
.
.
.
"Kenapa sekarang suamiku jadi cengeng, hmmm?" tanya Keyla pada Rakha. Rakha tidak bisa berkata apa-apa, memang ia akui akhir akhir ini ia mudah sekali baper.
"Kenapa diam? Ditanya ya dijawab?" tanya Keyla lagi, tetapi Rakha hanya menggeleng kepala saja.
Tidak berapa lama masuk Diana bersama Sudibyo, karena mereka baru sempat mengunjungi Keyla. Rakha berpindah ke sofa bersama Sudibyo yang juga ke sofa.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Diana.
"Baik ma, Alhamdulillah berkat punya suami yang selalu siaga," jawab Keyla sambil melirik suaminya. Sedangkan Rakha hanya tersenyum saja, tidak ada yang tahu kalau saat ini hatinya sudah dipenuhi bunga bunga bermekaran.
"Oh ya, sudah di beri nama belum?" tanya Diana.
"Belum ma," jawab Keyla.
"Loh kapan lagi sih baru diberi nama?" bukan Diana yang bertanya tapi Diva, Diva dan Darmendra baru datang kerumah sakit. merasa sudah cukup segar setelah istirahat beberapa jam kemudian mereka pun kerumah sakit. sedangkan Vera dan Jordan menemui Prita dan Raffa.
"Sayang, kenapa belum diberi nama?" tanya Diva pada Rakha. Rakha cuma garuk-garuk kepala, saking bahagianya sampai lupa untuk memberikan nama pada anak mereka.
Diva juga sudah memberitahu sahabatnya kalau ia sudah punya cucu, sahabatnya cukup terkejut mendengar Diva punya cucu 17 orang sekaligus. Dan sahabatnya hanya mampu berkata Luar biasa.
"Hmmm, sebenarnya namanya sudah disiapkan Mom, cuma kelupaan untuk memberikan mereka nama," jawab Rakha.
"Beri mereka nama sekarang, agar senang pihak rumah sakit untuk mengurus akta kelahiran mereka," kata Diana.
"Baik ma," jawab Rakha.
"Hmmm, nama yang pertama yang lahir lebih dulu adalah Kenzo Fero Henderson. Yang kedua karena laki laki, jadi namanya Kenzie Ferry Henderson. Yang ketiga perempuan ku beri nama Qirani Cantika Henderson dan Quenni Cintya Henderson." kata Rakha.
Mereka semua merasa senang, mendengar nama nama bayi mungil tersebut.
Setelah cukup lama, Diva pun pamit untuk mengunjungi yang lain.
"Hubby luar biasa," ucap Diva saat mereka keluar dari kamar anaknya.
"Apa nya?" tanya Darmendra, sambil menoleh kearah Diva.
"Ya sekali proses dapat anak tujuh, sekalinya dapat cucu 17 sekaligus, gimana gak luar biasa coba," ucap Diva. Darmendra hanya bisa tertawa. Diva dan Darmendra kini masuk kedalam ruangan Raffa dan Prita. Terlihat orang tua Prita sedang berada didalam ruangan tersebut, sedangkan Raffa berada didalam kamar mandi.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya Diva dan berjalan mendekati Prita, Darmendra menghampiri ayah Prita yang duduk di sofa. Sedangkan ibu Prita bergeser tempat duduknya untuk memberikan ruang kepada Diva.
"Baik Mom," jawab Prita.
Nama nama bayi pasangan masing-masing.
__ADS_1
1 pasangan Ray ♥️ Nadine, Davion, Danendra dan Davina.
2 pasangan Ren ♥️ Aisyah, Abqari dan Viora.
3 pasangan Rakha ♥️ Keyla, Kenzo, Kenzie, Qirani dan Quenni.
4 pasangan Rasya ♥️ Adira, Aksa Delvin dan Nayara.
5 pasangan Raffa ♥️ Prita, Kayden dan Kayvira.
6 pasangan Roy ♥️ Danita, Rayyan dan Rayna.
7 pasangan Ram ♥️ Cahaya, Aldebaran dan Aleta Quenbi Elvina.
Diva mengelus pundak Prita dengan sayang, tidak berapa lama Raffa pun keluar dari kamar mandi, karena sejak semalam ia belum mandi. Tadi Raffa sempat membeli pakaian untuk ganti, bukan untuk dia saja tapi untuk istrinya juga.
"Kalian sudah makan sayang?" tanya Diva.
"Sudah Mom," jawab Prita. Hari sudah siang ketika ini, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.
