
.
.
.
Adam membukakan pintu mobil untuk Aruna, Aruna merasa kikuk karena belum pernah diperlakukan seperti itu. Ada rasa senang, malu bercampur jadi satu. Tak kalah dengan Adam, yang juga merasa grogi.
"Begini nih efek kelamaan jomblo," batin Adam.
"Aaaaa, jantungku deg degan, tolonglah jantung tenangkan dirimu," batin Aruna.
Aruna masuk kedalam mobil kemudian Adam langsung menutup pintunya. Adam mengitari mobil kekursi kemudi.
Sedangkan Ren masih memperhatikan gerak gerik Adam, sebelum Adam benar benar mengantarkan Aruna maka Ren belum beranjak dari tempat itu.
"Sayang lihat apa?" tanya Aisyah.
"Aku ingin memastikan Adam apakah ia benar-benar akan mengantarkan Aruna, sayang," ucap Ren.
"Yang lain sudah pada pulang Sayang, hanya tinggal kita saja," ucap Aisyah.
"Yuk, mereka sudah berangkat," ajak Ren sambil membukakan pintu mobil untuk Aisyah. Aisyah tersenyum diperlakukan seperti itu.
Adam sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Didalam mobil tidak ada yang membuka suara, keduanya terlihat begitu canggung. Aruna menatap kearah kaca mobil melihat lampu lampu jalan. Saat tiba dipersimpangan jalan tiba-tiba mobil Adam tertabrak sesuatu, Adam segera menghentikan mobilnya dan akan turun tapi tangannya dicekal oleh Aruna.
"Jangan turun, mungkin ini hanya jebakan," peringatan Aruna kepada Adam.
"Tapi kita sudah menabrak orang, aku hanya ingin memastikannya saja. Apakah ia terluka parah atau tidak?" tanya Adam.
"Tapi aku takut kamu kenapa napa," ucap Aruna.
"Kamu tunggu saja dimobil, aku turun sebentar dan jangan khawatir aku tidak apa-apa," kata Adam.
Adam turun dari mobil dan menghampiri orang tersebut, saat jarak Adam dengan orang itu semakin dekat, tiba-tiba orang itu bangkit dan menghunuskan pisau. Beruntung Adam punya insting yang kuat sehingga bisa menghindari pisau tersebut.
Kemudian dari arah samping kiri dan kanan keluar beberapa orang berpakaian hitam. Dan berjalan menuju kearah Adam.
"Ternyata apa yang khawatirkan Aruna benar adanya?" Batin Adam.
Aruna yang didalam mobil seketika panik melihat Adam sudah dikepung oleh 8 orang termasuk orang yang Adam tabrak tadi.
"Serahkan mobil dan uangmu," ucap salah satu dari mereka.
"Ternyata kalian perampok," kata Adam sinis.
"Bono, cepat ambil mobilnya dan orang ini biar kami urus," ucap Boni sang bos.
__ADS_1
Bono pun menghampiri mobil tersebut, Aruna dengan cepat mencabut kunci mobil itu dan menyimpannya disaku celananya. Beruntung Aruna memakai celana.
Braak, Aruna membanting kan pintu mobil ke Bono sehingga ia terpental keaspal. Aruna keluar dari mobil lalu menendang Bono yang belum sempat bangun. Tendangan yang bertubi-tubi membuat Bono kualahan dan pingsan ditempat.
Kemudian Aruna berlari dan kemudian bersalto menendang salah satu dari perampok tersebut, hingga satu dari mereka terlempar sekitar 2 meter dari tempatnya berdiri.
Adam sempat melongo melihat aksi Aruna yang bar bar.
"Gi*a nih cewek ternyata jago berkelahi," batin Adam.
Boni juga melongo melihat anak buahnya terlempar. Dan kesempatan ini digunakan Adam untuk menyerang mereka semua.
"Kita lawan sama sama," ucap Aruna dan Adam pun mengangguk.
Keduanya menyerang perampok tersebut, ternyata perampok itu hanya berani menggertak dan mengancam saja, bahkan ilmu beladiri nya pun masih sangat kacau. Dengan begitu mudah keduanya mengalahkan perampok tersebut. Hingga kesemua perampok itu tidak sadarkan diri.
Lalu keduanya tertawa dan bertos ria.
"Kamu hebat," puji Aruna pada Adam, membuat yang dipuji menjadi blushing. Untung suasana remang remang kalau terang entah seperti apa tuh muka Adam.
