Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Ternyata kita punya pacar hebat.


__ADS_3

.


.


.


"Kembalikan uang itu," kata Cahaya kepada preman itu.


preman yang berjumlah tiga orang itu pun menoleh, dan tersenyum mengejek.


"Wah...wah...wah, ada yang menantang kita rupanya, apa sih yang bisa dilakukan cewek? Paling bisanya cuma ngang**ng diatas ranjang," kata preman itu, lalu mereka pun tertawa.


Bruuk... tiba-tiba salah satu terpental kebelakang dan mengenai wajan berisi minyak panas bekas menggoreng ayam, preman itu menjerit kesakitan. Sakit karena ditendang oleh Cahaya dan sakit karena terkena minyak panas. Seketika kulit preman itu melepuh.


"Aaaaaakkh, panas panas panas," preman itu menjerit seperti orang kesetanan.


"Lihat kekuatan perempuan," ucap Cahaya, sambil menunjuk kearah preman itu yang sudah seperti kesetanan.


Beruntung pemilik rumah makan tersebut cepat pergi ketika preman itu lengah. Dan pemilik rumah makan itu menghindar dari preman tersebut ketika 3 cewek itu datang.


"Sekarang giliranku," kata Adira.


"Biar aku saja," ucap Nadine tidak mau kalah.


"Sudah, biar kita hajar sama sama," kata Cahaya.


Ketiga cewek itu menghajar preman itu secara serentak, sempat terjadi perlawanan karena ternyata salah satu dari mereka cukup handal dalam bertarung, tapi ketiga cewek itu bukan hanya cantik pintar ternyata juga jago beladiri.


"Gak nyangka ternyata kita punya pacar hebat," ucap Rasya yang hanya menjadi penonton saja bersama kedua saudaranya.


Sedangkan didapur masih terjadi perkelahian, kini mereka melawan bos preman itu, yang dua sudah KO hanya tinggal satu yang ternyata cukup kuat.


"Kita serang serentak," bisik Nadine, Cahaya dan Adira mengangguk.


Nadine melakukan tendangan tipuan, saat preman itu mengelak Cahaya menendang preman itu, karena preman itu mengelak saat Nadine menendangnya tapi tendangan Cahaya tidak bisa dielakkan oleh preman itu, preman sempat terhuyung karena tendangan dari Cahaya, kemudian disusul oleh tendangan Adira, belum sempat preman bersiap tendangan dari Nadine kembali menghantam preman itu. Preman itu terbentur Kedinding, dengan tanpa hati ketiganya menendang secara bergantian hingga preman itu muntah darah. Setelah itu preman itu tidak sadarkan diri, Cahaya Nadine dan Adira bertos bersama.

__ADS_1


"Kompak banget mereka," kata Ray.


Kemudian ketiganya menghampiri kekasih mereka, dan duduk di bangku mereka tadi.


"Hebat banget kekasihku," puji Ram, Cahaya tersenyum manis.


"Aku tidak menyangka kamu bisa karate sayang," kata Rasya pada Adira, tentu saja wajah Adira menjadi merona dipanggil sayang oleh pujaan hati.


"Bagaimana sayang, apa ada yang terluka?" tanya Ray pada Nadine, Nadine hanya menggeleng.


"Kalian harus bayar kerugian pemilik rumah makan ini," ucap Adira Nadine dan Cahaya serentak, entah sejak kapan mereka bisa jadi kompak begitu.


"Tenang selebihnya biar kami yang urus," kata Ram sambil mengelus rambut panjang Cahaya.


Tidak berapa lama polisi pun datang menangkap preman itu yang masih terkapar dilantai belum sadarkan diri. Polisi menggotong tubuh mereka membawanya kekantor polisi.


Kemudian seorang anak laki-laki sekitar umur 4 atau 5 tahun datang menghampiri mereka, dan disusul pemilik rumah makan serta pelayan dan suaminya.


"Kakak sangat hebat, bisa mengalahkan penjahat," ucap anak itu sambil tersenyum.


"Duh tampan sekali, anak siapa ini?" tanya Cahaya.


"Terimakasih ya Nak sudah menolong kami, biasanya kami cuma bisa pasrah kalau mereka datang meminta uang," ucap pemilik rumah makan ini.


"Sama sama Pak, kebetulan kami juga tidak suka kalau ada kejadian seperti itu," kata Cahaya.


