
.
.
.
Semua penjahat sudah tumbang, Darmendra hanya geleng-geleng kepala melihat ke bar baran istrinya. Meskipun sudah berumur kepala 4 tapi masih tetap energik kalau soal berkelahi.
"Memang tidak salah aku memilihnya untuk menjadi pendamping hidupku," batin Darmendra.
Diva kemudian menepuk nepuk tangannya seolah olah menepis debu yang menempel ditangannya.
"Mommy keren," ucap triple A serentak sambil mengacungkan dua jempol jari tangannya kearah Diva. Diva hanya tersenyum.
"Ayo semua, sudah beres tuh penjahatnya," teriak Darmendra. Diva dan triple A mendekat kearah Darmendra.
"Sebentar Dad, masih ada satu lalat yang hinggap," ucap Lina. Darmendra mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Kemudian Lina mengeluarkan eyeliner dari sakunya.
"Eyeliner?" tanya Diva dan Darmendra serentak.
"Kenapa?" tanya Lina balik.
"Kalian masih kecil sudah bawa eyeliner kemana mana?" tanya Darmendra.
"Look at me, Dad," ucap Lina lalu mengarahkan eyeliner tersebut kearah Titi yang sedang mengintip tadi, karena ia tidak berani untuk keluar.
Syuut... jarum dari eyeliner tersebut melesak tepat mengenai sasaran, jarum itu tertancap didahi Titi dan..
"Aakh," terdengar suara jeritan dari celah bunga yang sengaja ditanam diarea mall tersebut.
Bruuk... terdengar suara bunyi benda jatuh. Diva dan Darmendra melongo melihat kearah suara tersebut dan ternyata pelayan tadi yang ada di toko pakaian.
"Kenapa dia ada disitu?" tanya Darmendra.
"Ini semua teman temannya wanita itu," ucap Lica sambil menunjuk preman yang masih tergeletak diaspal.
Tidak berapa lama penjaga keamanan pun datang. Mereka mendapati pada preman itu sudah tidak berdaya.
"Pak urus mereka, laporkan ke polisi biar mereka masuk penjara, dan satu orang lagi ada disana," ucap Lina sambil menunjuk kearah wanita itu yang sudah pingsan karena jarum dari eyeliner milik Lina.
"Baik tuan nyonya dan nona," ucap sekuriti tersebut.
Vera dan Jordan hanya duduk santai didalam mobil menunggu urusan mereka selesai.
__ADS_1
"Sekarang kita ke panti," ajak Lina. Darmendra pun menurut saja. Tidak mungkin ia melarang anak anaknya untuk berbuat kebaikan. Darmendra yang dulu dengan sekarang sangat jauh berbeda. Semenjak kehadiran Diva dan sikembar membawa Darmendra dan keluarganya berubah 180 derajat. Dulu keluarga Henderson memang baik, tapi sekarang semakin baik dan lebih peduli pada sesama. Sifat rendah hati yang terdapat pada sikembar menjalar ke Darmendra dan kedua orang tuanya.
"Mari berangkat," ajak Darmendra. Kemudian mereka pun masuk kedalam mobil.
"Apakah itu senjata buatan Abang kalian?" tanya Diva saat mereka sudah diperjalanan. Triple A menggeleng.
"Lalu?" tanyanya lagi.
"Ini buatan kami sendiri Mom, kami menciptakan senjata untuk melindungi diri sendiri. walaupun kami pandai karate dan taekwondo tapi itu hanya melindungi dasarnya saja." ucap Lina.
"Dengan adanya senjata ini, kami bisa mengalahkan musuh dengan lebih mudah," ucap Lita menimpali.
"Ya, Mommy lupa, kalian bisa saja 11, 12 dengan Abang kalian," ucap Diva. Triple A hanya tersenyum.
Setibanya di panti asuhan, mereka semua pun turun. Anak anak panti dengan gembira menyambut kedatangan mereka. melihat keluarga terpandang datang, ibu panti segera menyambutnya. karena mereka donatur tetap di panti asuhan ini.
"Selamat datang tuan nyonya," sapa ibu panti.
"Terimakasih Bu," jawab Diva.
Anak anak panti sudah berkumpul melihat triple A membawa bingkisan. Dan langsung memberikan kepada anak anak tersebut.
Pakaian berbagai jenis dan size berbeda mengikut ukuran badan dan umur mereka.