"Kamu juga, aku gak nyangka kamu bisa karate," ucap Adam.
"Aku belajar karate karena anjuran dari Aisyah, agar tidak mudah diremehkan oleh orang lain," kata Aruna.
"Yuk pulang, nanti semakin larut," ajak Adam. Diam diam Adam semakin mengagumi sosok Aruna yang sudah ditebak. Aruna mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya dan menyerahkan kepada Adam.
"Bisa," jawab Aruna singkat.
"Kamu yang nyetir agar aku tidak perlu lagi bertanya alamat rumahmu," ucap Adam. Kemudian Aruna pun berpindah tempat kekursi kemudi.
Perasaan yang tadinya canggung menjadi hilang dan obrolan mereka menjadi nyambung.
"Haruskah aku berterimakasih kepada perampok itu? Gara gara mereka canggung ku lenyap," batin Adam.
Tidak berapa lama mereka pun tiba dirumah Aruna, Adam turun dari mobil dan Aruna juga turun. Keduanya berbalas senyum.
"Maaf ya gak ngajak mampir, dan terimakasih telah mengantarkan aku," ucap Aruna.
"Iya sama sama, aku langsung pulang ya," ucap Adam.
"Hmmm, hati hati dijalan," kata Aruna sambil melambaikan tangannya, sampai mobil Adam pun menghilang. Barulah Aruna masuk kedalam rumah.
Dari lantai dua ada sepasang suami istri sedang mengintip dari balkon kamar mereka.
"Siapa itu tadi Mas? Tampan banget?" tanya Alena ibunya Aruna.
"Sayang, kamu memuji pria lain? Aku cemburu loh," tanya Harun papanya Aruna.
__ADS_1
"Lebih tampan kamu kok mas, gak ada lawan," ucap Alena sambil mengelus rahang suaminya.
"Mas aku baru lihat Aruna keluar diantar cowok," kata Alena.
"Biar aja lah, sayang. Aruna juga sudah besar yang penting dia bisa jaga diri," ucap Harun.
"Tapi dia anak gadis mas, aku sebagai seorang ibu tetap saja khawatir dengan dia," kata Alena.
"Sudahlah, besok pagi kita tanyakan ke orangnya langsung, sekarang kita buat adek yuk untuk Aruna," goda Harun.
Bugg satu pukulan mendarat sempurna didada bidang Harun, pukulan yang lumayan kuat hingga Harun terbatuk-batuk.
"Makanya jangan ngomong sembarangan, udah tau aku lagi palang merah," gerutu Alena.
"Masih bar bar aja sih, udah mau punya cucu juga," goda Harun lagi, ia begitu suka menggoda istrinya walaupun sering mendapatkan pukulan dan tendangan, tapi itu membuat Harun merasa terhibur. Kemudian ia memeluk istrinya dari belakang.
"Tidur aja yuk," ajak Harun, lalu mengangkat tubuh istrinya ketempat tidur.
Keesokan harinya....
Dimeja makan, Aruna memandang kedua orang tuanya yang menatapnya seperti ingin mengintimidasi. Aruna merasa bahwa orang tuanya mengetahui hal semalam.
"Siapa semalam yang mengantarkan mu pulang, sayang?" tanya Alena lembut.
Uhhukk uhhukk, Aruna yang baru menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya langsung terbatuk-batuk sehingga nasi menyembur keluar dari mulutnya. Alena dengan cepat memberikan air minum kepada Aruna.
"Hanya teman ma," jawab Aruna setelah ia menetralkan dirinya.
"Tampan juga ya, dan sepertinya dia bukan orang sembarangan?" tanya Alena lagi.
"Dia bekerja di S R Properti Corp sebagai asisten ma," jawab Aruna.
"Papa ada bekerjasama dengan perusahaan itu, dan pemiliknya masih sangat muda," ucap Harun menjelaskan.
"Itu calon suami Aisyah Pa," kata Aruna.
"Hah, Aisyah sudah punya calon suami?" tanya Alena dengan nada satu oktaf lebih tinggi.
"Iya, mereka sudah tunangan dan nanti akan diresmikan kembali pertunangan mereka. Mama tau gak? Mereka itu kembar tujuh. Bahkan mereka kembar identik dan sangat sulit dibedakan," kata Aruna.
Harun dan Alena melongo, selama ia bekerjasama dengan perusahaan itu, ia tidak tahu kalau pemilik perusahaan itu kembar.
.
.
.
__ADS_1