"Neng ini sudah cantik pandai karate lagi," puji istri pemilik rumah makan ini.


"Iya, kami sebagai perempuan harus bisa jaga diri Bu, karena kejahatan sering terjadi kepada perempuan, terutama pel*c*han s*ksu*l. Ucap Nadine.


"Benar, seharusnya memang seperti itu," ucap pemilik rumah makan.


"Pak soal kerusakan dan segala macam biar kami ganti rugi, Bapak dan ibu tenang saja," ucap Ram.


"Tidak usah Nak, Bapak sudah sangat bersyukur ditolong oleh kalian untuk menyingkirkan preman itu," ucap Bapak itu.

__ADS_1


"Sejak kapan preman itu meminta uang?" tanya Rasya.


"Sudah lebih dari setahun yang lalu, mereka hampir setiap hari meminta uang keamanan kepada kami, padahal sebelum mereka datang tempat ini aman aman saja," ucap Bapak itu.


"Ini Pak, uang ganti ruginya, sekaligus bayar makanan yang sudah kami makan," kata Ram sambil menyerahkan amplop tebal yang sudah dipastikan berisi uang banyak.


Bapak itu ragu untuk mengambilnya, tapi karena didesak akhirnya Bapak itupun menerimanya.


"Terimakasih banyak ya Nak, lain kali kalau anak kesini lagi tidak usah bayar makannya," ucap Bapak itu.


"Jangan begitu Pak, Bapak juga buka usaha, bisnis tetap bisnis, kalau menolong ya menolong jangan dicampur adukkan," ucap Ram.


"Ya sudah kalau begitu nanti Bapak kasih diskon untuk kalian yang datang kesini." ucap Bapak itu tersenyum senang karena merasa sudah terbebas dari belenggu preman itu.


Setelah semuanya selesai mereka pun pamit undur diri, dan pemilik rumah makan tersebut berkali kali mengucapkan terimakasih. Setelah kepergian mereka, pemilik rumah makan itu membuka amplop tersebut, dan terbelalak melihat banyak nya uang, seolah kerugian selama setahun lebih telah terbayarkan. Pemilik rumah makan tersebut mengucapkan syukur berkali kali, begitu juga pelayan itu sampai meneteskan airmata karena terharu dengan kebaikan yang sikembar lakukan, ia jadi teringat sewaktu dulu saat dirinya sedang membutuhkan uang tapi siapa sangka ia diberi uang oleh sikembar walau sikembar mengatakan sebagai bonus.


"Ternyata kalian memang tidak berubah, benar benar orang kaya yang dermawan," batin pelayan itu.


"Bu Allah menjawab doa doa kita, dengan mengirimkan malaikat penolong, siapa pun mereka semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya untuk anak anak itu, dan selalu diberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam rumah tangganya kelak," ucap Bapak itu.


"Aamiin," jawab mereka serentak.


"Bu, Abbas juga ingin kuat seperti kakak itu, agar bisa melindungi ibu dan ayah, agar bisa menolong orang lain juga," ucap anak itu yang bernama Abbas, ibunya langsung memeluk tubuh mungil bocah itu.


"Belajar yang rajin ya Nak ya, nanti ibu dan ayah akan masukkan kamu kekelas taekwondo dan karate," ucap pelayan itu.


"Kamu benar benar hebat sayang," kata Ram kepada Cahaya, saat ini mereka masih dalam perjalanan menuju kampus karena mobil Cahaya masih disana.


"Seharusnya begitu, pengalaman mengajarkan kita untuk lebih mandiri, dari kejadian ibu yang sakit aku bertekad untuk menjadi seorang dokter, kemudian dari pengalaman temanku yang dilec*hkan membuat aku bertekad harus bisa melindungi diri sendiri, karena aku tau bantuan tidak akan datang secara instan," ucap Cahaya.


"Hmmm, siapa yang menyangka gadis secantik dan selembut kamu bisa karate?" tanya Ram.


"Cantik dan lembut itu adalah bonus, yang pastinya kejahatan bisa saja terjadi dimana saja, maka dari itu harus ada persiapan, jadi aku dan Adira belajar ilmu bela diri sejak kami dibangku SMP. Dan uang pendaftarannya aku menggunakan uang yang kakak berikan, karena Adira juga tidak punya uang waktu itu jadi aku membantunya membayar uang pendaftaran untuk masuk kelas karate," kata Cahaya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2