Sementara triple A baru keluar dari sekolah mereka, ternyata Ethan, Felix dan Gibran sedang duduk anteng didepan gerbang sekolah mereka.
"Hadeh, dimana mana selalu ada kalian," ucap Lina ketus. Sedangkan mereka hanya nyengir saja.
"Kan mau pulang bareng," kata Felix.
"Kami mau langsung kerumah sakit, dan tidak pulang ke mansion," jawab Lica.
"Kakak ipar sudah melahirkan semalam, dan kami mau menjenguknya," jawab Lita.
"Ikut....!" teriak suara dari arah belakang mereka, semua pun menoleh. Siapa lagi kalau bukan Johan, Ansel Rino dan Gibson pelakunya?.
"Haah, sepertinya kita bakal diikuti terus deh," ucap Lina sambil menghela nafas panjang.
"Yuk jalan, ini sudah terlalu siang," ajak Lica.
Johan, Ansel, Rino dan Gibson menaiki motor mereka masing-masing, sedangkan triple A Ethan, Felix dan Gibran memakai skuter.
"Boleh gak kita makan dulu? soalnya aku belum makan siang," tanya Ethan takut takut.
"Hmmm," jawab Lina.
"Apa? Kok jawabnya cuma hmmm," tanya Ethan lagi.
"Iya, bawel," jawab Lina.
"Kita makan dikantin rumah sakit aja gimana?" tanya Lica.
"Kalau sudah dirumah sakit nanti lupa makan," jawab Ethan.
__ADS_1
"Gak akan," kata Lina tegas.
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan dikantin rumah sakit.
Johan, Ansel, Rino dan Gibson masih mengekor dibelakang, mereka bermotor pun dengan kecepatan sedang.
Tidak berapa lama mereka pun datang kerumah sakit, Johan, Ansel, Rino dan Gibson memarkirkan motornya, sedangkan triple A, Ethan, Felix dan Gibran langsung melipat skuter milik mereka dan menyimpannya. Mereka pergi kekantin terlebih dahulu untuk makan. Jujur sebenarnya Lina juga lapar. Tadi mereka makan dikantin sekolah hanya jam istirahat saja.
"Pesan gih," perintah Lina. Ethan mau memesan makanan tapi dicegah oleh Johan.
"Biar aku saja," kata Johan. Johan pun memesan makanan untuk mereka semua. Tidak perlu menunggu lama pesanan mereka pun tiba. Mereka pun makan dengan cepat, mungkin karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keponakan kecil mereka.
Setelah selesai makan dan membayarnya, mereka pun pergi keruang perawatan kakak iparnya. Sebelumnya triple A sudah diberi tahu oleh Mommynya, jadi mereka hanya tinggal masuk saja. Lina mengetuk pintu lebih dulu, baru kemudian mereka semua masuk.
"Kakak...!" teriak triple A, Ram segera memberi kode jari telunjuknya dibibir. Triple A segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Cahaya tertawa melihat tingkah adik iparnya itu.
"Mana ponakanku bang?" tanya Lina, Ram menunjuk ke box bayi. Triple A pun mendekat.
"Kok mereka tidak membuka matanya?" tanya Lica.
"Mereka sedang tidur, tadi baru habis meny*su," jawab Cahaya. Triple A menoel noel pipi baby Al itu.
"Siapa namanya kak?" tanya Lina pada Cahaya.
"Yang sulung Aldebaran dan adik Aleta Quenbi Elvina," jawab Cahaya.
"Wah nama yang bagus kak," kata Lina.
"Boleh gendong gak?" tanya Lica.
"Emang kamu bisa? Lihat masih kecil gitu," tanya Lita. Cahaya tersenyum.
"Boleh, tapi hati hati ya," pesan Cahaya. Ram hendak melarang tapi melihat tatapan mata istrinya jadi ia urungkan.
Dengan hati hati Lica mengangkat tubuh kecil baby Aleta. Dan Lina mengambil baby Aldebaran.
"Tampan banget sih, kecil kecil sudah terlihat tampan," ucap Lina.
"Siapa dulu ayahnya," jawab Ram sambil menepuk dadanya sendiri.
"Narsis...!" ucap mereka serentak. Sedangkan Johan dan teman temannya hanya memperhatikan, begitu juga dengan Ethan, Felix dan Gibran. mereka tidak mengerti cara menggendong bayi.
.
Maaf nih ya, untuk beberapa bab masih membahas tentang mereka dirumah sakit.
.
.
__ADS_1
.