
.
.
.
Meskipun sudah malam keseruan mereka tetap berlanjut, hingga mereka berencana untuk menginap saja ditepi pantai dan tidur didalam tenda, kebetulan keesokan harinya masih hari libur karena tanggal merah alias libur nasional jadi mereka tidak perlu pergi bekerja.
"Belum pernah kami seperti ini," kata Sofian kepada Darmendra, saat ini mereka sedang berkumpul bersama makan hasil dari yang mereka panggang.
"Semua ini atas ide istri saya Pak, dia yang berinisiatif ingin liburan dengan keluarga besar dengan tujuan bisa mendekatkan diri sebelum kita menjadi keluarga yang sesungguhnya," ucap Darmendra.
Sofian tersenyum, ia menoleh kearah istrinya yang nampak malu malu karena merasa tidak pantas berkumpul dengan orang-orang kaya.
"Pantas saja anaknya begitu baik, ternyata orang tuanya lebih baik baik lagi. Tidak terlihat seperti para orang kaya pada umumnya," batin Sofian.
Maksudnya tidak terlihat seperti orang kaya pada umumnya, kehidupan mereka seperti orang sederhana tidak seperti orang kaya yang sombong. Dan mereka mau bergaul dengan orang-orang kelas bawah. Hal itu menjadikan mereka yang dari kalangan bawah merasa dihargai.
"Bolehkah jangan panggil Pak? Panggil nama saja sepertinya kita tidak jauh beda, maksudku sepertinya kita seumuran," tanya Sofian.
"Hmmm baiklah, panggil saya Darmendra, dan bapak ehh kamu?" tanya Darmendra.
"Saya Sofian, dan ini istri saya Fatimah." jawab Sofian.
Kemudian para suami mereka masing-masing berkumpul sama sama lelaki, dan para istri berkumpul sesama perempuan. Sedangkan sikembar tujuh entah kemana? Yang pasti mereka menjauh dari tempat itu, Adam dan Aruna saling pandang melihat mereka menjauh.
"Mereka kemana?" tanya Aruna pada Adam.
"Entah," jawab Adam sambil mengedikkan bahu.
Keduanya diam dengan pikiran masing-masing, entah apa yang mereka pikirkan pun tidak tahu. Saat keduanya sama sama menoleh tidak sengaja hidung mereka saling bertabrakan membuat keduanya terpaku saling pandang. Meskipun suasana agak gelap tapi tatapan mata mereka bisa saling memandang.
Deg...deg...deg. Jantung keduanya berpacu kencang seperti orang habis berlari dikejar setan.
"Ada apa ini? Kenapa aku bisa deg degan seperti ini?" batin Aruna.
__ADS_1
"Apakah aku sudah jatuh cinta? Mengapa jantungku berdetak lebih cepat saat didekatnya?" Batin Adam.
"Aku kesana dulu ya," ucap Aruna ingin menghindar dari Adam karena jantungnya merasa tidak aman, tapi saat Aruna bangkit tangannya ditarik oleh Adam. Karena Aruna tidak dapat mengimbangi tubuhnya akhirnya Aruna terjatuh dan tepat menimpa Adam sehingga bibir mereka saling bertemu.
Sekali lagi mereka terdiam dan saling bertatap mata tapi bibir keduanya masih menempel satu sama lain.
Perlahan Adam m*l*m*t bibir tersebut dan anehnya Aruna diam saja tanpa membalas. Merasa tidak ada penolakan Adam semakin berani terus melah*p bibir merah itu. Hingga nafas Aruna tersengal sengal karena sejak tadi ia menahan nafas. Aruna pun melepaskan diri dan keduanya kembali canggung.
"Maaf" ucap Adam. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Aruna hanya terdiam karena ia masih terasa sangat malu.
"Aku mencintaimu," ucap Adam to the point. Aruna tergamam seketika, ucapan yang menurutnya sakral itu ia dengar dari mulut Adam.
"Apakah kamu serius? Karena aku tidak suka dipermainkan," tanya Aruna.
"Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku sangat yakin kalau aku mencintaimu." ucap Adam.
"Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Aruna.
