Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Jangan ingat masa lalu.


__ADS_3

.


.


.


Malam hari...


Dikamar dua sejoli yaitu Raffa dan Prita sedang duduk di balkon kamar hotel, setelah selesai makan malam tadi mereka langsung masuk kedalam kamar. Mereka ingin menikmati masa masa indah berdua bersama didalam kamar.


"Sayang...!" panggil Raffa, Prita pun menoleh dan keduanya saling bertatapan.


"Hmmm, ada apa sayang?" tanya Prita.


"Masuk yuk! Disini dingin," ajak Raffa, Prita hanya menurut saja. Memang benar cuaca dimalam hari ini terasa dingin.


Saat sudah didalam Raffa memeluk tubuh Prita dari belakang tidak lupa Raffa menutup pintu balkon kamar mereka.


"Aku menginginkanmu sayang," kata Raffa sambil berbisik, hembusan nafasnya menyentuh daun telinga Prita membuat Prita merinding, bukan karena ada mahluk halus yang tidak kasat mata. Tapi karena hembusan nafas itu membuat Prita merinding karena seperti ada sesuatu yang menjalar disana. Sesuatu yang belum pernah Prita rasakan saat berdekatan dengan lawan jenis. Prita pernah pacaran tapi tidak sedekat ini, tidak pernah bersentuhan fisik. Karena Prita masih menjaga harga dirinya.


Tapi sayangnya hubungan mereka kandas karena sang kekasih lebih menuruti perintah mamanya yang tidak merestui hubungan mereka karena faktor ekonomi dan sosial. Prita yang hanya dari keluarga bawah dan hanya bekerja sebagai pelayan restoran dan penyanyi cafe tentunya mendapat hinaan habis habisan dari orang tua kekasihnya itu.


Dan akhirnya Prita hanya pasrah saat ia dihina dan dikatakan wanita tidak benar hanya karena penyanyi di cafe.


"Kenapa melamun hmmm?" tanya Raffa saat menyadari bahwa Prita sedang melamun.


"Ah maaf, aku belum cerita sama kamu, sayang," jawab Prita.


"Cerita apa? kalau hanya cerita masa lalu yang menyakitkan hatimu, aku tidak mau dengar," tanya dan jawab Raffa sekaligus.


"Jadi, sayang sudah tahu?" tanya Prita.


"Hmmm," jawab Raffa mengangguk.


"Sebelum aku menyatakan cinta dan mengenalkan mu pada keluargaku, aku sudah mencari tahu dulu informasi tentangmu. Kamu lupa siapa suamimu ini sayang?" tanya Raffa dengan narsis.


"Ah iya, aku lupa suamiku adalah Raffa Henderson yang jenius sedunia." ucap Prita. Raffa tersenyum mendengar pujian dari istrinya.


"Kita naik gunung yuk," ajak Raffa.


"Hah...!" Prita tercengang diajak naik gunung, ia berpikir naik gunung benaran.


"Ngapain naik gunung malam malam?" tanya Prita.

__ADS_1


"Naik gunung ini," jawab Raffa sambil m*r*mas, P*y*d*r* Prita. Prita seketika malu, tapi tidak menepis tangan nakal suaminya.


Perlahan tapi pasti tangan itu berpindah pindah tempat, dari gunung terus kejurang serta hutan belantara. Prita melenguh, dan sudah berkabut g*i**h.


"Sayang...!" suara Prita tertahan.


"Hmmm, ada apa?" tanya Raffa.


"Ak..aku...!" Prita tidak dapat meneruskan ucapannya.


"Kenapa hmmm," tanya Raffa, Prita menggeleng, lalu ia berbalik memeluk tubuh Raffa dari depan. Perlahan Prita menc*um bibir Raffa. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Raffa.


Raffa mengangkat tubuh Prita keatas tempat tidur, dan membaringkannya dengan perlahan.


"Apa kamu siap, sayang?" tanya Raffa. Prita mengangguk. Tanpa menunggu jawaban yang kedua kalinya Raffa sudah beraksi untuk melakukan pendakian. Raffa menuntun Prita agar tidak salah jalan sewaktu mereka mendaki. Prita hanya mengikuti saja. Karena yang memimpin pendakian adalah Raffa.


Cukup terjal juga yang harus mereka daki, tapi demi mencapai puncak mereka pantang mundur dan tidak akan menyerah sebelum mencapai puncak. 40 menit waktu berlalu mereka mendaki, tapi untuk kepuncak sepertinya masih cukup jauh, meskipun lelah tapi tidak mereka hiraukan.


