
.
.
.
Cahaya masuk lagi kedalam restoran dan mencari toilet, pelayan restoran yang ramah menunjukkan pada Cahaya. Cahaya segera masuk kedalam toilet. Sementara diluar restoran mereka masih menunggu Cahaya.
"Sadis juga ya Cahaya kalau lagi dapet," ucap Nadine.
"Memang begitu, dulu sewaktu sekolah SMA pas Cahaya lagi mau dapet ada cowok ganggu dia, terus dihajar tuh cowok sampai bonyok mukanya. Kalau tidak ia tidak akan puas," ucap Adira menceritakan masa lalu Cahaya.
"Sampai segitunya?" tanya Ram menyela. Adira mengangguk.
"Aku lupa kalau dia lagi mau dapet. Pantas saja sikapnya begitu aneh. Sudah lama dia tidak seperti itu sekarang seperti kambuh lagi," jawab Adira panjang lebar.
"Apa yang kambuh?" tanya Cahaya yang baru keluar dari restoran.
"Gak apa-apa, itu cewek tadi jangan sampai kambuh," jawab Adira mengalihkan pembicaraan.
"Gak nyangka ternyata kamu lebih bar bar dari kita," ucap Aisyah.
"Cewek itu bikin darah tinggi," jawab Cahaya.
"Ya udah yuk pulang," ajak Prita.
Prita meskipun sekarang dia sudah jadi penyanyi terkenal tapi dia tetap hidup sederhana. Raffa tidak jadi merenovasi rumah Prita tapi Raffa membelikan mereka rumah yang tidak jauh dari sekolah adiknya. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil berlantai dua dan berhalaman luas, sehingga bisa untuk berkebun dibelakang rumah tersebut.
"Mari pulang," ajak Cahaya pada Ram.
"Kita ke dokter ya," titah Ram.
"Gak perlu, sekarang udah baikan kok," jawab Cahaya.
Cahaya dan Ram pulang lebih dulu, tinggal mereka yang ada disitu dan para pria tidak bisa ngomong apa-apa lagi, mereka baru tahu kalau wanita lagi pms bisa nyeremin seperti itu.
"Aku baru tahu kalau wanita datang bulan seperti itu?" tanya Ray pada Nadine.
"Kalau tidak bisa mengendalikan emosi terkadang memang seperti itu," jawab Nadine.
"Kalau kamu yank gimana?" tanya Ray.
"Tergantung, ada kalanya ingin marah marah, ada kalanya pengen makan terus, dan yang lebih sering rasa nyeri saat mau datang bulan itu." ucap Nadine. Ray manggut-manggut saja.
"Masuklah, kita pulang sekarang," perintah Ray. Nadine pun masuk kedalam mobil.
Akhirnya mereka semua pun pulang. Raffa mengantarkan Prita kerumah baru mereka, jauh dari akun gosip para tetangga. Karena memang itu yang Raffa inginkan. Agar keluarga Prita tidak lagi terkena gosip miring.
...****************...
__ADS_1
Waktu terus berlalu, hingga tidak terasa besok adalah hari pertunangan mereka. Diva sudah mempersiapkan semuanya untuk besok. Mereka memutuskan acara berlangsung di mansion saja.
Triple A juga sudah selesai ujian nasional, dan perusahaan Roger sudah kembali seperti semula. Sedangkan Zeline sudah tidak memiliki teman. Temannya yang dulu kini menjauh saat ia miskin. Tapi kini setelah semuanya kembali, teman temannya kembali mendekat, tapi Zeline sudah terlanjur kecewa dengan sikap temannya memutuskan lebih baik tidak punya teman.
"Mommy sibuk?" tanya Lica bergelayut manja pada Diva.
"Tidak juga, Mommy hanya sedikit membantu bibik," jawab Diva.
"Kapan Abang menikah Mom?" tanyanya lagi.
"Lamaran aja belum, sudah bertanya kapan nikah?" Diva.
"Mommy, bisa gak kalau kami masuk SMA langsung ke kelas 12?" tanya Lina.
"Kalian mau langsung masuk ke kelas 12?" tanya Diva, lalu ketiganya mengangguk.
"Kalian tanya Daddy, dulu Abang Abang kalian juga begitu," jawab Diva.
Didalam kamar...
"Kok aku deg degan menanti besok," ucap Ram.