"Jangan rebut rebutan ya, semua kebagian kok," ucap triple A serentak.
Anak anak panti yang seangkatan sikembar dulu sudah bersekolah ditempat lain. Mereka sudah hidup mandiri dan bekerja untuk kebutuhan mereka.
Darmendra memberikan amplop berisi uang kepada ibu panti, seperti biasa setiap kali mereka berkunjung. Ibu panti sangat terharu dengan semua kebaikan keluarga itu, berkat bantuan dari mereka panti asuhan ini menjadi lebih baik.
"Kalau begitu kami permisi Bu," ucap Darmendra. Diva Vera dan Jordan tersenyum.
"Sekali lagi terimakasih tuan dan nyonya. Berkat bantuan dari kalian, hidup anak anak yang ada di panti ini menjadi lebih baik. Bahkan ada yang sudah sekolah diluar.
Mereka serentak mengangguk. Dan masuk kedalam mobil, sebelum itu mereka pamit kepada anak anak, dan dengan sopan anak anak panti menyalami mereka dengan mencium tangan mereka.
"Kemana lagi?" tanya Darmendra saat mereka sudah berada didalam mobil, mobil kemudian bergerak perlahan meninggalkan panti asuhan tersebut.
"Kita pulang," ucap Diva sambil melirik kearah triple A, tapi triple A tidak ada respon atau penolakan berarti mereka setuju untuk pulang.
"Dad, boleh minta tolong gak?" tanya Lina.
"Katakan apa yang harus Daddy lakukan?" tanya Darmendra balik.
__ADS_1
"Nanti kami masuk SMA inginnya langsung ke kelas 12, sebab kami ingin cepat cepat kuliah," ucap Lina.
"Nanti Daddy yang urus, tapi harus mengandalkan kepintaran kalian juga, kalau tidak nanti Daddy dibilang semena mena karena punya kuasa." ucap Darmendra.
"Itu sudah pasti Dad, Daddy meragukan kemampuan kami? Anak Daddy yang jenius ini?" tanya sikembar serentak. Darmendra tidak bisa berkutik lagi.
"Kalian persis seperti Abang kalian, Daddy sangat bangga dengan kalian." ucap Darmendra.
"Bagaimana? Capek gak?" tanya Vera sambil mengelus rambut panjang Lina.
"Capek sih, tapi suka," jawab Lina enteng.
"Oma sama Opa pasti capek juga kan?" tanya Lica.
"Seperti kalian, capek tapi suka," jawab Vera dan Jordan bersamaan.
"Apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Diva.
"Kami pengennya buka usaha dan bisnis sendiri, tapi Abang melarang. katanya biar nanti kami yang akan menggantikan Daddy dan Mommy mengurus perusahaan," jawab Lina.
"Abang kalian memang benar, siapa lagi yang akan menggantikan Daddy dan Mommy, Daddy dan Mommy bakalan tua dan tidak akan mampu lagi mengurus perusahaan." kata Diva.
"Sebab itu kami ingin cepat kuliah, biar nanti bisa memimpin perusahaan," jawab Lita. Darmendra dan Diva tersenyum, begitu juga dengan Vera dan Jordan.
Mereka sangat bangga memiliki cucu yang mandiri dan pengertian serta punya attitude yang baik.
Mungkin anak orang kaya diluar sana banyak yang hanya mengandalkan harta dan kekuasaan orang tuanya tanpa memikirkan kedepannya seperti apa?
"Aku bahagia Dad, diusia senja kita ditemani anak dan cucu kita," ucap Vera sambil memeluk suaminya.
"Iya Mom, aku juga bahagia. Aku tidak pernah menyangka akan bisa seperti ini," kata Jordan membalas pelukan istrinya. Keduanya larut dalam keharuan masing-masing.
Diva menghapus air matanya dan itu terlihat oleh Darmendra.
"Kenapa hmmm?" tanya Darmendra.
"Aku bahagia, ternyata kehadiran kami bisa membawa dampak baik," ucap Diva.
"Pastinya, karena kalian adalah harta yang paling berharga untuk keluarga kami," ucap Darmendra sambil mengelus rambut panjang Diva.
"Kalau Mona masih hidup, aku tidak tahu apakah aku bisa sebahagia seperti sekarang ini?" Batin Darmendra.
.
__ADS_1
.
.