"Aku tidak pernah merasakan detak jantung berdebar saat bersama orang lain, tapi bila bersamamu jantungku berdebar." jawab Adam jujur.
"Saya benar benar kagum dengan anda tuan Darmendra, anda bisa mendidik anak-anak dengan baik," ucap Harun.
"Semua berkat istri saya tuan Harun, dia yang berperan penting dalam hal ini. Sehingga anak anak saya menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Darmendra.
Memang benar semua itu adalah berkat Diva yang berperan penting sebagai seorang ibu. Meskipun ibu sambung tapi kasih sayangnya melebihi ibu kandung. Dapatkah kita membayangkan seorang gadis remaja harus mengurus bayi kembar tujuh? kalau satu tidak heran, tapi ini tujuh sekaligus.
"Istri anda benar benar wanita yang hebat tuan," puji Harun, Darmendra hanya tersenyum.
Setelah itu mereka pun masuk ke tenda masing-masing. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 00:45. Mereka akan tertidur untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Wanita tidur sesama wanita dan yang pria sesama pria.
Pagi hari...
Matahari mulai mengintip dari ufuk timur, menampakkan kecerahan cahayanya. Beberapa orang sudah mulai berkemas, karena mereka akan pulang pagi ini. Mereka tidak mandi tapi hanya mencuci muka saja. Mereka sepakat akan singgah di restoran dulu untuk sarapan pagi. Darmendra mencari restoran yang menyediakan sarapan pagi di internet.
"Nanti kita sarapan dulu disebuah restoran, saya sudah menemukan restoran yang menyediakan sarapan pagi." ucap Darmendra dan semuanya pun setuju.
__ADS_1
Setelah selesai berkemas, mereka pun masuk kedalam mobil masing-masing dan mulai bergerak untuk kembali pulang. Iring iringan mobil menarik perhatian pengendara lain dan heran melihat banyaknya mobil. Sekitar kurang lebih satu jam mereka pun tiba disebuah restoran yang dimaksud. Mereka pun memarkirkan mobil di tempat parkir khusus. Suasana restoran masih terlihat sepi. Karena masih pagi jadi pengunjung masih belum ada. Mereka semua masuk dan memenuhi kursi yang ada. Manager restoran secara pribadi menyambut mereka, karena melihat orang terkaya datang ke restorannya.
"Suatu kehormatan bagi kami karena kedatangan anda tuan Darmendra Henderson dan tuan Jordan Henderson," ucap manager tersebut.
"Hmmm, iya terimakasih, siapkan menu terbaik di restoran ini," ucap Darmendra.
"Baik tuan, silahkan duduk tuan." ucap manager tersebut sambil membungkuk.
Para koki restoran sudah dipastikan sangat sibuk kali ini. Mana tidak? Yang masuk ke restoran ini seperti orang sekampung.
"Sayang aku mau ke toilet dulu ya," kata Nadine.
"Aku antar ya," ucap Ray.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." kata Nadine. Kemudian Nadine pun pergi ke toilet.
Setelah selesai dari toilet Nadine tidak sengaja melihat Azura, awalnya Nadine ragu untuk menegur karena posisi Azura membelakangi Nadine.
"Azura...!" panggil Nadine pelan, tapi masih bisa didengar oleh Azura sendiri. merasa namanya dipanggil Azura menoleh dan Nadine pun langsung memeluk sahabatnya itu.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap Nadine sambil meleraikan pelukannya. Azura pun mengangguk.
"Iya, kamu apa kabar?" tanya Azura pada Nadine.
"Aku baik, kamu apa kabar? Dan kamu kerja disini?" tanya Nadine.
"Iya, aku harus bekerja untuk biaya hidup orang tuaku dikampung," jawab Azura.
"Kuliahmu?" tanya Nadine lagi. Azura tertunduk sedih membuat Nadine mengerti.
"Ya sudah semangat kerjanya, ini ada sedikit uang untuk keluargamu dikampung," ucap Nadine sambil menyerahkan amplop berisi uang. Awalnya Azura enggan untuk menerimanya, tapi karena desakan Nadine akhirnya ia terima juga.
.
.
__ADS_1
.