Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Hari libur.


__ADS_3

.


.


.


Hari ini sikembar tiga sedang keluar, mereka bermain skater. Sedangkan sikembar tujuh bermain skateboard. Mumpung lagi libur jadi kesempatan ini mereka gunakan untuk bermain.


"Hubby, aku juga mau ikut," rengek Diva.


"Sayang, permainan itu berbahaya kalau jatuh gimana?" tanya Darmendra.


Diva mendekatkan bibirnya ke telinga Darmendra lalu berbisik.


"Nanti malam tidak ada jatah," bisik Diva ditelinga Darmendra. Mata Darmendra seketika melotot.


"Sayang gak boleh gitu, oke oke sekarang ganti baju dan gunakan pengalaman kepala lutut dan siku," ucap Darmendra.


Diva melompat girang seperti anak remaja yang diizinkan orang tuanya ketemu pacarnya. Sekarang mereka sudah siap untuk pergi bermain skater. Darmendra pun tidak mau kalah. Penjaga gerbang melongo melihat majikannya memakai skater. Sampai diluar gerbang mereka pun mulai bermain.


"Sayang, bagaimana kalau kita berlomba?" tanya Diva pada sikembar tiga.


"Oke, siapa takut?" jawab Lina sekaligus bertanya.


"Dad mau lomba gak?" tanya Ram pada Darmendra. Darmendra sedang memakai skateboard.


"Ayo, siapa dulu sampai taman dialah pemenangnya?" teriak Darmendra.


Darmendra berlomba dengan sikembar tujuh menggunakan skateboard sementara Diva berlomba dengan sikembar tiga menggunakan skater.


"Dad siapa yang kalah akan mentraktir semua orang yang ada di taman," teriak Ram.


"Oke, siapa takut?" tanya Darmendra. Darmendra melakukan atraksi untuk mengimbangi sikembar. Meskipun sudah berumur tapi tubuhnya masih tetap fit.


Sedangkan Diva yang berlomba dengan sikembar tiga juga tidak mau kalah. Diva semasa mudanya dulu memang suka bermain skater. Tidak ada yang bisa menandingi Diva sewaktu dulu, sekarang anak anaknya ternyata juga sangat lihai bermain skater.


"Daddy kalah," teriak sikembar serentak.


"Daddy sudah tua tidak kuat lagi bermain skateboard." ucap Darmendra.


Darmendra melihat kearah Diva yang ternyata sangat lihai bermain skater seketika Darmendra tersenyum.


"Daddy harus tepati janji," ucap Ram.


"Baiklah, karena Daddy yang kalah maka Daddy akan mentraktir semua orang yang ada disini." ucap Darmendra.


Diva dan sikembar tiga juga sudah datang ketaman, Diva ternyata lebih unggul dari anak anaknya.


"Ternyata Mommy sangat hebat," puji Lina, membuat Diva tersenyum.


"Sedang apa Daddy kalian disana?" tanya Diva pada sikembar tujuh.

__ADS_1


"Sedang mengumpulkan orang yang akan ditraktir makan, karena Daddy kalah," Ucap Ram tanpa beban.


Darmendra mentraktir semua orang yang ada disini untuk makan, Darmendra memborong semua jualan yang ada disitu, ada bubur ayam ada mie ayam, dan pedagang itu sangat senang seperti mendapatkan jackpot. Begitu pula orang yang ada disitu, mereka mengantri untuk mendapatkan makanan yang mereka mau.


"Daddy memang tidak ada lawan, begitu baik pada orang," ucap Ram seolah mengejek.


"Daddy ikhlas gak?" tanya Ren.


"Ikhlas dong, kita bersedekah harus ikhlas. Hitung hitung dapat meringankan beban orang lain, dan dagangan mereka jadi cepat habis," jawab Darmendra.


Mereka duduk diatas rumput yang ada ditaman itu. Diva mengeluarkan air mineral yang ia bawa, ternyata sikembar tiga juga membawa bekal di tas ransel mereka masing-masing.


"Abang bawa air gak?" tanya Lina.


"Bawa dong, Abang juga bawa tas ransel," jawab Ram.


Diva menyerahkan air kemasan botol pada Darmendra. Dan langsung ditegur setengah. Darmendra memperhatikan orang orang yang sedang ngantri makan bubur ayam dan mie ayam, tanpa sadar Darmendra tersenyum.


"Nanti sore kita kepantai mau gak?" tanya Diva.