"Tumben banget, biasanya kamu yang paling berani diantara kita kalau soal beginian," kata Ren.
"Entahlah, kali ini rasanya beda," kata Ram lagi. Karena mereka sedang berkumpul dikamar Ray jadi mereka bisa saling berbagi cerita.
"Iya nih, aku juga gak apa-apa," jawab Rakha.
"Mungkin hanya aku saja yang seperti itu," kata Ram.
"Sudah tenang saja, besok kita bakalan resmi bertunangan," ucap Roy.
Tok..
Tok...
Tok...
Pintu kamar mereka diketuk, Ram membukakan pintu. Ternyata triple A yang datang dan langsung masuk.
"Abang dulu gimana waktu masuk SMA kok bisa langsung diterima dikelas 12?" tanya Lina.
"Semua berkat kepintaran kami, dan juga koneksi Daddy tentunya, kenapa?" tanya Ram
"Jangan bilang kalian mau langsung ke kelas 12..!" kata Ren, dan triple A mengangguk.
"Kalau kalian bisa menyelesaikan jawaban yang diberikan oleh guru, dari kelas 10 dan kelas 11 sekaligus, kalian bisa langsung masuk ke kelas 12," ucap Roy.
"Nanti yang kalian jawab soalan ujian kelas 10 dan 11." ucap Raffa.
__ADS_1
"Kalau itu mah gampang," jawab triple A serentak.
"Abang tau kalian juga jenius, hacker yang membobol perusahaan xxxx itu kalian kan?" tanya Ray. Triple A mengangguk.
"Hati hati dek, terlalu jenius juga bisa berbahaya," pesan Ram.
"Iya bang, kami tahu kok. Dan kami bisa jaga diri," ucap Lina.
"Kalian harus bisa menciptakan senjata yang tidak bisa dideteksi saat didalam pesawat nanti, itu penting karena Abang yakin kalian pasti akan bepergian keluar negeri," Rakha.
"Nanti perusahaan Daddy dan Mommy kalian yang handle, Mommy dan Daddy biarkan istirahat dimasa tua mereka," ucap Rasya.
"Kok kami sih bang?" tanya Lica.
"Siapa lagi kalau bukan kalian? kami sudah mengurus perusahaan masing-masing," jawab Raffa.
"Tapi kami masih kecil bang, mana mungkin bisa?" tanya Lita.
"Nanti tunggu kalian besar, sekarang sekolah yang benar, setelah itu lanjut kuliah jangan dulu pacaran," ucap Ram.
"Ihh, siapa juga yang pacaran?" tanya Lina sambil mencebikkan bibirnya.
"Kalian cantik, pasti ramai nanti pria yang tertarik dengan kalian," ucap Ren.
"Tenang saja, kami bisa jaga diri baik-baik," ucap triple A serentak.
"Ingat ya..!" pesan Ray. ketiganya mengangguk.
"Tenang, kami tidak akan pacaran sebelum lulus kuliah," ucap Lina.
"Bagus, sekarang kalian semua keluar aku ingin istirahat," ucap Ray mengusir saudaranya.
Mereka pun keluar dari kamar Ray dengan terpaksa. Sikembar kembali kekamar mereka masing-masing sedangkan triple A juga kekamar mereka.
Ram masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ia berbaring terlentang dengan tangan direntangkan keatas kepalanya.
"Ah gak nyangka banget kalau bakal nikah diusia muda," gumam Ram sambil membayangkan kalau nanti ia menikah. Ram sudah membangun rumah impian untuk mereka tinggal nanti. Rencananya setelah menikah Ram akan tinggal dirumah itu bersama istrinya dan ibu mertuanya. karena tidak mungkin ia meninggalkan ibu mertuanya untuk tinggal sendiri.
Sedangkan Ren juga berbaring diatas ranjang miliknya. Matanya menatap langit langit kamar.
"Sebentar lagi aku bakal menikah, semoga pernikahan kami nanti akan bahagia sampai maut memisahkan," gumam Ren. Ren juga sudah membangun rumah untuk keluarga kecilnya nanti. Setelah menikah nanti ia juga mau mandiri, tapi tidak jauh juga dari orang tuanya.
"Gak nyangka, ternyata jodohku sudah kutemukan," gumam Ren sambil tersenyum membayangkan wajah pujaan hatinya.
.
.
.
__ADS_1