"Sebentar lagi kita sampai, sayang," bisik Raffa disela sela pendakiannya. Nafas keduanya pun sudah tidak beraturan lagi, keringat pun sudah membasahi tubuh keduanya.


Raffa mengerang hebat karena keduanya sudah mencapai puncak secara bersamaan. Perasaan lega pun menyelimuti mereka.


"Capek?" tanya Raffa, Prita hanya bisa mengangguk.


Prita hanya pasrah saja, ia tidak boleh menolak. Bagaimana pun mereka sudah sah secara hukum dan agama.


"Apakah kamu bahagia, sayang?" tanya Raffa.


"Sangat, dan aku beruntung bisa dipertemukan denganmu," jawab Prita.


"Sekarang jangan mengingat ingat lagi masa lalu, biarlah ia terkubur menjadi kenangan. Yang terpenting sekarang hidup kita kemasa depan. Aku akan mengangkat derajatmu agar tidak ada lagi orang yang merendahkan dirimu," ucap Raffa. Prita tersenyum.


"Apa sayang ingin membalas mereka yang telah menghinamu?" tanya Raffa.


"Tidak perlu, biarlah mereka dengan kehidupan mereka, dan kita dengan kehidupan kita." jawab Prita.


"Hmmm baiklah, sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Henderson, dan tidak ada seorang pun yang bisa mencela kamu lagi," kata Raffa.


"Terimakasih," ucap Prita.


Sementara dikamar sebelahnya lagi, pertempuran sedang berlangsung. Mereka berlomba lomba untuk menjadi juaranya.


Ya pertempuran itu adalah antara Rakha dan Keyla. karena mendengar saudara saudaranya sudah buka segel, Rakha juga tidak mau kalah.

__ADS_1


"Sayang aku capek," ucap Keyla.


"Tapi kita baru separuh jalan sayang, rugi kalau harus dihentikan," ucap Rakha dengan nafas memburu. Rakha terus saja menunggangi kuda tersebut. Sebentar lagi kita sampai, sayang," kata Rakha. Dan akhirnya mereka pun sampai ke garis finis, Keyla berteriak tertahan karena ia lebih dulu sampai, kemudian disusul oleh Rakha.


"Kamu hebat sayang, bisa sampai lebih dulu." kata Rakha. Keyla hanya terdiam sambil mengatur nafas.


"Kita istirahat dulu ya," ucap Rakha, Keyla pun mengangguk.


Perlahan Rakha menarik selimut menutupi tubuh keduanya. Kemudian Rakha memeluk tubuh Keyla dan Keyla pun membalas pelukan itu.


"Ini pertama kalinya bagiku sayang," kata Rakha.


"Benarkah, tapi sepertinya kamu sudah terlatih?" tanya Keyla.


"Aku hanya mengikuti naluriku sebagai seorang lelaki," jawab Rakha.


"Aku mau mandi," kata Keyla, mendengar Keyla ingin mandi dengan cepat Rakha bangkit untuk mengisi air dalam bathtub, kemudian setelah penuh Rakha memberikan sabun aroma terapi agar lebih nyaman.


Rakha kembali lagi ketempat Keyla dan langsung menggendong Keyla, karena ia yakin Keyla pasti merasa kesakitan.


"Sayang, kita mandi bersama," kata Rakha. Keyla hanya bisa pasrah saja, dia juga tidak bisa menolak.


Akhirnya keduanya pun berendam didalam bathtub. bukan hanya sekedar mandi saja, tapi keduanya juga mendaki. Cukup lama juga mereka melakukan pendakian.


"Sayang sudah ya, aku capek." kata Keyla.


"Kita belum sampai puncak sayang, tanggung nih sebentar lagi sampai," kata Rakha.


Keduanya pun melanjutkan pendakian mereka, satu jam pun berlalu akhirnya keduanya pun sampai kepuncak yang mereka inginkan. kemudian Rakha membawa Keyla ke shower.


Setelah selesai mandi, Rakha kembali mengangkat tubuh Keyla keruang ganti. keduanya berganti pakaian bersama dengan menggunakan piyama saja.


"Kita tidur yuk," ajak Rakha setelah ia selesai mengeringkan rambut Keyla.


keduanya pun berbaring diatas ranjang, Rakha memeluk Keyla dari belakang karena Keyla membelakangi Rakha.


Dan akhirnya keduanya pun tertidur karena kelelahan setelah mendaki. Kebetulan malam pun sudah sangat larut bahkan sudah mendekati pagi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2