"Mau," jawab mereka serentak.


"Abang bawa kakak ipar ya, biar tambah rame," kata Lita.


"Tentu saja, sekalian melihat matahari terbenam." jawab Ren.


"Asyik, Lina mau main pasir," kata Lina.


Triple A begitu antusias mendengar liburan kepantai. Sudah lama mereka tidak kumpul bareng begini.


Diva merasa heran karena tiba-tiba ada seorang wanita memeluk putranya dari belakang. Yang lain tercengang melihat wanita itu.


"Mengapa kau ada disini?" tanya Ray pada wanita itu, ya wanita itu adalah Rosalinda yang begitu terobsesi dengan Ray.


"Aku kesini mencarimu, sudah lama aku mengikutimu," jawab Linda tanpa malu. Diva menatap Linda tidak suka.


"Sebaiknya kamu urus wanita itu," ucap Diva pada Ray.


"Kamu siapa? Kenapa kamu ikut campur? Ini urusanku dengan Ray," tanya Linda pada Diva.


Diva tidak menggubris pertanyaan Linda, membuat Linda menjadi geram.


Linda mengangkat tangannya hendak menampar Diva, tapi dengan gerakan cepat Diva menangkap tangan Linda lalu memelintirnya hingga berbunyi kreek.


"Aakh, sakit..!" teriak Linda.


Diva yang juga geram dengan kelakuan Linda pun kembali memelintir tangannya, sekali lagi Linda menjerit.


"Berani sekali kamu mengangkat tangan untuk menampar pipiku..!" kata Diva.


"Siapa sebenarnya kamu," ucap Linda sambil meringis.

__ADS_1


"Apa perlunya kamu bertanya seperti itu, datang ke negara orang tidak sopan." ucap Diva.


"Sekarang enyah kau dari sini," bentak Ray. Linda terkejut mendengar Ray membentaknya.


"Sebaiknya kita telepon polisi, agar dia dikembalikan ke negara nya," ucap Lina.


Mendengar kata polisi, wajah Linda pucat. Tentu dia takut kalau harus dilaporkan ke polisi. Sekarang Linda terlihat panik, triple A sengaja menakut nakuti Linda.


"Berani berurusan dengan kami?" tanya Lina.


"Untuk apa aku takut, kamu hanya anak kecil," jawab Linda yang masih belum kapok.


Tangannya saja masih terasa sakit sewaktu dipelintir oleh Diva, mungkin tangan itu patah.


"Berani kamu membentak Mommy?" tanya Lita.


"Mom... Mommy? Berarti dia?" tanya Linda.


"Iya, dia Mommy kami. Kau tau? Abangku sebentar lagi akan menikah, jadi lebih baik kamu pergi sebelum kami menghancurkan mu." ancam Lica.


"Ternyata adek lebih kejam dari kita," ucap Ram.


"Aku yakin adek pasti tidak segan segan untuk membu*uh orang," kata Ren.


"Bagaimana kalau kita hab*si saja wanita ini," kata Roy.


"Kebetulan aku sangat membenci dia," ucap Ray.


Linda yang mendengar itu langsung pucat, tubuhnya mulai gemetar, ditambah lagi Lina mengeluarkan jarum suntik yang mengandung cairan.


"Ini adalah cairan pelumpuh yang bisa membuat orang lumpuh untuk selamanya," ucap Lina sambil memainkan alat tersebut.


"Cepat lakukan, biarkan dia mati secara perlahan," kata Ray.


Lina maju bersama saudara saudaranya yang lain, sikembar tujuh juga maju membuat Linda mundur. Kemudian ia berlari meninggalkan tempat itu, tapi belum jauh Linda pergi, Lina menembaknya dengan jarum yang mengandung bius sehingga Linda pingsan ditempat.


Dengan tanpa hati mereka meninggalkan Linda yang masih tergeletak ditanah.


"Sebaiknya kita pulang," kata Diva.


Mereka pun pulang ke mansion dengan memakai skateboard dan skater. Sedangkan Linda diurus oleh polisi yang tadi ditelpon oleh Darmendra.


"Gimana letih gak?" tanya Diva pada triple A.


"Gak kok Mom, malah senang," jawab Lica.


"Mommy mau telepon aunty kalian ingin ngajakin mereka ke pantai." kata Diva.


"Baik Mom, sekarang kita mau mandi dulu," ucap Lina.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2